Bab 1

395 52 3
                                    

"Alex, minta tanggapannya dong tentang berita yang beredar. Apa benar kamu menjalin hubungan sama Lisa? "

"Alex, tanggapan kamu soal isu jadi orang ketiga gimana? "

"Alex, wawancara sebentar dong! "

Alex baru saja keluar setelah menjadi bintang tamu acara talk show dari salah satu stasiun televisi terkenal di Jakarta.
Tanpa menghiraukan sorotan kamera dan mic yang ditujukan padanya,Alex melangkah dengan satu tangan ditarik oleh orang yang memang ditugaskan untuk mengawalnya. Tak peduli dengan ramainya pertanyaan, Alex hanya ingin segera pergi.

Sudah dua hari ini Alex selalu dihadang para wartawan yang meminta klarifikasi tentang berita yang beredar dari salah satu akun gosip.
Disinyalir sebagai orang ketiga atas kandasnya hubungan pesinetron cantik yang namanya melejit setelah membintangi sebuah film, Lisa Adriana.

"Maaf ya, Alex buru-buru. "
Hanya itu yang mampu keluar dari pihak Alex, setelahnya Alphard putih itu menjauh dari kerumunan.

Alex menatap jalanan. Pikirannya melayang atas kejadian tiga hari lalu.
Ya, itu benar dirinya. Tapi menjadi orang ketiga atas putusnya hubungan Lisa dan Rio tidaklah benar.

Bodohnya, Alex sadar bahwa perempuan bernama Lisa itu memang salah satu perempuan penting dalam hidupnya. Itulah alasan kenapa Alex lebih suka diam seribu bahasa ketimbang mengatakan secara gamblang bahwa kejadian sesungguhnya adalah menghibur Lisa karena Rio memilih untuk putus.

Alex memang tidak sepenuhnya beruntung . Fisik yang nyaris sempurna tidak membuat Lisa memandangnya sebagai orang yang spesial. Lisa hanya menganggap Alex sebagai teman masa kecilnya yang bahkan sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Mana mungkin Lisa bisa mencintai Alex seperti Alex mencintai Lisa.

❄❄❄❄

Peluh menetes dari dahi menuju pipi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Peluh menetes dari dahi menuju pipi. Rasanya letih. Dengan menggendong sebuah ransel berisikan beberapa pasang pakaian , perempuan berpenampilan tomboy itu akhirnya memilih untuk beristirahat. Dia duduk di depan sebuah ruko yang sedang tutup.
Haus mendera, mau tak mau dia merogoh saku kemeja kotak-kotak yang dia pakai untuk mencari selembar uang untuk ditukarkan dengan satu botol kecil air mineral.

Lega. Air dingin itu masuk melalui mulut dan melewati tenggorokan. Kini giliran lapar mendera. Bagini nasib orang tak punya. Pergi ke kota dengan bermodalkan tekad dan bawa uang seadanya.

Perempuan itu melepas topi yang melindunginya dari sinar matahari-meski tak sepenuhnya-, lalu dia kibaskan berharap ada udara sejuk yang mampu mengurangi rasa letih akibat hampir dua jam berjalan tanpa tujuan.

Perempuan itu menunduk memandangi sepatu bertali yang sudah lusuh bahkan menampakkan lubang kecil akibat dimakan usia.
Perempuan itu hanya bisa menarik napas. Terlalu banyak keluhan jika hanya karena letih berjalan saja masih harus dia adukan pada Tuhan.

"Hufth,,,, kira-kira bisa dapet kerjaan gak ya di sini. Gak mungkin aku bisa bertahan tanpa ada pemasukan. " keluh perempuan itu.
Terik matahari menyengat kulit, dia menyapu pandangan ke sekililing. Cukup ramai, apalagi banyak kendaraan berlalu lalang menghasilkan polusi. Beda jauh dari udara di kampungnya.

"Dek , Dek mobil saya mau keluar. " Perempuan itu mengangkat kepalanya pada seorang pria berkepala nyaris botak.
Dia celingak-celinguk dengan wajah bingung. Siapa gerangan yang dipanggil 'Dek' itu.

Tiinnn

Klakson berdenging mengejutkan.
"Dek, buruan. Saya dikejar waktu nih. " kaca jendela mobil yang baru dimasuki bapak itu terbuka menampakkan wajah yang tidak seramah sebelumnya.

Kali ini perempuan itu yakin bahwa yang dimaksud sang bapak adalah dirinya.
Perempuan itu mendekat, lalu bertanya apa yang harus dia lalukan.

"Nih, " sang bapak memberikan selembar uang sepuluh ribuan. "Tukang parkir baru ya? " tanyanya.
"Tukang parkir? "

"Ya sudah, gak penting. Mobil saya mau keluar, tolong liatin! " titahnya tanpa peduli dengan ucapan yang akan disampaikan.

Ya, dia mengerti kini. Si bapak dengan kepala nyaris botak itu menganggap dirinya 'Tukang Parkir'.

Baiklah, Aiko. Setidaknya kamu dapat uang untuk beli sesuatu yang bisa memenuhi keinginan perutmu.

❄❄❄❄

"Ally, apa rencana kamu hari ini? " seorang gadis dengan rambut sebahu bertanya pada sahabatnya di tengah perjalanan menuju pulang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ally, apa rencana kamu hari ini? " seorang gadis dengan rambut sebahu bertanya pada sahabatnya di tengah perjalanan menuju pulang.
"Gak ada. Aku langsung pulang. " jawabnya.
"Temenin beli kado yuk! " pintanya penuh harap.
Gadis yang dipanggil Ally itu menoleh, "Kado? Untuk siapa? "

"Untuk seseorang. " jawabnya.
Ally mengerutkan alisnya, "Kamu punya rahasia? " tanyanya menyelidik.
Gadis yang dituduh menggeleng cepat.
"Bukan, bukan gitu. Pasti nanti aku cerita. Tapi, gak sekarang. " janjinya.

Ally mengangguk,
"Tapi Maaf, Fel. Aku beneran gak bisa. Alex mulai bawel. " jawaban Ally membuat Feli bingung.

"Bawel kenapa? Gara-gara gosip itu? " tebak Feli.
Ally menarik napasnya, "Aku rasa juga gitu. Alex gak mau aku diganggu sama orang-orang yang pengen tau kebenaran kabar dia sama Kak Lisa. " jelas Ally.
"Ini aja Pak Asep udah nunggu di parkiran! " lanjutnya.

Feli mengangguk. Sedikit kecewa pada Alison sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi selain memaklumi jika perempuan yang sudah jadi sahabatnya selama tiga tahun ini memang tidak bisa.

"Ya udah, aku duluan ya! " pamit Alison saat sudah ada di area parkiran. Alison melambaikan tangan ke arah Feli lalu dibalas dengan hal yang sama.

Tbc



Best regards, Missmi25😘

Am I Normal?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang