Dimalam yang sejuk ini, Doni meminta kedua anaknya untuk berkumpul diruang tengah karena ada yang mau dibicarakan. Seperti biasa mimik muka Aska selalu tidak bersahabat jika ada saudaranya, sedangkan Arka sendiri mulai bersikap bodo amat dan acuh.
"Mau ngomongin apa sih pah, cepetan aku sibuk," ujar Aska.
"Mulai besok Arka sekolah ditempat yang sama dengan kamu,"
"Hah? Aku gak mau pah, satu sekolahan sama dia,"
"Yaudah sih nurut aja sama papah, loe juga gak bakalan dirugiin. Gue ganteng lebih bule dari loe malah," ujar Arkana.
"Apaan sih anjing gak nyambung,"
"Heh Aska, jangan ngomong kasar sama sodara kamu,"
"Tapi pah aku gak mau satu sekolahan sama dia," ujar Aska kekeh.
"Pah, sekalian aja buat kita satu kelas. Biar persaingan diantara kita lebih ketat," timpal Arkana.
Lagi dan lagi perkataan Arkana membuat Aska terkejut, lelaki itu merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran saudaranya itu.
"Apa sih gak nyambung, loe emang gak punya malu atau bodoh sih?" tanya Aska pada kembarannya.
"Gak ada kata-kata lain yang bisa loe ucapin ke gue selain gak punya malu? Bosen gue dengernya," ujar Arkana.
"Bukan gue yang gak punya malu, tapi loe yang buta. Gak liat dari tadi gue pake baju, ya jelas itu tandanganya gue punya malu lah," imbuhnya.
Bukan hanya Aska saja yang dibuat terkejut dengan respon Arkana, tapi juga ayah mereka. Doni tidak menyangka jika Arkana akan mulai berani melawan saudaranya, ternyata sikap bodoamat setitik tadi menipu semua orang yang ada disana.
Arkana sendiri tidak ingin menjadi pihak yang menerima-menerima saja perlakuan saudara kembarnya, dia tidak menyukai tokoh yang menye-menye dan lemah. Menurut dia cerita ini akan monoton jika dirinya hanya menerima dengan pasrah perlakuan Askana, dan terus mengalah untuknya.
Lelaki itu akan membuat banyak keributan dengan Askana agar dia mempunyai banyak kesempatan untuk terus berbicara dengan dirinya, dan tentunya agar keberadaan dia dianggap ada oleh sang adik. Hubungan yang penuh dengan keributan biasanya akan sangat membekas, entah karena lukanya atau karena kenangan dan pembelajarannya. Namun Arkana akan memastikan, meskipun hubungan mereka berdua akan penuh dengan pertengkaran tapi Askana tidak akan mengingat itu sebagai sesuatu yang menyakitkan.
"Boleh juga ide kamu, nanti papah coba konsulkan dengan pihak sekolah. Enak juga soalnya kalau kalian sekelas, nanti pas bagi raport papah jadi gak pusing," ujar Doni.
"Pinter banget papah aku, jadi ayoo besok kita beli baju sekolah buat aku. Soalnya aku gak mau pake baju sekolah yang dari Rusia,"
"Tapi jadwal papah besok udah padat sampe sore, kalian pergi berdua aja deh,"
"Ogah,"
Askana jelas langsung menolak perintah itu, malas sekali harus membantu kembaran yang sangat dia dibenci. Dan ternyata respon serupa juga ditunjukkan oleh Arkana.
"Siapa juga yang mau dianter sama loe, mending gue sewa gojek buat temenin belinya,"
"Yaudah gue juga gak mau,"
"Aku pinjem mobil papah aja deh, belinya bisa sendiri,"
"Oh iyaa, papah lupa belum beliin kamu motor. Samain aja merek sama modelnya kaya adek kamu ya?" tanya Doni.
"Bolehh," jawab Arkana dengan nada antusias.
"Biar bisa pamer ke sebelah, punya gue baru sedangkan motor loe udah lama wlee. Karma sih karena gak mau anterin gue," imbuhnya sambil mengejek Aska.
Lama kelamaan Aska kesal juga dengan sikap Arka yang menurutnya jadi aneh, tadi pas awal ketemu dia terlihat biasa-biasa saja dan bahkan terkesan menghindari terlibat masalah dengannya. Tapi sekarang orang itu justru seperti sengaja mencari masalah dengan dirinya.
