getaran

87 8 0
                                        

Nick tidak bisa menahan hatinya. Sudah seminggu belakangan ini dia diam-diam mengamati Wendi namun selalu gagal mendekatinya. Dia gelisah bahkan untuk melakukan kesehariannya, selalu Marb yang mengingatkan.

Melihat kondisi cucunya yang memperihatinkan hati Marb tergugah. Cucunya itu tidak pernah jatuh cinta jadi mana bisa Nicknya menggoda gadis. Jika sudah begini Marb harus turun tangan. Dia harus melakukan ritual khusus guna membantu Nick.

***

Seminggu lebih setelah Wendi resmi menjadi seorang mahasiswa. Dia selalu disibukkan aktivitas kampus yang melelahkan. Pergi pagi diantar Dadnya, pulang agak larut diantar Nelly, teman kampusnya. Tugas yang menumpuk serta praktek langsung di pertenakan sungguh menguras otak serta tenaganya. Belum lagi tatapan serta perasaan selalu diawasi sepanjang malam yang menimpa dirinya. Sungguh paket lengkap yang menyengsarakan.

Greg, mungkin hanya dia sajalah yang bisa sedikit menenangkan hati serta pikirannya yang kalut. Tapi setelah membaca surat itu agaknya dia kelupaan sesuatu. ya, Wendi belum menghubungi nomer yang diberikan Greg kemarin. Rutinitas kuliah serta ketakutan akut telah menenggelamkan permintaan Greg diakhir surat.

Dan pada suatu sore ketika kelas telah usai. Wendi berkemas agak buru-buru. Memasukkan semua buku kedalam tas cangklong miliknya.

"Mau kemana, buru-buru amat?" tegur Nelly yang kebetulan melihat.

Gadis berambut menggombak itu masih duduk di bangku depan Wendi. Menulis catatan tentang tugas yang harus disetorkan minggu depan.

"Aku mau ke telpon umum."

"Untuk apa?"

"Mau menelpon teman." Wendi menutup tasnya lalu berdiri.

"Wen, pulang bareng gak?" tawar Nelly seperti biasa.

Alasan kenapa Nelly selalu bersedia memberi tumpangan kepada Wendi selain arah rumah mereka yang searah juga karena Nelly sangat membutuhkan Wendi.

"Sepertinya untuk kali ini tidak. Aku akan naik Qwert saja."

Qwert sendiri adalah angkutan massal yang menyerupai bus kecil tanpa atap dan jendela. Hanya berisi bangku panjang, pegangan gantung serta pembatas dikedua sisi yang terbuat dari kayu. Dengan jam operasional mulai dari pukul 6 pagi sampai 5 sore. Qwert juga termasuk angkutan favorit turis asing di Wolfdolf.

"Yakin?"

"Ya, Nelly. Ok, aku duluan, bye."

Wendi berjalan tergesah meninggalkan kelas juga Nelly yang masih melihat kepergiannya tak rela.

Keluar dari kelas, Wendi segera menuju ke perempatan jalan sebelah kampus, yang mana terdapat telpon umum berbentuk sarang burung warna perak di salah satu sudutnya.

Setelah seminggu lebih berada di kota, Wendi mulai mengenal dengan baik tata letak setiap bangunan. Sepertinya setelah ini dia harus meminta Dadnya membelikan motor.

Wendi masuk, dan lalu memutar nomor Greg. Surat dari Greg selalu dibawa kemana-mana karena surat itu disimpan dalam dompet miliknya.

Tuuuut, tuuuuut, tuuuuut.

Wendi menunggu, lalu terdengar telpon diangkat.

"Halo?"

Suara serak lelaki yang menggangkat membuat Wendi salah tingkah.

"Halo," sahutnya.

"Ini siapa?" tanya suara di seberang.

"Wendi," katanya pelan.

Hening, tidak ada jawaban ataupun respon. Wendi mengernyit menjauhkan gangang telpon memastikan bahwa sambungan masih berjalan.

"Alamatmu di mana?" tanya suara itu parau. Napasnya terputus-putus.

Ketika Werewolf Jatuh Cinta ( Tamat )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang