Suara tepuk tangan terdengar riuh di tengah taman yang sudah didekorasi sedemikian rupa untuk pesta. Meja panjang berisi berbagai makanan sudah terhidang di sisi kanan dan kiri taman. Ada kue ulang tahun bertingkat di depan panggung kecil untuk hiburan. Deretan lampu dengan cahaya temaram dipasang saling menyilang di atasnya. Sedangkan para tamu berdiri di tengah, saling bercengkerama ataupun menikmati penampilan sambil memakan hidangan yang ada.
Seorang pria yang hampir menyentuh usia paruh abad itu merapat ke sisi panggung. Merentangkan tangan menyambut Linda dan Indi yang baru saja menyelesaikan penampilan. Tuan rumah acara itu memeluk saudara kembar tersebut penuh rindu. Mencium pipi mereka bergantian selayaknya seorang ayah. Raut wajah bangga terlihat jelas di sana.
"Kok kalian udah tinggi banget? Padahal dulu cuma sepinggang Bapak. Ah, sekarang Bapak nyesel karena nggak punya anak laki-laki kalo tahu kalian bakal jadi secantik ini." Pria itu tertawa. Badannya yang gempal dengan perut sedikit membuncit itu bergerak lucu. Rambut atasnya terlihat makin tipis, nyaris botak. Hari ini adalah ulang tahunnya yang keempat puluh enam. Tuan rumah itu adalah pelatih vokal di sekolah musik mereka dulu.
"Nggak biasanya pesta ulang tahun sederhana gini, Pak." Linda sudah melemparkan pandangan ke seluruh penjuru taman. Dia masih ingat terakhir kali datang, pria itu mengundang beberapa musisi tanah air kenalannya. Tentu saja dengan menyewa gedung mewah, bukan di belakang rumahnya.
Indi yang berada di samping Linda mengangguk setuju. Halaman belakang rumahnya yang luas disulap menjadi tempat pesta bergaya santai sekaligus elegan. Tamunya hanya dari keluarga terdekat. Padahal Indi dan Linda sudah berandai untuk bisa berduet dengan salah satu artis setidaknya. Namun, guru mereka menginginkan pesta sederhana dan tenang. Bahkan hanya terdapat perlengkapan alat band dan grand piano di panggung kecil yang berdiri rendah di depan sana. Di mana biasanya akan ada panggung besar untuk pertunjukkan orkestra kecil.
"Istri saya nggak mau keluar duit banyak." Pria itu tertawa lagi. Menunjuk sang istri yang berdiri di sisi lain dan sedang bercengkerama dengan beberapa tamu.
Sekarang mereka sudah sedikit menyingkir menjauhi panggung. Pelatih mereka itu sudah menyodorkan dua gelas minuman yang langsung diterima Linda dan Indi bersamaan.
"Gimana ... kalian masih nggak dibolehin manggung?"
Putri Pelangi mengangguk bersamaan.
"Tapi masih sering manggung?"
Mereka mengangguk lagi.
Pria itu menggelengkan kepala. "Seandainya kalian nggak tiba-tiba berhenti waktu itu, sekarang pasti udah konser di mana-mana, nggak perlu susah-susah cari panggung. Saya masih nyesal karena nggak bisa mempertahankan kalian waktu itu," ujarnya sambil menyesap minuman, mendinginkan kepala yang mulai terasa panas.
"Padahal orang tua kalian itu berpendidikan tinggi," imbuhnya dengan nada menyesal.
Linda dan Indi hanya tersenyum getir. Mereka juga masih ingat dengan jelas saat papa mama tiba-tiba berubah pikiran. Menyuruh untuk berhenti datang ke sekolah musik. Tak lagi merestui cita-cita saudara kembar itu untuk menjadi musisi terkenal. Untung saja studio musik mereka masih dibiarkan.
"Ya sudah ... saya yakin kalian bakal jadi orang hebat nanti gimana pun caranya.... Oh ya, kompetisi untuk tampil di acara The Fest udah keluar. Kalian mau ikutan?"
Linda dan Indi mengangguk bersamaan.
Ya. Jelas mereka harus ikut. Mereka harus memenangkan Submit Your Music. Tampil di festival musik The Fest—salah satu musik festival terbesar di Asia—bersama musisi lokal dan internasional yang mereka idolakan. Ditonton oleh ribuan orang dari berbagai negara. Juga, tentu saja, rekaman untuk album mereka sendiri!
KAMU SEDANG MEMBACA
PUTRI PELANGI (Selesai)
RomansLinda Putri Pelangi yang bisa merasakan apa yang adik kembarnya rasakan harus berjuang mengalahkan dirinya sendiri saat saudara kembarnya, Lindi Putri Pelangi memaksa untuk menjadi lawan di kompetisi Submit Your Music sebagai vokalis sedangkan ia ti...
Wattpad Original
Ada 2 bab gratis lagi
