Sudah satu tahun sejak Ia pergi. Meninggalkan sepucuk surat dan sehelai bulu berwarna putih. Saat itu, saat Aku melihat tangannya yang berubah menjadi sebuah sayap, jujur saja Aku merasa terkejut.
Tapi itu bukan sebuah alasan untukku, untuk membencinya. Apapun bentuknya, bagaimana pun wujudnya, Ia tetaplah orang yang Aku cintai. Seseorang yang sudah mengisi kesendirianku selama dua tahun ini. Seseorang yang telah menyelamatkan nyawaku. Seseorang yang mencintaiku dengan tulus.
Tapi walaupun begitu, satu-satunya hal yang bisa Aku lakukan hanyalah menunggu. Aku percaya suatu hari nanti ia akan kembali ke sisiku, sampai hari itu tiba, Aku akan tetap menunggunya.
Melihat ke arah langit dan menatap burung-burung yang terbang di atas sana. Aku tidak bisa berhenti berpikir tentangnya, dan keberadaannya saat ini.
Dimana pun Ia berada, Aku hanya berharap, semoga Ia bisa tetap terbang dengan bebas, sama seperti di hari itu.
.
Salju berjatuhan di luar sana – sama seperti waktu itu, langit pun sudah menunjukkan malam hari saat Aku berniat untuk segera tidur dan mendengar suara ketukan dari arah pintu rumahku.
Aku berjalan kearah suara ketukan itu, membuka pintu secara perlahan dan menemukan dirinya berdiri disana dengan jubah berwarna putih yang menutupi sekujur tubuhnya. Ia tersenyum. Senyum yang indah bagaikan bunga yang tersemat di namanya. Walaupun di luar sana dinginnya salju masih berjatuhan, saat Aku membiarkannya masuk ke dalam, saat itu juga Aku bisa merasakan kehangatan dari musim semi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seasonal Feathers
Romance"Jika suatu hari, suaraku tidak bagus lagi, Apakah kau akan tetap mencintaiku?" tanya Violet.