Berkorban

590 76 0
                                    

Hoseok berlari sekencangnya.
Menembus rintik hujan pertengahan bulan februari. Tanpa mantel, tanpa boots, tanpa topi. Yang ia tahu saat ini adalah bagaimana agar secepatnya ia sampai di toilet lantai empat gedung sekolahnya.

Ponselnya tak henti bergetar. Seandainya ia sempat membuka, ada puluhan panggilan dan nyaris ratusan pesan tak terbaca.

Semua bertanya, dimana dia, apa yang bisa kami bantu untuk menemukan Namjoon.

Dan dia disini, terengah-engah menaiki satu per satu tangga sekolah.

Namjoon kau harus hidup, kau harus hidup, kau harus hidup, bisiknya terus-menerus pada diri sendiri.

Sesampainya ia di depan toilet lantai empat sekolahnya, ia menendang berulang kali pintu utamanya lalu masuk dengan brutal dan mulai memukul satu-persatu pintu toilet.

"Namjoon-ah!"
"Namjoon-ah!"
"Jawab aku! Kau dimana?!" panggilnya.

Tak ada jawaban, sepi.
Hoseok mulai frustasi.

Lalu terdengar suara air, ada tombol flush di tekan, di toilet paling ujung.

Hoseok berbalik dengan cepat.

"Namjoon-ah!" panggilnya.
Terdengar suara gemeretak dari dalam toilet.
Tanpa ragu Hoseok membuka paksa pintu toilet dengan menendangnya sampai besi penguncinya patah.

Airmatanya pun seketika mengalir.

Dilihatnya Namjoon terduduk di pojok toilet. Wajahnya pucat, kepala dan tangannya bersimbah darah. Kepalanya luka setelah dibenturkan berulang kali ke dinding toilet menahan sakau dan tangannya penuh sayatan benda tajam. Tubuhnya lemah dan ia menangis tanpa suara.

Hoseok sejujurnya ingin berteriak, mengumpat, menyumpahi, dan berkata kasar di depan wajah Namjoon. Tapi semuanya berubah menjadi isakan tangis.

Isakan yang makin lama makin keras, makin menyakitkan dan menyesakkan. Membuatnya sulit bernapas.

"aku mau sembuh..." kata Namjoon lemah sambil menangis.

"Kau pasti sembuh! Harus!" ucap Hoseok, membuka kaos kakinya untuk diikatkan ke sayatan-sayatan di lengan kiri Namjoon agar darahnya berhenti. Lembaran-lembaran tissue toilet ia gulung untuk ditekankan ke kepala Namjoon yang terus berdarah.

Keduanya menangis. Air matanya mengalir deras. Menyesal.

Menyesal bertindak konyol.
Menyesal mengapa tak lebih cepat bertindak.
Menyesal kenapa harus sampai mempertaruhkan hidup dan mati.
Menyesal kenapa setelah selama ini tetap ragu mempercayai satu sama lain.

"bantu aku hidup" bisik Namjoon diantara tangisnya.
Hoseok mengangguk banyak-banyak "ya! Pasti!"

.
.
.
.
.

Hoseok berdiri mematung menghadap pintu ruang tindakan. Matanya sembab, pandangannya kosong seperti orang linglung. Bajunya masih seperti tadi. Tanpa mantel dan tanpa baju yang sewajarnya dipakai saat udara dingin.

Tiba-tiba pintu didepannya itu terbuka. 

"masa kritisnya sudah lewat" kata seseorang di ambang pintu.
"dan steril" lanjutnya lagi, mata Hoseok membesar "HIV negatif" katanya sambil tersenyum.

Perlahan, air mata itu turun lagi. Membasahi pipi yang sudah kaku, hidung yang memerah, dan bibir yang mengering.

Lalu tangisan itupun menjadi dan ia jatuh tersungkur.

Bersyukur, Namjoon berhasil hidup.
Bersyukur, mereka masih diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.

Bersyukur, karena ia diselamatkan dari kemungkinan terburuk.
Hidup tanpa Namjoon.

Seseorang itu berjalan mendekati Hoseok dan memakaikan mantel ke bahunya.
"bantu dia kembali, bantu dia lepas dari obat-obat itu" katanya sambil tersenyum.

Hoseok mengangguk cepat sambil sesenggukan.

Ya, pasti, ini janjiku, membersamainya melewati pahit getir masa muda kami.
Kata Hoseok dalam hati.

Dan janji itu ia pegang.
Sampai masa muda mereka berhasil terlewati, sampai kini, dan sampai nanti.

My Other Half Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang