kelompok baru

69 8 0
                                        

Pagi setengah siang, matahari tampak senang memancarkan kilaunya membuat suasana lebih hangat dari biasanya.

Seperti biasa, hari ini Wendi berangkat kuliah diantar oleh Nick. Dengan mengendarai mobil milik George, mereka berdua menyusuri jalanan kota yang sudah ramai oleh aktivitas warga setempat.

Setelah insiden ciuman yang menimbulkan kekacauan alam semalam, serta teguran dari kakeknya yang bertalu-talu. Nick jadi binggung harus berbuat apa? Dia begitu menyukai gadis di sampingnya ini. Dan tak ingin melepaskannya. Namun, petuah kakek Marb juga tidak bisa dianggap enteng. Ah, kedua masalah itu memusingkan kepala Nick. Membuat Nick merasa di ujung jurang yang menuntutnya memilih salah satu. Selamat atau mati.

Wendi yang merasa janggal dengan kelakuan Nick. Hanya bisa diam mengawasi. Tak biasanya Nick mengabaikan. Setiap hari ada saja ulah maupun ocehan Nick yang membuatnya tersenyum. Belum lagi belaian serta genggaman tangan yang hangat, selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Dan hari ini Nicknya malah larut dalam pemikirannya sendiri. Wendi jadi ragu akan hubungannya sekarang bersama Nick. Apakah Nicknya bosan? Apa dia sudah tak dibutuhkan lagi? Atau jangan-jangan cinta Nick mulai pudar?

Memikirkan semua itu sungguh membuat Wendi gelisah. Dia mengorbankan cinta semasa kecilnya menggantung hanya demi Nick. Hatinya sudah memilihnya, dan panah asmara telah bersemayam.

Mata Nick menangkap kegelisahan Wendi. Batinnya terenyuh, ingin memeluk dan membelainya. Apa yang membuat gadisnya gelisah? Apa dia menangkap keanehannya?

"Wendi, apa yang kau pikirkan?" Nick mencoba mengorek.

Wendi mengangkat wajah yang sedari tadi menunduk. Memandang Nick penuh harap.

"Aku? Sedang memikirkanmu," ujar Wendi menohok.

Dia tidak tahu bagaimana caranya menyembunyikan sebuah rasa. Makanya dia memilih untuk jujur saja. Toh, emang seperti itukan yang ada di kepalanya.

"Kenapa?" Nick tetap memandang lurus ke depan. Sebenarnya dia tidak bisa melakukan ini. Namun, petuah Marb terus berulang-ulang di telinganya seperti sebuah kaset.

"Apa kau ada masalah Nick?" Wendi mulai mengelus paha Nick.

Serr!

Aliran darah Nick berdesir ngilu. Batinnya berkecambuk.

Seiring dengan gesekan yang dibuat Wendi. Angin ribut tiba-tiba datang penerpa. Menerbangkan apa saja yang dilaluinya. Termasuk sebuah tong sampah yang nyaris menghantam mobil yang dikendarai Nick.

"Nick, awas didepanmu?" teriak Wendi menatap nanar tong sampah yang terbang bersama angin.

Akhir-akhir ini cuaca tidak bisa diprediksi. beberapa detik lalu, tidak ada tanda-tanda cuaca buruk, tapi saat ini. Sungguh diluar dugaan. Didepan, tampak orang-orang berlarian panik menyelematkan diri.

Nick membanting setir kesisi jalan demi menghindari tong. Mobilnya hampir menabrak pohon kalau saja kakinya tidak cepat-cepat menginjak rem.

Wendi menarik tangannya dari paha Nick guna menutup wajah. Dan seketika itu juga angin ribut turut berhenti.

Saat mobil berhenti beserta hilangnya angin tadi. Nick baru menyadari sesuatu. Raut mukanya gamang bercampur tidak percaya. Wendinya? Apa yang dikatakan kakeknya? Semua itu? Terngiang kembali titah Marb setelah kejadian tanah gemuruh semalam.

"Akibat kulit selalu bersentuhan, juga tumbuhnya benih-benih cinta yang semakin subur. Tak akan terelakan aura yang kalian keluarkan kian bertambah kuat. Saking kuatnya hingga satu kali kulit kalian menempel akan menimbulkan rusaknya keseimbangan alam. Ingat Nick. Kakek menyesal karena pernah membantumu. Sekarang kau tidak merasakan akibat hubungan kalian. Akan tetapi, jika kau sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Kau akan tau, jika apa yang aku ucapkan padamu benar adanya."

Kalah itu wajah Marb tegang. Ia telah membuat kesalahan fatal dan tidak akan mengulanginya sekali lagi. Sudah cukup ramuan weakly serta ritualnya yang gagal total, dalam menangani aura Wendi. kali ini dia tidak akan membiarkan Nick larut dalam hubungan terlarang bersama Wendi. Semua harus dihentikan dan semestinya tidak boleh terjadi.

"Kakek, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku sangat mencintai Wendi. Dia juga mencintaiku, Kek."

"Karena cinta kalian salah Nick. Aura kalian bertolak belakang. Kalau saja Wendi gadis biasa-biasa saja, seperti kebanyakan gadis pada umumnya, Kakek pasti akan mendukungmu."

"Apa aku harus menjauhi Wendi?"

"Ya, itu satu-satunya cara. Supaya tidak terjadi lagi bencana alam karena perasaan kalian."

Masih segar diingatan Nick amanat kakeknya. Jadi ini yang dimaksud Marb. Gesekan antar kulit bisa mendatangkan bencana, padahal tadi Wendi hanya mengusap pahanya. Tapi angin sudah sebesar itu berhembus. Pantas saja saat berciuman semalam, sampai terjadi gempa bumi. Tadinya dia meragukan. kini begitu tahu, jadi kebingunggan.

"Nick kau tidak apa-apa?" Wendi selesai merapikan rambutnya dan bermaksud merapikan rambut Nick yang juga berantakan.

Namun, ketika tangan Wendi hendak menggapai pucuk kepala. Nick mengelak.

"Jangan sentuh aku," tolak Nick memalingkan wajah.

Wendi melonggo. Netranya memandang Nick tak percaya.

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan sentuh aku," celoteh Nick semakin membuat Wendi penasaran.

"Iya, aku tahu. Tapi kenapa?"

"Karena ...." Nick tak bisa mengatakannya. Ini berat.

Kalau memang benar, sekali gesekan kulit dapat berakibat buruk seperti tadi. Mengapa yang tiga bulan kebelakang masih biasa saja? Tidak ada efeknya. Ya, benar. Kenapa masa-masa itu tidak terjadi apa-apa? Kalau begitu siapa di sini yang berbohong? Lalu angin tadi?

Nick harus mencari tahu penyebabnya. Dia sangat menyukai Wendi dan tidak ingin melepaskan gadis itu. Tanpa memberi jawaban kepada Wendi. Dia langsung keluar dari mobil dan berlari kesegala arah. Menyisahkan Wendi dalam kebingunggan.

÷÷÷÷°÷÷÷÷÷÷÷°÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷°÷÷÷÷÷

Karena kepergian Nick tanpa alasan tadi. Wendi sampai harus mengemudikan mobil seorang diri. Sebenarnya, dia tidak begitu pandai mengemudi. Akan tetapi paksaan yang berasal dari batin yang bergelora membuat kemampuannya sedikit terasah. Dengan pelan dilajukannya mobil hingga akhirnya sampai di kampus.

Dengan wajah murung Wendi berjalan menyusuri halaman kampus, melewati segerombolan mahasiswa yang tengah asyik membully mahasiswa lainnya.

Seorang dari mahasiswa itu menarik diri ketika Wendi berlalu melewatinya. Sebuah seringaian kejam menghiasi wajahnya diikuti endusan hidung tiada henti. Kepalanya mengikuti kemana arah Wendi melangkah.

"Ada apa Luca?" tanya teman mahasiswanya tatkala melihat ketua gengnya menyeringai aneh.

"Aku mau gadis itu?" pinta pria bernama Luca sembari menunjuk punggung Wendi.

"Perintahmu adalah tugas untukku," mahasiswa tadi membungkuk lalu bergegas menghubungi teman-temannya, memberitahu keinginan sang pimpinan.

Sementara Luca masih mengawasi Wendi tetap dengan seringaian piciknya. Maniknya yang berwarna kuning cerah berkobar-kobar menyulut setiap sendimen jiwa liarnya.

"Bau ini, aku suka. Aku telah menemukanmu, wahai manusia murni," gumam Luca kemudian terbahak, membuat mahasiswa lain yang melintas menatap aneh.

Ketika Werewolf Jatuh Cinta ( Tamat )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang