Insecurity : 5.

110 32 0
                                    

"maaf aku tadi keasyikan cerita sama minho hyung, jadinya lupa waktu deh," jisung terkekeh sambil mengikuti langkah woojin yang berada di depannya.

woojin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memukul kepala pemuda yang lebih muda di depannya dengan kepalan tangannya pelan. sebenarnya ia merasa sedikit khawatir saat jisung tidak kembali ke bawah saat waktu konsultasinya sudah melewati jam yang ditentukan, namun ia sedikit lega saat melihat jisung hanya asyik bercerita dengan pemuda berambut dirty blonde itu. sudah cukup lama ia tidak melihat jisung seperti itu, terutama sejak... saat itu. woojin tidak mau mengingat kejadian itu lagi.

"nggak papa, sekarang sana kamu ke changbin. dia sudah beres-beres sendirian."

jisung memberi hormat kepada pemilik cafe itu sebelum bergegas ke meja depan, menerima jitakan dari changbin karena membiarkannya membersihkan kekacauan di meja itu sendirian. ia mulai mencuci gelas yang ada di sisi changbin, bersiul-siul senang sampai sebuah suara memanggilnya dari belakang.

"jisung," jisung menoleh, menemukan minho yang tersenyum ke arahnya, sepertinya pemuda itu mau pulang.

"iya, hyung?"

"terima kasih hari ini, aku pulang dulu," ucap minho sebelum melambaikan tangannya dan berjalan keluar bangunan cafe itu.

"hati-hati di jalan, hyung, jangan lupa datang lagi!"

ia bisa mendengar suara kekehan minho sebelum membalikkan badannya untuk menyelesaikan pekerjaannya, sama sekali tidak menyadari pandangan aneh changbin ke arahnya. changbin mengeringkan tangannya, kemudian menyenderkan badannya pada meja barista sambil memperhatikan tingkah jisung yang terlihat lebih ceria hari itu.

"jadi, bagaimana kamu bisa seakrab itu dengan pelanggan baru?"

jisung yang sedang mengeringkan tangannya memiringkan kepalanya dan tertawa, "nggak tau, sebenernya aku juga bingung sih. minho hyung beda sama pelanggan lainnya," ia tidak bisa tidak tersenyum saat mengingat bagaimana awkward nya mereka pada awalnya.

"berbeda bagaimana?"

"dia tidak bercerita apapun, malah menyuruhku yang bercerita."

changbin mengerutkan dahinya mendengar penjelasan jisung, hal itu tidak biasanya terjadi pada pelanggan yang mengikuti event happy hour. hal yang terjadi seharusnya adalah di mana jisung memberikan saran kepada pelanggan yang mencurahkan perasaan dan masalah yang mereka punya. jadi, kenapa malah jisung yang bercerita pada minho?

"sepertinya minho hyung nggak banyak bicara, tapi saat aku cerita kadang-kadang hyung ikut nambah-nambah cerita gitu. awalnya aku bingung tapi lama-lama aku enjoy aja, aku sudah lupa rasanya cerita kayak gitu tanpa ngerasa takut ngomong kebanyakan," jisung terkekeh, "saat aku minta maaf, minho hyung malah menyuruhku melanjutkan ceritaku. aku lega soalnya aku udah takut dimarahin soalnya...," jisung tersenyum, kali ini senyumnya agak sedih, "soalnya dulu 'dia' marah sama aku."

changbin berjalan mendekat ke arah jisung dan mengusak rambut merah pemuda yang lebih muda itu, berusaha membuat jisung melupakan apa yang barusan dipikirkannya.

"nggak ada yang bakalan marah sama kamu, sung, minho-ssi juga nggak masalah kamu banyak cerita. jangan diingat-ingat lagi, 'dia' nggak penting."

pemuda yang lebih muda itu mengangguk, sebelum kembali memasang senyumnya. tapi changbin menyadari kalau senyumnya tidak seceria jisung yang biasanya. changbin hanya bisa menghela napas, membiarkan jisung berjalan ke ruang staff untuk mengambil barang-barangnya.

"kapan kamu akan berhenti menyalahkan dirimu sendiri, sung?"

ʕ'•ᴥ•'ʔ

hwall memperhatikan bagaimana jisung mencoret-coret buku catatannya saat huh gak seonsaengnim menjelaskan bagaimana budaya bangsa inggris yang dipengaruhi oleh sejarah mereka, pemuda itu memiringkan kepalanya saat wajah jisung semakin murung dan murung. ia membalikkan badannya ke arah jisung, meletakkan kepalanya di meja dan melihat bagaimana jisung mengerucutkan bibirnya seperti sedang memikirkan sesuatu.

"jadi, aku tidak mau mengganggu kinerja otakmu yang sepertinya sudah overdrive mengingat kamu tidak memperhatikan dosen kita sama sekali, tapi aku penasaran kamu kenapa, squirrel?" tanya hwall saat dosen mereka keluar dari ruangan kelas.

jisung masih saja tidak mengacuhkannya, masih terlalu asyik dengan dunianya. hwall menghela napas, sudah biasa dengan perilaku teman semasa sma nya saat ia terlalu fokus pada pemikirannya. ia akhirnya menyenggol tangan jisung yang dijadikan topangan kepalanya, membuat pemuda yang lebih pendek itu nyari membenturkan dagunya ke meja.

"HEO HYUNJOON!"

jisung berteriak saat ia berhasil menyelamatkan dagunya saat bagian tubuhnya itu nyaris mencium meja, ia tidak percaya teman yang sangat ia percayai itu tega mengkhianatinya. hwall hanya melihatnya dengan pandangan tidak tertarik, sama sekali tidak ada rasa bersalah di matanya yang terlihat bosan itu.

"aku sudah memanggilmu berkali-kali sejak seonsaengnim keluar dari ruangannya, ini cara terakhir selain melemparmu dengan binderku."

jisung menutup mulutnya yang sudah siap melontarkan seribu nama hewan ke arah temannya itu, mengerjapkan matanya dan menunjukkan senyum bersalah. hwall hanya menghela napas sudah terlalu hafal dengan kelakuan ajaib jisung.

"maafkan aku, sahabatku, jadi ada apa?"

"tidak jadi, aku sudah malas. bahkan kacang lebih mahal daripada aku, aku sama sekali tidak didengarkan, aku sedih."

jisung memutar matanya saat hwall berkata dengan dramatis, sebelum memukul kepala pemuda yang bersangkutan dengan pulpen di tangannya, "jangan mendramatisir keadaan, itu tugasku."

"aku tadi tanya, kamu kenapa? wajahmu berganti lebih cepat daripada mantan pacarmu yang bermuka dua itu," seloroh hwall sebelum ia menutup mulutnya dengan cepat, tidak percaya ia kelepasan menyebut mantan pacar jisung yang brengsek itu.

pemuda yang lebih tinggi itu sangat ingin membenturkan kepalanya keras ke dinding saat sahabatnya kembali menunjukkan wajah muram, ia merasa gagal sebagai teman. hwall melihat ke kanan dan ke kiri panik, "MAAF AKU HARUSNYA TIDAK MEMBAWA-BAWA DIA!"

jisung hanya menggeleng, memaksakan senyum yang malah membuat hwall semakin khawatir. pemuda itu akhirnya menampar dirinya sendiri, mengejutkan jisung yang melihatnya dengan pandangan aneh campur terkejut.

"ayo keluar, aku traktir cheesecake!" hwall memasukkan barang-barangnya dan barang-barang jisung, tidak menghiraukan jisung yang kebingungan, sebelum menarik temannya itu untuk keluar dari kelas.

ʕ'•ᴥ•'ʔ

"are you feeling better now?" tanya hwall takut-takut, ia sudah memarahi dirinya berkali-kali di dalam otaknya karena sudah berani-beraninya membahas soal mantan jisung yang sangat dibencinya.

"aku baik-baik saja, kenapa takut gitu sih?"

hwall rasanya ingin bersujud meminta maaf saat jisung masih tersenyum seperti itu, ia akhirnya berusaha mengganti topik dengan topik yang lebih membahagiakan, setidaknya sampai jisung tidak mengingat persoalan mantannya lagi.

"jadi, tadi kenapa kamu keliatan senang banget?"

jisung memiringkan kepalanya, sebelum tersenyum, kali ini lebih tulus. ia terkekeh saat mengingat kejadian kemaren, ia masih tidak bisa percaya jika ia bisa berbicara sepanjang itu. jisung menyuap satu sendok kue ke dalam mulutnya, sebelum melihat ke arah temannya.

"jadi begini..."

STRAY CAFETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang