Bab 3

161 38 0
                                    

Panas, ramai, polusi, sepertinya sudah jadi sahabat untuk kota besar. Aiko benar-benar belum terbiasa dengan ini. Naik angkutan berdesak-desakan, bertemu orang dengan berbagai macam perilaku dan penampilan, lalu mencari lowongan kerja secara acak. Sialnya kini Aiko kehilangan sesuatu. Ingatannya untuk pulang ke rumah. Astaga, dasar pelupa.

Jika saja pelupa bisa diobati dengan makan banyak, Aiko rela mengeluarkan uang lagi untuk membeli makanan.

"Dasar oon. Kenapa bisa lupa alamatnya coba. Ini pulangnya gimana? " Aiko merutuki dirinya karena lupa mencatat alamat kontrakannya.

Dia memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat kembali jalan menuju kontrakannya. Harusnya dia bisa lebih hati-hati . Jelas ini kota besar, bukan kampung kelahirannya yang jika nyasar bisa kembali dengan selamat.

Kepalanya pening, seperti sedang dipukul palu, parahnya Aiko mulai berpikir buruk. Bagaimana jika dia benar-benar tidak bisa sampai ke kontrakan.

Aiko mengingat-ingat sambil jalan. Pikirnya hal ini akan membuat dia bisa memangkas waktu lebih cepat. Dan tentu saja berharap ada keajaiban yang akan membuatnya ingat jalan ke kontrakan dan pulang dengan selamat meski belum membuahkan hasil.

Tiiinnnn

Aiko terperanjat kaget. Jantungnya berdebar kencang karena klakson sialan itu. Untung jantungnya tidak lompat. Kan bahaya.

Aiko memegang dadanya lalu mundur beberapa langkah. Syok sebenarnya sampai-sampai tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Seseorang dari dalam mobil keluar dengan wajah khawatir.

"Mbak nggak papa? " tanyanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mbak nggak papa? " tanyanya.

Aiko tersenyum simpul,"nggak papa Mas! " jawabnya. Aiko sempat mengira si pengendara akan marah-marah seperti di sinetron yang sering dia tonton di TV.

"Syukurlah. " ucap pria itu lega.
"Mbak mau ke mana? Mau saya antar? " tawarnya.

"Nggak, Mas, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri kok." jawab Aiko cepat. Jujur saja, dia merasa takut sendiri karena tiba-tiba prasangka buruk berseliweran di otaknya . Bagaimana jika pria ini termasuk komplotan penjahat yang memperdagangkan organ tubuh manusia. Atau seorang mucikari. Oh, jauhkanlah, Tuhan.

"Saya bukan orang jahat, Mbak. Jangan mikir macem macem! " seperti bisa membaca raut wajah takut Aiko, pria itu menjelaskan dirinya.

"Heheheh,,, " Aiko tersenyum kikuk seperti maling yang tertangkap basah.

"Mbak lagi cari kerja ya?" tanya si pria.
"Tau dari mana? "
"Itu, bajunya. " tunjuknya pada penampilan Aiko.
"Ah, iya. Saya lagi butuh kerjaan. "

"Wah, sayang sekali ya, padahal saat ini saya butuh orang , tapi buat cowok." ucap pria dengan sedikit wajah penyesalan.

"Kerja apa? " tanya Aiko penasaran.

Am I Normal?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang