Esok harinya, Aku pergi ke desa pagi-pagi sekali untuk menemui seorang pedagang yang Aku tahu akan pergi ke kota untuk menjual barang dagangannya. Aku menunjukkan padanya sebuah kain berkualitas tinggi berwarna putih bersih, dan ia langsung terkejut melihatnya.
"Violet, dimana kau mendapatkan kain sebagus ini? Ini... kain yang sangat bagus dan akan bernilai cukup tinggi jika dijual." Ucap Niel – nama pedagang itu.
"Bisakah kau menjual kain ini saat kau di kota nanti? Dan menerima pesanan untuk kain yang lainnya? Aku bisa membuat lebih banyak lagi, sebanyak orang-orang yang ingin membayar untuk ini."
"Pesanan untuk kain yang lainnya? Violet... Kain ini memang kain yang bagus, dan Aku yakin akan ada banyak orang yang membayar mahal untuknya, tapi barang selangka ini... ini bukan barang yang mudah untuk dibuat, bukan? Dan untuk memenuhi pesanan untuk ini..."
"Niel, kumohon..." Aku memohon padanya. "Aku janji, Aku akan membuatnya sejumlah dengan banyak pesanan yang kamu dapatkan, hanya ini satu-satunya harapanku."
Ia melihat kearahku, lalu ke kain yang dipegangnya sebelum kembali lagi melihat kearahku, lalu menghela nafas pelan. "...Baiklah, Aku akan berusaha untuk mencari pembeli untuk kain ini."
Sekembali dari desa, Aku langsung mengurus ternak dan ladang yang kami punya, dan setelah selesai Aku kembali ke kamarku dan mulai menenun kain yang sama seperti tadi.
Dengan sebelah tanganku yang berubah wujud menjadi sebuah sayap, Aku mulai mencabuti bulu-bulu sayapku, dan menenunnya menjadi sebuah kain berwarna putih yang bersinar layaknya permata. Siang dan malam Aku terus menenun kain-kain itu, Niel berhasil mendapatkan banyak pesanan untuknya, dan tidak lama kemudian uang simpananku pun mulai bertambah banyak. Aku hanya meninggalkan pekerjaanku saat Aku harus mengurus Orion, menyuapinya sup yang sudah Dokter Elaine buatkan resepnya.
Suatu hari, saat Aku membawakannya minum ke mulutnya, ia mengangkat tangannya yang kurus dan pucat – dan mengusap tanganku yang penuh luka dengan itu.
"Tanganmu terlihat indah," Ucapnya, memegang tanganku dengan tangan dinginnya.
Tanganku terluka karena pekerjaanku di ladang, dan juga luka akibat dari bulu-bulu yang Aku cabut dari sayapku sendiri, tetapi walau begitu Ia masih menatapinya dengan penuh ketulusan.
Secara perlahan, Aku simpan kepalaku dibelakang punggungnya – memeluknya dari belakang. Suaraku bergetar saat Aku menjawab perkataannya.
"Jika suatu hari, Aku tidak punya tangan yang indah ini lagi... Apakah... Apakah kau akan tetap mencintaiku?"
"Tentu saja," Ucapnya, sambil terbatuk-batuk. Dan tangannya kembali mengusap tanganku yang terluka. Air mata yang tidak bisa Aku tahan lagi mulai mengalir keluar, sambil membenamkan wajahku ke punggungnya.
-------------------------------
Musim panas sudah lama terlewati, dan musim gugur hampir selesai sebentar lagi. Aku terus menenun, dan menenun. Hanya tinggal sedikit lagi sampai semua daun berguguran, tapi Aku tidak akan membiarkan hidup orang yang Aku cintai, jatuh berguguran seperti daun-daun itu.
Aku terus menenun bulu-bulu sayapku, menjadikannya kain, dan lalu memberikannya pada Niel untuk dijual, terkadang ada orang yang datang berkunjung untuk membelinya langsung dariku. Saat Aku memberikan kain yang terakhir pada Niel, Aku memberikan satu kain lebih untuk diberikan padanya – sebagai tanda terima kasih karena telah menjualkannya untukku.
------------------------------
Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Dokter Elaine, beberapa hari sebelum musim dingin datang, seseorang dari kota datang membawa ramuan obat itu. Aku mendekatinya, ia melihatku dengan ragu, dan bertanya dengan pelan.
"Kau pasti Violet? Apa kau membawanya...?"
Aku mengangguk, memberikannya kantong yang berisikan banyak uang. Ia bernafas lega, lalu menukarkannya dengan sebuah botol yang berisi ramuan obat itu. "Setelah kau pulang nanti, campurkan ramuan ini dengan sup yang kau buat dan suapi sup itu padanya."
"Terima kasih banyak," Ucapku.
Dan segera setelah itu Aku pulang kembali kerumah dengan botol berisi ramuan yang ada ditanganku. Udara di hari itu terasa dingin, tanda mulai datang musim dingin. Mengabaikan rasa sakit di kakiku, Aku terus berlari sampai rumah.
Sesampainya dirumah, Aku langsung membuat sup sesuai dengan resep yang dibuatkan Dokter Elaine – yang sudah terhapal diluar kepala olehku, dan menyampurkan ramuan itu kedalamnya lalu membawanya lansung ke Orion.
Ia terbangun saat Aku masuk ke kamarnya. Batuknya semakin parah – terdengar menyakitkan dan nafasnya semakin memburu. Aku membantunya untuk bangun dan berubah menjadi posisi duduk.
"Orion, bertahanlah," Bisikku. "Aku membawa obatmu. Semua akan baik-baik saja sekarang."
Ia menatapku dengan tatapannya yang mulai tidak fokus. "Violet, apa itu kau? Aku... tidak bisa melihatmu dengan jelas..."
Aku mencoba untuk menahan air mataku sambil menyuapi Orion dengan sup itu, membantunya untuk memakannya sampai habis. Setelah selesai, Aku membaringkannya lagi dan membawa mangkuk bekas sup itu untuk dibersihkan, tetapi hanya beberapa langkah setelah Aku beranjak dari tempatku duduk, kakiku menyerah dan Aku pun terjatuh. Mangkuk kosong yang dipegang oleh tanganku terlepas dari pegangan tanganku.
Tangan dan kakiku terasa sakit. Perban putih yang membalut jari-jari tanganku berubah menjadi merah oleh darahku yang keluar akibat luka yang membuka lagi.
"Violet, apa yang terjadi disana?" Tanya Orion mengalihkan pandangannya yang memudar kearah suara tersebut.
"T-tidak ada apa-apa. Kau harus istirahat, obatnya butuh waktu untuk bekerja."
Secara perlahan, Aku bangun dari tempatku terjatuh, mencoba memaksakan kakiku untuk berdiri lagi, tanganku kembali memegang mangkuk yang tadi terjatuh dan berjalan keluar secara perlahan dari kamar tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seasonal Feathers
Romance"Jika suatu hari, suaraku tidak bagus lagi, Apakah kau akan tetap mencintaiku?" tanya Violet.