3

284 36 4
                                    

Jennie menghentakkan kakinya kesal setelah mobil hitam itu jauh dari pandangannya. Ia kesal dengan kakaknya. Karena sulit membangunkan dia, Jennie harus terlambat masuk sekolah. Dan lihatlah dimana dirinya sekarang, berdiri di depan gerbang dengan wajah memelas agar dikasihani oleh satpam.

"Bapaaaaak yang baik hati, tolong dong hari ini aja, biarin Jennie masuk ya, janji deh besok-besok gak bakal telat." ucap Jennie sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

Pak satpam hanya melihatnya dengan malas. "Kemaren juga kamu bilang gitu, buktinya sekarang telat lagi."

Jennie meringis mendengarnya. Yah, kalau kemarin sih dia telat karena kesalahannya sendiri karena harus meninggalkan tugasnya dirumah, sehingga dia harus balik arah untuk mengambilnya.

"pelit ah." Jennie cemberut.

"bibir jangan di monyong-monyongin, kaya badut."

Mendengar suara yang familiar, Jennie menengok dan menemukan teman sekelasnya berdiri tak jauh darinya. Wajahnya terlihat lesu seperti habis bangun tidur, apalagi dengan rambut hitamnya yang berantakan.

"Taeyong??"

Taeyong berjalan ke arah pos satpam, lalu ia seperti berbicara dengan serius, kemudian ia kembali lagi, diikuti pak satpam yang membukakan pintu gerbangnya.

"Kok bisa?"

Taeyong menundukkan kepalanya sedikit untuk dekat telinga Jennie, kemudian ia berbisik, "biasa rokok."

Spontan gadis itu mendelikkan kepalanya kesal ke arah pak satpam yang bertingkah sok tak tahu apa-apa. Dasar cowok, lemah banget sama hal kaya begituan, batinnya.

Kemudian Taeyong berjalan melewati pintu gerbang, diikuti Jennie yang berjalan sambil matanya bagaikan terus memancarkan sinar laser ke arah pak satpam.

"Ayo cepet, sekarang kelas bu chaerin kan?"

Jennie mendengus kesal sebelum berlari kecil untuk berjalan beriringan di samping Taeyong. Pria itu menoleh sedikit dan melihat bibir gadis itu yang masih maju. Ia tertawa pelan, kemudian ia acak-acak rambut Jennie.

"Cemberut terus, kaya mandu lo!"

"Ih Taeyong! jadi jelek rambutnya!"

Pria itu tertawa dan berlari menuju kelasnya. Jennie hanya bisa mendengus kesal. Ia menyisir rambutnya dengam jari-jarinya. Emang dasar Taeyong itu kelakuannya kadang seperti anak kecil. Mungkin karena mereka tetanggaan sejak kecil, jadi pria itu tidak tanggung-tanggung dalam menjahilinya.

Tapi tunggu.... tadi Taeyong menyebutnya apa?

"Cemberut terus, kaya mandu lu!"

Mandu....MANDU?!?

Itu tidak mungkin kan? Buku yang kemarin ia temukan itu bukan milik Taeyong kan?

His Diary About Jennie KimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang