Karena terlalu lama berbaring di tempar tidur, Jihoon harus melakukan terapi. Di saat itu pula Soonyoung dengan sabarnya selalu menunggu Jihoon dan bahkan sesekali, ketika Jihoon meminta membantunya untuk belajar berjalan kembali, lelaki itu senantiasa mengajarkannya dengan penuh kesabaran.
Seperti di hari yang cerah ini, Soonyoung membawa Jihoon dengan kursi rodanya ke taman belakang rumah sakit yang begitu indah. Lelaki itu berjongkok tepat di depan Jihoon dengan kedua tangannya yang ia letakkan di atas paha Jihoon. Soonyoung melabuhkan tangannya di pipi Jihoon guna mengusapnya lembut.
"Pipimu lambat laun mulai membesar," katanya yang disertai kekehan.
Jihoon menekuk bibirnya merajuk. "Kau tidak suka?"
Soonyoung menggeleng kuat. "Tidak!" serunya. "Maksudku, lihatlah tubuhmu ini? Kurus begini. Tidak enak kalau dipeluk," tambahnya.
"Tidak usah memelukku lagi kalau begitu," ujar Jihoon pelan seraya memalingkan wajahnya.
Soonyoung terkekeh lantas memberikan satu kecupan hangat di kening Jihoon. "Aku bisa mati kalau tidak memelukmu, Jihoonie..."
Helaan napas terdengar dari mulut Jihoon. "Ada-ada saja," gumamnya.
"Sayang," panggil Soonyoung. "Apakah ada aku di mimpimu kala itu?"
Jihoon tersenyum ke arah Soonyoung yang masih setia mengelus pipinya. "Saat aku koma, aku bermimpi kalau aku ada di sebuah tempat yang begitu indah. Aku terkadang mendengar suaramu yang memintaku untuk kembali dan tempat mana yang ingin aku tinggali. Beberapa kali juga aku selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan, pergi atau tinggal. Aku dapat melihat adanya cahaya putih kala itu. Di saat itu aku segera menghampiri cahaya tersebut, namun perlahan-lahan cahaya itu mengecil dan akhirnya menghilang. Aku sedikit kebingungan sebab aku tidak bisa kembali maupun pergi. Aku terjebak di dunia yang bahkan aku tidak tahu di mana itu berada."
"Apa begitu indah sehingga kau menghabiskan waktu yang sangat lama di sana?" tanya Soonyoung lirih.
Jihoon menatapnya sendu. Lelaki itu meraih tangan Soonyoung yang masih ada di pipinya untuk ia genggam. "Maafkan aku untuk tidak kembali dalam waktu cepat," balasnya. "Aku terkadang mendengar suaramu yang memintaku untuk kembali. Aku ingin, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya kala itu belum waktunya aku kembali. Entah kenapa aku merasakan bahwa ada yang melarangku untuk kembali, namun juga melarangku untuk pergi. Di situlah aku kebingungan. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang dan aku yakin kau tahu siapa orangnya," tutur Jihoon lembut.
"Siapa dia, Sayang?"
Jihoon menggenggam tangannya begitu kuat. "Aku bertemu Wonwoo," katanya pelan.
Hiliran angin membelai wajah Soonyoung yang kini terperangah atas penuturan kekasihnya. "K–kau bertemu dengannya?" tanya Soonyoung tergagap-gagap.
Jihoon menganggukkan kepalanya. "Iya, dan dia tidak ingin kau selalu menyalahkan takdirmu atas kematiannya, Soonyoung..." jelasnya dengan nada lembut. "Dia sedih melihat keadaanmu yang selalu menyalahkan dirimu, takdir, dan Tuhan. Semuanya bukan salahmu. Kematian Wonwoo adalah bagian dari takdir yang telah Tuhan catat atas dirinya. Semua tragedi itu sudah menjadi bagian dari skenario yang Tuhan catat. Wonwoo pun memintaku untuk selalu menjagamu, mengasihimu, dan menyayangimu setulus hatiku. Aku mengiyakan permintaannya kala itu, sebab kau tahu kenapa?"
Gelengan dari kepala Soonyoung menjadi jawaban atas ketidaktahuannya. Jihoon pun tersenyum seraya mengusap helaian rambut hitam legam kekasihnya. "Sebab Wonwoo tahu kalau kau adalah pribadi yang rapuh. Aku pun tahu akan itu. Maka dari itu aku ingin membantumu untuk kembali merangkai kisah dengan awal dan akhir yang berbeda. Aku di sini bukan hanya menjadi kekasihmu saja, aku di sini juga untuk membantumu, Soonyoung."
KAMU SEDANG MEMBACA
ESPOIR | SoonHoon
FanfictionDalam bahasa Prancis, espoir dapat diartikan sebagai harapan. Berbagai harapan aku punya. Berbagai harapan pun telah aku raih. Sampai kini, aku mengerti bagaimana rasanya berharap, berharap, dan terus berharap tanpa bisa meraih. Bukan sebabnya aku t...
