Hawa panas perlahan menyelinap, memenuhi aula sekolah. Peluh mulai bermunculan, menghiasi kening dan tengkuk orang-orang yang sedari tak berhenti bergerak. Kaki-kaki itu sibuk melangkah, memeriksa kembali tak ada satupun perlengkapan yang kurang. Memastikan tiap eskul sudah mengerti apa, bagaimana dan kapan mereka harus naik ke panggung untuk menampilkan pertunjukan.
Matahari di luar sana perlahan beranjak turun dari atas kepala. Linda--yang duduk di kursi deretan depan bersama panitia acara yang lain--mendesah pelan, memeriksa kertas berisi rundown acara. Waktu mereka terbuang banyak hanya untuk persiapan tiap eskul yang berbeda. Estimasi waktu yang sebelumnya sudah mereka tentukan itu melengceng jauh. Sedangkan masih banyak eskul yang belum tampil untuk melakukan gladi.
"Gimana ini, Lin?" Salah satu panitia acara menegur perempuan itu. Menyuarakan kekhawatiran yang sama.
Linda juga sedang berpikir. Mereka harus memangkas jatah waktu pertunjukkan tiap eskul jika tidak ingin berakhir dengan anak baru yang harus pulang malam nanti. Berujung pada teguran dari sekolah karena sudah melewati izin waktu yang diberikan.
"Atau, tiap eskul cuma dikasih jatah waktu pertunjukkan. Nggak pakek cuap-cuap dan perkenalan."
Linda mengangkat kepala, semua panitia acara yang duduk di dekatnya melakukan hal yang sama. Laki-laki itu yang entah datang dari mana sedang menunjukkan deretan giginya dengan wajah jenaka. Duduk di kursi yang posisinya sudah dibalik. Ada beberapa botol air mineral dingin di tangannya yang kemudian diberikan kepada mereka.
"Dan kita bisa minta tolong eskul jurnalis untuk buat katalog eskul!" Linda berseru, sebuah ide lain langsung muncul di kepalanya setelah mendengar pendapat Mezian. Perempuan itu mengulum senyum, lega. Segera beranjak untuk mencari ketua eskul jurnalis saat Mezian justru menahan lengannya.
"Mau ke mana?"
Kelima panitia acara yang sedang meneguk minuman dari laki-laki itu langsung terbatuk. Berdeham kuat dengan tidak wajar. Mezian langsung melepaskan tangannya dengan canggung, sedangkan Linda terlihat cuek, tetap tak peduli.
"Cari Kak Sigit." Perempuan itu menyebutkan nama ketua eskul jurnalis.
"Minum dulu, lo belum istirahat dari tadi. Biar gue yang cari Sigit." Laki-laki itu menyodorkan minuman rasa jeruk miliknya yang sudah tinggal setengah. Berlalu pergi setelah melemparkan senyum dan pamit pada kelima panitia acara lain yang dibalas dengan godaan.
Linda sempat terpaku beberapa saat. Ada perasaan aneh yang menggumpal dan menyumbat dadanya. Tidak. Itu bukan karena panitia acara yang sedang terang-terangan mengatakan kecemburuan dan ketidaksukaan pada sikap Mezian terhadap Linda. Ini pasti—otomatis, kepala perempuan itu langsung berputar. Matanya sibuk menjelajahi tiap sudut aula. Mendapati Indi yang duduk di pinggir panggung dan sedang menatap ke arahnya.
Linda paham. Dari sanalah perasaan aneh itu berasal. Adik kembarnya itu pasti melihat Mezian menarik tangannya tadi.
***
"Bisa, Kak?" Linda baru saja selesai mengutarakan pendapatnya soal katalog eskul pada Sigit yang sedari tadi mendengarkan sambil terus mengangguk sesekali.
"Gue bisa pastiin hari terakhir katalog itu jadi. Asal ... besok seluruh data anggota eskul udah dikasih biar bisa langsung gue layout. Paling nggak pas MOS hari pertama atau kedua udah naik cetak."
Linda mengangguk. Mengerti. "Makasih ya, Kak."
"Gue nggak nyangka lo kepikiran soal bikin katalog, Lin. Nanti gue kabarin ... gue gabung dengan yang lain dulu ya, mau ngerapatin soal ini." Sigit bangkit, berlalu pergi.
Linda kembali mengangguk, ikut berdiri, kembali bergabung dengan panitia acara yang sedang mendelik sinis sambil berbisik. Perempuan itu mengikuti ke mana arah tatapan mereka; di depan, nyaris menyentuh panggung, ada kumpulan murid laki-laki yang rela duduk di ubin tanpa alas. Bahkan Mezian ada di sana bersama Sansy, duduk paling depan, dengan toa di tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PUTRI PELANGI (Selesai)
RomanceLinda Putri Pelangi yang bisa merasakan apa yang adik kembarnya rasakan harus berjuang mengalahkan dirinya sendiri saat saudara kembarnya, Lindi Putri Pelangi memaksa untuk menjadi lawan di kompetisi Submit Your Music sebagai vokalis sedangkan ia ti...
Wattpad Original
Ada 1 bab gratis lagi
