"jisung! ayo cepat, nanti kamu terlambat!"
"iya, eomma, sebentar ini aku masih beresin buku," jisung berteriak dari kamarnya saat ibunya mulai menaikkan suaranya.
pemuda itu tambah panik saat melihat jam dinding yang ada di kamarnya, ia masukkan bukunya secara asal sebelum bergegas turun ke lantai bawah. jisung hanya bisa menggerutu saat melihat kakak laki-lakinya tertawa bersama keluarganya di meja makan, memukul lelaki yang lebih tua itu agak keras.
"hyung, kenapa nggak bangunin aku?!"
"eh?! aku udah ngebangunin ya?! kamu aja yang kayak kayu, dibangunin nggak bisa!"
kedua bersaudara itu berdebat di meja makan, tidak ada satu pun yang mau mengalah karena merasa sama-sama benar. satu-satunya wanita yang ada di keluarga itu hanya bisa menghela napas dan menyajikan kopi panas di depan suaminya yang tidak menghiraukan pertengkaran yang selalu terjadi di pagi hari.
"sudah jam delapan, kamu nggak berangkat?"
jisung berteriak, memukul kakaknya dan menghindar agar tidak terpukul balik. ia bergegas ke arah ibunya, mencium pipi wanita itu sebelum pamit kepada ayahnya. tidak lupa ia menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya yang hanya menunjukkan jari tengahnya ke arah adiknya itu, mengakibatkan kepalanya dipukul koran oleh ayahnya.
"aku berangkat!"
ʕ'•ᴥ•'ʔ
jisung menenggelamkan kepala di lipatan tangannya, kepalanya terasa akan meledak menerima banyak sekali informasi yang diberikan dosennya. pemuda di sebelahnya membenturkan kepalanya di meja, membuat jisung menendang tulang kering pemuda itu. hwall mengaduh keras dan menendang balik kaki jisung, tidak terima kekerasan yang diterimanya tanpa alasan.
"aku... tidak mampu... aku benci jackson seonsaengnim," ucap jisung lirih, meratapi tugas yang terpampang di papan tulis, "kita sudah mahasiswa tahun akhir for God's sakes."
hwall kembali membenturkan kepalanya, "jangan diingatkan, aku tidak mau mengingat skripsiku lagi."
setelah meratapi hidup dan masa depan mereka selama beberapa menit, kedua pemuda itu akhirnya bangkit, memutuskan untuk melupakan segalanya dengan makan di kafetaria fakultas mereka. mereka sempat berdebat lagi mengenai makanan apa yang harus mereka beli karena mereka terlalu malas untuk mengantri, sehingga mereka memaksa satu sama lain untuk membelikan porsi untuk berdua.
hwall dan jisung memang sudah dekat semenjak sekolah menengah atas. hwall yang pernah tinggal di filipina banyak membantu jisung yang baru kembali ke korea dari malaysia, mereka cukup banyak berbicara dengan bahasa inggris mengingat sekarang mereka adalah mahasiswa tahun terakhir di sastra inggris.
debat itu dimenangkan oleh hwall, membuat jisung hanya bisa menggerutu saat ia terpaksa mengantri dengan rombongan gadis-gadis yang masih bingung memilih makanan saat mereka sudah di barisan terdepan antrian, membuat penantiannya semakin panjang. sebagai barista, jisung juga tidak menyukai pelanggan yang seperti itu, ia tidak cukup sabar menunggu pelanggannya memilih saat mereka sudah harus memesan.
"kamu tau soal kru dance yang biasa busking di hongdae, kemaren mereka ngecover lagu bts," jisung mendengar salah satu dari beberapa gadis di depannya bergosip.
jisung beberapa kali menonton busking di hongdae bersama hwall, meskipun mereka anak sastra inggris, tapi mereka memiliki ketertarikan dalam bidang musik dan dance. sayangnya kedua anak itu tidak mendapat restu kedua orang tuanya untuk mengejar ketertarikan itu, setidaknya orang tua mereka masih menerimanya sebagai hobi. seingat jisung memang banyak sekali orang yang melakukan busking dance di sepanjang jalan hongdae, tapi ia tidak terlalu memperhatikannya. ia baru akan mendengarkan gosip itu lebih lanjut, tapi rombongan itu sudah selesai memesan, membuatnya hanya bisa terdiam penasaran.
"giliran udah penasaran malah selesai mesan, beneran deh," gerutu jisung padahal sebelumnya dia marah-marah karena gadis-gadis itu menghabiskan waktunya.
ʕ'•ᴥ•'ʔ
"bagaimana skripsimu, sung?" tanya hyunjin iseng saat ia menemukan jisung kembali melamun, membuat pemuda yang lebih pendek itu melihat ke arahnya marah.
"hwang hyunjin, bisakah kita tidak membahas tugas akhirku yang sudah pasti masih belum selesai?!"
hyunjin hanya tertawa keras, membuat beberapa pelanggan melirik ke arahnya bingung. ia berbalik dan meminta maaf, sebelum kembali menatap jisung dengan pandangan menggoda, "jangan marah dong, manis."
"jijik, hwang."
hyunjin dan jisung memang sering kali bertengkar, bahkan di awal jisung bekerja sebagai barista, ia dan hyunjin sempat mengalami ketidakcocokan di mana mereka sampai harus pura-pura akrab karena woojin lelah melihat pertengkaran mereka yang tiada akhirnya. untungnya masa itu sudah lewat karena siapapun tidak ingin melihat dua pemuda itu bertingkah kekanakan lagi. sekarang mereka masih sering berdebat, biasanya karena hyunjin yang menggoda jisung atau jisung yang mengerjai hyunjin, tapi mereka berdua tahu kalau mereka hanya sekedar bercanda.
"bin hyung, aku minta croissant coklat satu. pelanggan lantai atas memesan satu tadi, aku lupa bilang."
changbin menggerutu mendengar hyunjin sebelum mempersiapkan pesanan pelanggan, meninggalkan jisung yang menyiapkan minuman untuk pasangan yang memesan di depan. hyunjin masih menyenderkan badannya di sebelah meja, menunggu changbin.
"ini, kembali ke atas, aku malas melihat wajahmu."
"malas atau capek mendongak, hyung?" tanya hyunjin sambil mengambil piring berisi croissant itu dan bergegas ke atas sebelum changbin sempat melemparkan gelas keramik yang ada di dekatnya, jisung tertawa keras.
"kamu tidak beda tingginya denganku, bocah!"
"hey! aku sedikit lebih tinggi darimu, hyung!"
"diam atau aku lempar piring ini?" changbin sudah berancang-ancang mengangkat piring yang ada di meja dan bersiap melemparnya ke kepala jisung.
"woojin hyung, changbin hyung mulai lagi!"
ʕ'•ᴥ•'ʔ
rabu selalu menjadi hari yang pelan bagi jisung, selain karena ia bekerja full shift, ia juga harus menemani pelanggannya nanti sore. jangan salah, jisung sangat suka melakukan happy hour service, mendengarkan orang lain bercerita membuatnya sedikit banyak memiliki pandangan yang lebih luas tentang dunia.
"ada pelanggan baru untukmu, sung-ah," jisung menengok saat woojin memberikan kertas berisi daftar pelanggan untuknya siang itu.
"oh? tumben, hyung."
"sepertinya dia pelanggan baru, aku belum pernah lihat soalnya," kata woojin sebelum berbalik sambil membawa nampan berisi pesanan pelanggan ke lantai atas.
jisung melihat daftarnya, menyadari ada satu nama yang memang belum pernah dilihat sebelumnya. ia mengerjapkan matanya, bertanya-tanya kira-kira apa masalah pemuda ini sampai ia memintanya menjadi teman berceritanya.
'lee minho. namanya seperti aktor lee minho-lee minho itu,' pikirnya.
siapapun itu, jisung berniat untuk melakukan yang terbaik. sesuai dengan visi dari cafe mereka, ia akan membuat siapa pun 'lee minho' itu keluar dengan perasaan yang lebih baik.

KAMU SEDANG MEMBACA
STRAY CAFE
Fiksi Penggemarsebuah cafe dengan lima orang pemuda sebagai staff nya. semoga kau keluar dari cafe ini dengan senyum yang sedikit lebih lebar, beban yang sedikit lebih ringan, hati yang sedikit lebih bahagia. di cafe ini kami tidak hanya menyajikan minuman atau ma...