Aza dan Askara kini sudah berada di hotel. Untungnya orang tua mereka sibuk mengurus urusan pernikahan membuat keduanya langsung pergi ke kamar masing-masing.
Tentu saja orang tua mereka sudah menyiapkan ini sebelumnya. Kamar mereka bersebrangan bukan hal ketidaksengajaan.
Aza yang sudah menerima coklat putihnya langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa repot-repot menoleh ke arah Askara.
Begitu juga Askara cowok itu juga melakukan hal yang sama.
Di dalam kamarnya Aza tidak bisa diam saja. Dia mulai menyusun segala rencana agar pernikahan ini batal. Kabur ? Sudah banyak penjaga di hotel ini orang tua Aza sudah memikirkannya. Bunuh diri ? Yang benar saja kenapa harus dia yang mati bukan Askara. Membunuh Askara ? Iya kalau bisa. Pura-pura sakit parah ? Dokter keluarga langsung datang dan membuat semuanya gagal. Mengaku ke Askara kalau dia punya penyakit yang mengerikan ? Malah mempermalukan diri sendiri dong.
Aza sudah mulai putus asa. Gadis itu merasa hidupnya sudah diambang akhir.
*****
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu kamar hotel Aza, Ova langsung masuk ke dalam karena dia sudah memiliki kartu cadangan pintu kamar Aza.
"Aza ayo bangun, bentar lagi kamu menikah sayang,"
Aza menguap lebar lalu membuka matanya perlahan. Cahaya matahari langsung menganggu pengelihatan Aza.
"Astaga gue ketiduran," ucapnya shock.
Ova hanya menggeleng seraya menahan senyumnya.
"Buruan mandi habis itu make up,"
*****
Gagal sudah rencana menggagalkan pernikahan ini. Setelah penghulu menyatakan mereka sekarang telah resmi sebagai pasangan suami istri semua tamu undangan seketika riuh.
Cium cium cium
Askara menatap Aza sambil menyeringai. Sedangkan Aza wajahnya mulai memucat tidak mengerti apa yang akan Askara lakukan.
Wajah cowok itu mendekat dan semakin dekat ke arah Aza.
Cup..
Askara mencium Aza tepat di bibir mungil gadis itu. Aza sontak melotot dan berusaha melepaskan ciuman itu. Namun Askara malah menahan tengkuk Aza dan memperdalam ciuman mereka.
Aza yang kesal tanpa ampun menggigit bibir Askara.
"Jangan sentuh gue," geram Aza.
"Terlanjur," bisik Askara membuat emosi Aza terpancing lagi.
"Anjing lo," umpat Aza kesal.
Askara tidak peduli sekesal apa Aza padanya. Membuat Aza kesal adalah kesenangan tersendiri bagi Askara.
"Habis ini kalian langsung pindah di rumah baru yang sudah kami persiapkan," ucapan Dalson membuat Aza membulatkan matanya.
"Nggak mau. Aza maunya tinggal dirumah papa,"
Dalson menggeleng lalu memeluk putri kecilnya itu.
"Nggak bisa Aza setelah kalian menikah nanti malam Papa dan Mama sudah terbang ke New York,"
Aza menggeleng lemah. Bagaimana mungkin mereka langsung pergi begitu saja setelah dirinya menikah dengan Askara.
"Aza nggak mau," tanpa dia sadari setetes air mata jatuh begitu saja.
"Aza sekarang sudah menjadi seorang istri oke. Kamu harus dewasa Aza, mama sama papa bakal selalu jenguk Aza," Ova berusaha menenangkan.
*****
Setelah sekian cara akhirnya dengan berat hati Aza mau tinggal di rumah barunya. Sesampainya di rumah baru Askara dan Aza langsung menelusuri rumah baru mereka.
"Rumah besar kok kamarnya cuman satu ?" Dumel Aza mulai curiga dengan rencana orang tua dan mertuanya.
Askara yang sudah sangat lelah langsung menuju ke arah kamar. Setelah puas melihat-lihat isi rumah Aza langsung menuju ke kamar.
Namun sial bagi Aza kamar yang hanya ada satu itu pintunya sudah tertutup rapat dan terkunci.
"Askara buka nggak ?"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Memang nih cowok baru sehari aja udah cari gara-gara.
"Gue aduin ke orang tua lo lama-lama,"
Ingin rasanya Aza mendobrak pintu itu sekarang juga. Dia sudah lelah dan hal yang ia rindukan adalah tempat tidur yang ada di kamarnya. Namun sialnya dia malah berada di luar dengan keadaan pintu kamar yang tertutup.
"ASKARA BUKAAA,"
"GUE CAPEK BANGSAT"
teriakan Aza bahkan tidak menimbulkan pergerakan dari pintu kamar itu. Ingin rasanya Aza membakar rumah ini agar Askara mati bersama bara api. Sialnya Aza masih mengenakan gaun pernikahannya yang merepotkan.
Brak brak brakkk
Aza terus menggedor gedor pintu kamar itu. Namun dia tidak heran kuping Askara kan memang budek. Mau tidak mau Aza menuju ke ruang tamu untuk merebahkan diri di sofa. Kejam memang Askara.
*****
Mentari mulai menganggu gadis yang kini sedang tertidur dengan nyaman di kasur empuk. Tunggu.. kasur ?
Aza langsuny menyibakkan selimutnya, betapa terkejutnya dia. Semalam dia tidur di sofa dan masih mengenakan gaun. Namun sekarang yang terjadi gaun menyebalkan itu menghilang dan berganti dengan piyama bewarna biru muda.
Tangan Aza langsung terkepal kuat. Askara. Pasti ulah Askara.
Aza langsung beranjak dan mencari keberadaan cowok kurang ajar itu.
"Askara sialan lo," umpat Aza terus-terusan walau belum menemukan keberadaan Askara.
"Cowok berengsek, bangsat," emosi Aza sudah diujung tanduk.
Sedangkan sosok yang sedari tadi Aza cari kini sedang memainkan ponselnya di halaman belakang. Di halaman itu terdapat kolam renang berukuran sedang.
"COWOK SIALAN," Aza langsung mengambil ponsel Askara dan melemparkannya ke dalam kolam renang.
"Apaan sih ?"
"Lo.. apa yang lo lakuin semalam ?" Tatapan maut Aza sedari tadi belum berubah.
"Kenapa ? Gue kan suami lo," jawab Askara enteng.
"Dasar mesum, omes, biadab" umpat Aza beruntun.
"Bodo amat, mending sekarang lo masak. Gue laper," perintah Askara mutlak dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Aza yang melongo dan ponselnya yang sudah tenggelam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Azakara
Novela JuvenilGimana sih rasanya dijodohin sama kakak kelas yang populer ? Dengan sifat buruk yang selalu menyertainya ?
