LOVE
Pagi kesayangan
Hari ini udah MOS, akhirnya!
Cuci mata ya?
Bukan
Apa?
Lupakan.
Gua buatin sandwich.
See you. I love you
Mezian memelototi ponselnya dengan gemas. Pisau di tangan yang digunakan untuk memotong pinggiran roti lapis sudah diletakkan. Kakinya mengetuk lantai berirama, menghitung. Satu menit ... dua menit ... lima menit ... tak ada balasan. Perempuan itu sungguh tak membalas pesannya?
"Mas, kok sarapannya cuma roti?" protes seorang gadis yang tingginya belum mencapai dada Mezian. Ia sudah menarik kursi di depan meja makan kecil yang hanya muat untuk dua orang, mendaratkan bokong di sana. Tubuhnya masih terbalut baju tidur. Mulut itu sudah dijejali oleh roti lapis yang dipotong menjadi empat bagian.
"Nanti minta sarapan ke rumah tante atau nenek aja. Gue udah telat," jelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang kini sudah digenggam.
"Katanya udah telat, masih sempet pegang hape." Perempuan itu bersungut. "Sukurin! Chat-nya nggak dibales dengan Mbak—"
"Berisik, Mal!" Mezian menimpali cepat, kesal.
Gadis yang baru duduk di sekolah menengah pertama itu ingin membalas lagi. Namun, mulutnya sudah sibuk mengunyah potongan terakhir di piringnya.
Masih tak ada tanda-tanda pesannya akan dibalas, Mezian akhirnya menelepon si pemilik kontak yang diberi nama LOVE tersebut. Satu detik ... dua ... tiga ....
"I love you too. Gue berangkat dulu." Suara di seberang sana menjawab dengan terburu, sedikit berbisik. Bahkan orang yang ditelpon langsung memutuskan panggilan, sama sekali tak memberikan Mezian kesempatan untuk berbicara.
Amalia baru saja menandaskan sarapan roti lapis--yang ternyata tak bisa mengganjal lambungnya yang masih memiliki banyak ruang kosong. Ia memanyunkan bibir, lalu mengerutkan dahi saat melihat Mezian yang mesem-mesem sendiri masih dengan ponsel yang menempel di salah satu telinga.
"Kok mau ya dia sama lo, Mas. Ganteng enggak, pinter enggak, keren enggak, gila iya ...."
Mezian menoleh dengan horor ke arah Amalia. Matanya mendelik. Siap membalas saat gadis itu lebih dulu kabur berlari masuk ke dalam kamar.
Melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda, senyum laki-laki itu kembali merekah. Hatinya menghangat. Paginya menjadi lebih cerah. Empat kata itu berhasil menjadi suplemen penambah semangat. Sambil bersenandung dengan suara yang jauh dari kata merdu, laki-laki itu mulai memasukkan roti lapis ke dalam kotak makan.
"Mas Zian! Berisik! Suara lo jelek!" Amalia berteriak kuat dari kamarnya yang bersisian dengan dapur.
"Suara lo lebih jelek!" Mezian membalas tak kalah kuat.
***
Pembukaan MOS berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Hanya ada beberapa anak baru yang datang terlambat. Bahkan panitia yang juga harusnya datang sejak subuh hanya mendapat teguran. Mezian memilih kalem, biasanya dia bisa mencak-mencak lalu berubah mengerikan. Sepertinya efek empat kata pagi tadi masih terlalu membekas.
Sudah setengah jam yang lalu anak baru masuk ke dalam kelas bersama kakak pendamping masing-masing. Mezian yang sedang berkeliling itu menemukan tiga panitia acara yang sedang berjalan di koridor tiba-tiba berhenti melangkah di depan kelas yang pintunya terbuka. Dia bisa mengenali perempuan yang berdiri di tengah. Linda.
KAMU SEDANG MEMBACA
PUTRI PELANGI (Selesai)
RomanceLinda Putri Pelangi yang bisa merasakan apa yang adik kembarnya rasakan harus berjuang mengalahkan dirinya sendiri saat saudara kembarnya, Lindi Putri Pelangi memaksa untuk menjadi lawan di kompetisi Submit Your Music sebagai vokalis sedangkan ia ti...
Wattpad Original
Ini bab cerita gratis terakhir
