HEY JANTUNG, ADA APA DENGANMU???

28 6 3
                                    

Masih terbawa suasana pesimis kemarin, hari ini aku tidak begitu konsentrasi menerima ilmu dari pak Muhammad. Suaranya saat memberitahu kami cara mengcopy animasi bergerak dari gugel dan memakainya di powerpoint berlalu begitu saja, masuk telinga kanan, keluar telinga kanan lagi, alias membaaaaal.

Pandanganku memang mengarah pada pak Muhammad, tapi isinya kosong melompong melempep seperti kerupuk masuk angin.

"Gampang kan?? Nah coba slide kalian yang kemarin ditambah animasi bergerak seperti yang baru saja saya ajarkan, nanti selesai saya masuk kelas akan saya periksa hasilnya dan berikan penilaian, saya masuk kelas dulu ya...  Pak Oslan titip anak-anak yaaa" ujar pak Muhammad yang disahut dengan acungan jempol pak Oslan.

Ternyata penilaian sudah berlangsung sejak kami dikarantina, dan tentu saja Afi mulai merasa aku ini rivalnya, sehingga ia langsung menjauh, pindah tempat duduk ke meja pak Muhammad.

Ya sudahlah, itu kan hak Afi mau duduk dimana. Aku membuka file powerpointku, terdiam sambil mencoba mengingat-ingat cara yang diajarkan pak Muhammad tadi. Langkah pertama apa tadii yaaa??  Mau nangis aku rasanya, menyesal kenapa aku tidak fokus tadi. Mau bertanya pada Afi? Aku segan, dia saja sudah pindah tempat duduk, bertanya pada pak Oslan? Gak sudiiii....

"Buka gugel dulu yul, ketik animasi bergerak untuk powerpoint" si songong membuka suara, mungkin daritadi dia melihat aku tak bergerak hanya memandang slide powerpointku saja, sehingga merasa iba dan memberitahu aku caranya?? Haaa gak sudi yaa.. Aku gak perlu pertolonganmu songong.

Eh tapi... Suara si songong kenapa terdengar berbeda, lebih lembut dan hangat, beda sekali dengan cara bicaranya di awal pertemuan kami, dan dia barusan menyebut namaku?  "Yul", biasanya juga dia kalau ngomong tidak pernah pakai kata sapaan. Mungkinkah dia melunak setelah kami sering bersama di ruangan ini? Ah entahlah.

Langsung saja ku buka gugel, pasti si songong sedang tersenyum puas karna aku menuruti kata-katanya. Merasa jadi pahlawan gitu??  Ciiih

Sudah lebih dari 5 menit aku berusaha mencari cara mengcopy gambar dari gugel ini, tapi gagal terus, bagaimana sih caranya? Tanya pak Oslan?? Mualees. Alhasil aku hanya bisa menggerutu sambil mengeser acak mouse di tanganku "aaarrghhh kok gak bisa sih???"

"Apanya yang gak bisa yul?" ujar suara yang terdengar dari atas kepalaku, saat aku mendongakkan kepalaku ke atas, wajahku bertemu dengan wajah pak Oslan yang ternyata sudah berdiri tepat di belakangku dan tangannya sudah memegang mouse yang sedang aku pegang, sontak saja aku langsung menarik tanganku dan memalingkan wajahku dari tatapan matanya yang teduh, aduuuuuh......

dug dug dug
hey jantung ada apa denganmu?? Kenapa engkau berdetak begitu kencang??
"Diaaa adaalah" suara itu datang lagi... Aku mencoba fokus mendengarkan apa sih yang ingin disampaikan suara itu
"Dia adalah joo... "
Tik tik tik suara petikan jari pak Oslan membuyarkan fokusku dan melenyapkan suara tadi... Aduh apa sih? Sedikit lagi... Dia apa?? Dia adalah Josua?? Pak Oslan adalah Josua yang sedang menyamar gitu??

"Hey Yul... Kok bengong lagi, jangan-jangan daritadi saya jelasin Yuli gak dengerin yaa?? Nanti gak bisa ngamuk lagi, tadi mouse yang diacak-acak, nanti apa?? Ruangan ini Yulia jungkirbalikkan?? " ujar pak Oslan kembali.

"Iya pak maaf" sahutku.
Kembali aku berkonsentrasi mendengarkan penjelasan pak Oslan, aku mendengarkan penjelasannya dengan tidak tenang, jantungku terus berdetak kencang dan semakin cepat, posisi kami sekarang membuatku tidak nyaman, aku duduk di depan laptop dan pak Oslan berdiri di belakangku, kepalanya tepat berada di atas kepalaku, suaranya terdengar begitu jelas, sesekali ia menoleh ke bawah melihat ke arah wajahku dan bertanya "paham?"

Yang membuatku semakin tidak nyaman adalah posisi tangannya, tangan kirinya memegang ujung meja melewati bahu kiriku dan pergerakannya sesekali mengenai bahuku. Sementara tangan kanannya memegang mouse dan melewati bahu kananku, posisiku persis seperti orang yang akan diterkam dari belakang. Daaan suara jantung ini, seakan-akan seluruh warga kota Langsa bisa mendengarkannya. Begitu kencang dan cepat.

Ada apa denganku?? Ada apa dengan jantungku?? Apakah aku menderita sakit jantung?

Setelah selesai menjelaskan, pak Oslan kembali ke posisinya. Namun bayangan saat wajah kami bertemu menjadi sangat dekat, dan tangan kami yang tak sengaja bersentuhan di atas mouse, seolah-olah seperti film yang sedang diputar di layar laptopku. Bayangan ini membuat jantungku semakin berdebar-debar. Apa ini?? Perasaaan apa ini?? Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

Apakah ucapan guruku di ruang multimedia kemarin menjadi kenyataan?? Apakah aku termakan sumpahku sendiri yang menyatakan tidak akan pernah suka sama pak Oslan?? Nyatanya setelah kejadian tadi, aku menjadi salah tingkah, senyum-senyum sendiri, dan jantungku.... Dia semakin berdebar, berdebar, dan terus berdebaaaaaaar... Hey jantung sudahlah, sudah cukup, jangan membuatku kesulitan bernafas.

Taivaan AaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang