Bagaimana pertemuanmu dengannya?
Apakah Ia mengatakan bahwa Ia mengagumi-mu sejak pertama bertemu?
Bagaimana perasaanmu saat mendengar kata itu darinya?
Tersipu malu? ingin utuh memilikinya? melupakan apa yang sudah kamu punya?
Dia selalu menyuguhkan kenyamanan bukan?
Bagaimana raut wajahnya saat kalian bersama?
Apakah Ia mempertontonkan senyuman paling manis di dunia?
Seolah kebahagiaannya hanya berasal dari bola matamu?
Seolah mengobrol denganmu bisa membuat semua beban yang dipikulnya hilang?
Keramahannya membuat duniamu menjelma menjadi dia bukan?
Bagaimana cara dia menemuimu?
Apakah ia datang tiba-tiba seperti pangeran berkuda hitam?
Bukankah Ia penuh kejutan?
Apa saja yang Ia bicarakan denganmu?
Lagu-lagu kesukaannya? tontonan favoritnya? kehidupan masa kecilnya?
Semua yang Ia nikmati membuatmu ingin menikmatinya juga?
Apa yang kalian makan saat bersama?
Segala makannya yang mengandung cabe?
Tidak lupa kopi dan rokok selalu jadi pendampingnya kan?
Boleh aku ceritakan sedikit tentang dia?
Iya dia punyaku yang kamu anggap punyamu juga.
Semua pertanyaanku di atas sebetulnya memang bagian dari kami.
Tapi akan aku ceritakan sedikit lagi.
Sejak awal kami tidak pernah bertemu, tapi Dia menemukanku.
Membuka hati untuknya rasanya hampir mustahil, saat itu aku bahkan kehilangan kunci hatiku.
Menuju perasaan ingin saling memiliki, kami melalui banyak hal.
Apalagi untuk merasa nyaman, berapa banyak proses yang harus kami lalui..
Menyatukan dunia-ku dan dunia-nya butuh perjuangan yang tak singkat.
Dia memang sering memberikan senyuman manis, tapi apalah dayaku yang bahkan tak tau harus kemana membawa perasaan.
Sampai aku sadar ternyata Ia adalah orang yang tak mudah menyerah menemukan kunci hatiku.
Kebaikannya yang selalu membuatku merasa jadi manusia paling beruntung karena telah lahir dari rahim ibu.
Saat itu kami tidak menyadari tentang "meringankan beban" kami terlalu muda untuk membahas hal semacam itu.
Tapi, dia adalah makhluk pertama di bumi yang telah membuatku seperti burung yang dilepaskan dari sangkarnya.
Iya lambat laun bola mata kami menjelma menjadi satu dunia yang saling melengkapi.
Walaupun begitu, saat ingin saling bertemu kami selalu melalui lika-liku,
Bagaimana cara dia menemuiku? bukan hanya dengan datang tiba-tiba seperti pangeran berkuda hitam.
Untuk bertemu, ia akan mengejarku yang sudah naik angkot dengan motornya dan menyuruhku turun saat itu juga dan hal itu terjadi sampai saat ini, karena dia seringkali terlambat, tapi ajaibnya selalu berhasil membuatku menunggunya.
Yang Ia obrolkan denganku tentu saja kebanyakan adalah "tentang-nya", yang akan membuatku lebih banyak diam mendengarkan, aku selalu ingin memberikan kesempatan padanya untuk berbicara lebih banyak, membiarkan keresahannya menguap, dengannya aku merasa tenang.
Lambat laun keterbukaannya memancing aku yang sangat tertutup pada semesta mulai "berbicara" juga, pada akhirnya dia-lah satu-satunya yang paling banyak "mendengarkan" aku berbicara.
Saat makan bersama, dia akan makan makanan yang mengandung cabe, yang aku tidak bisa memakannya, tapi tidak usah khawatir, walaupun aku tidak begitu menyukai makanan favoritnya, aku bisa membuatnya tersenyum dengan membuatkan dia racikan sambal yang -walaupun entah rasanya apa-.
Aku pikir untuk membersamainya aku tidak perlu menyukai segala hal yang ia sukai, tapi cukup untuk bisa membuat dia menikmati apa yang bisa "kubuat" tentunya dengan dibubuhi bumbu "cinta".
Kami, tidak serta merta sampai di titik ini dengan mudah.
Bukan soal waktu yang telah kami lewati bersama, waktu bukanlah sebuah ukuran,
Tapi setiap ujian yang telah kami selesaikan bersama yang membuatku tak bisa menyerah.
Apakah kamu masih ingin memilikinya?
dan ah tentang kopi, saat bersamamu apakah ia juga pecandu kopi?
Saat ia menyeruput kopi, aku biasanya akan berbisik:
"Kamu pecandu Kopi,
Aku Pecandu Kamu,
Mau gimana lagi?
Kita memang harus bersatu"
Sudah mainnya?
Semoga kamu ga nyasar pulang ke rumah orang lagi.