Karena kesal Aska memilih pergi dari ruangan itu, dia tidak menghiraukan sang ayah yang terus memanggil namanya untuk kembali.
Blam!
Bahkan dengan sengaja Aska menutup pintu kamarnya dengan kasar, sampai suara itu terdengar nyaring hingga ke lantai bawah. Kini tersisalah Arkana dan Doni saja, mereka berdua pun memilih melanjutkan obrolan meski kurang satu anggota keluarga lagi.
"Bunda berhasil didik kamu dengan baik, meskipun tanpa ada papah ya,"
"Tapi menurut aku papah lebih hebat, aku mewakili mamah dan semua keluarga disana mau minta maaf sama papah untuk semua yang udah terjadi,"
"Kamu nggak perlu ngomong kaya gitu, ini masalah orang dewasa. Kamu sama Aska justru adalah korban karena keegoisan kami,"
"Maaf yap ah, aku juga baru berani ngomong gini ke papah doang. Aku butuh waktu buat deket lagi sama Aska,"
"Papah ngerti kok, makasih karena kamu masih mau baik sama Aska,"
"Ya pasti mau pah, karena aku punya salah sama dia. Aska pasti mikir aku cuma cari untung pas lagi susah aja, teruskan karena bunda udah meninggal juga,"
"Huss, jangan ngomong gitu. Bunda meninggal bukan karena kamu, Aska cuma sedih aja karena sampai bunda meninggal dia belum dapat kesempatan untuk ketemu,"
Arkana terlihat memaksakan senyumnya ketika tangan sang ayah mengusap punggungnya.
"Kalian harus bisa saling jaga satu sama lain kalau papah udah gak ada,"
"Papah bakalan selalu ada, karena aku selalu berdoa sama tuhan supaya dia nyabut nyawa aku sehari sebelum dia ambil papah dari aku," ujar Arkana.
Doni kehabisan kata-kata untuk menjawab perkataan anaknya, entah kenapa suasana berubah cepat jadi mellow. Kali ini Doni yang memaksakan senyum dan tawanya untuk kembali mencairkan suasana, meskipun relung hatinya terus berdesir hangat.
"Waktu bunda pisah dari papah, dia gak nikah lagi kok di Rusia,"
"Serius?"
"Iyaa, papah pasti bisa tebak gimana ekspresi kakek sama nenek," ujar Arkana dengan halis yang dinaik turunkan.
"Mereka pasti marah banget ya,"
"Bukan lagi marah, meskipun bunda udah diancem pake pistol dia gak takut. Bunda balik marahin mereka, hahaha,"
"Tapi papah beneran baru tahu kalau bunda gak nikah lagi, terus kenapa kalian gak balik ke Indonesia lagi?" tanya Doni.
"Bunda malu, dan dia udah terlanjur marah sama dirinya sendiri. Jadi bunda bertahan disana, terus hubungan dia sama laki-laki yang dijodohkan nenek sama kakek sebetulnya baik. Tapi bunda tetep gak mau nikah sama dia, alhasil mereka cuma temenan biasa,"
"Siapa laki-laki yang dijodohkan sama bunda?"
"Namanya om Gaston, dia baik kok. Malah om Gaston dukung mamah dan ikut marahin nenek sama kakek karena dia gak tau kalau perjodohan itu memaksa salah satu pihak, dia gak mau bunda nikah karena terpaksa," ujar Arkasa.
"Tapi papah jangan cemburu ya aku ngomongin dia, lelaki terbaik dalam hidup aku cuma papah seorang,"
"Nggak lah, ngapain papah cemburu. Bunda gak mau nikah sama dia aja udah cukup jadi bukti kalau papah menang segalanya dari dia,"
"Hmm, pede banget nih orang tua,"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote, komentar, dan bantu share cerita ini sebanyak-banyaknya.
Salam hangat,
Resa Novia.

KAMU SEDANG MEMBACA
ARKASA
Teen FictionArkana Gema Wijaya, dan Askana Putra Wijaya, mereka adalah saudara kembar yang identik dari pasangan lelaki pribumi dan Perempuan bule berdarah Rusia. Sejak kecil kedua orang tua mereka bercerai, Arkana sang kakak pergi mengikuti ibu nya dan tinggal...