Geovano-4: Pekerjaan

501K 26.8K 801
                                        

Uang memang bisa membeli segalanya, tapi segalanya tidak selalu tentang uang. Dan harga diri manusia jauh lebih tinggi dari uang sebesar apapun nominalnya.

~ ~ ~

KINI Rafa dan Geovano sedang duduk di kursi yang tersedia di klinik 24 jam. Rafa sudah di periksa dan untungnya dokter berkata bahwa dirinya tidak apa-apa hanya lebam biasa yang akan sembuh dengan sendirinya. Dokter hanya memberi Rafa obat pereda nyeri dan salep untuk beberapa bagian tubuhnya yang lecet.

Rafa bersyukur karena dirinya masih selamat. Sejujurnya ia bingung bagaimana mengucapkan terimakasih kepada Geovano yang sudah menolongnya karena menurutnya tidak mungkin hanya mengucapkan terimakasih bukan?

"Geovano saya sangat berterima kasih karena kamu sudah menolong saya. Karena jika kamu tidak menolong saya, malam ini mungkin saya sudah tidak bernyawa." Rafa tersenyum hangat terhadap Geovano yang sedari tadi diam.

"Om bisa memanggil saya Vano, dan sama-sama om. Kebetulan tadi saya hanya lewat dan melihat kejadian itu" Geovano berbicara masih dengan wajah datar dan dinginnya

"Saya tidak tau bagaimana mengucapkan terimakasih, bagaimana kalo dengan mentraktir kamu makan?" Rafa merasa masih tidak enak jika dia hanya mengucapkan terimakasih atas pertolongan Geovano

"Om simpen aja uang om. Lagian hidup gak selamanya tentang uang walaupun segalanya butuh uang"

Entah untuk keberapa kalinya Rafa di buat terperangah dengan sikap seorang Geovano. Pemuda ini sangat sulit di tebak, pikirnya.

"Boleh saya bertanya?" Rafa ingin menanyakan sesuatu namun sebagai sopan santun ia meminta izin terlebih dahulu

"Silahkan"

"Kamu tidak di cari oleh orangtua mu tengah malam belum pulang?" Rafa bertanya hati-hati takut menyinggung perasaan Geovano.

Si lawan bicara tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak seolah dirinya juga berpikir dia masih punya orang tua atau tidak?

"Orangtua saya tidak ada" Geovano menjawab dengan tenang seolah tidak merasa sedih.

"Kamu punya pekerjaan?" Rafa mengalihkan pertanyaanya walaupun ia masih penasaran dengan orangtua Geovano

"Tidak" Geovano masih memasang wajah datarnya dan hanya menjawab pertanyaan Rafa sekenannya

Rafa menghela nafas mendengar jawaban Geovano yang begitu singkat "Saya punya pekerjaan kalo kamu mau" Rafa mengutarakan apa yang sedari tadi ada dalam benaknya

"Pekerjaan apa?" Geovano bertanya tanpa merubah ekspresinya sedikitpun

"Saya sedang mencari bodyguard" Rafa menatap serius ke arah Geovano

"Untuk anda?" Geovano bertanya dengan suara yang masih flat

"Bukan untuk saya, tapi untuk anak saya."

Geovano terdiam, seolah memikirkan penawaran Rafa.

"Saya tau kamu terlalu muda untuk pekerjaan itu dan mungkin pekerjaan ini akan membahayakan keselamatan kamu, tapi saya benar-benar serius menawarkan ini karena saya yakin kamu bisa menjaga anak saya. Untuk masalah gaji, kamu bisa menentukan sendiri berapa nominalnya saya akan beri selagi saya mampu." Rafa terus berbicara seolah membujuk Geovano agar menerima tawarannya.

Sedangkan Geovano ia masih terdiam, tampak bahwa pemuda itu tengah berpikir untuk menerima atau menolak tawaran tersebut. Rafa berharap Geovano akan menerimanya tapi ia tidak yakin melihat betapa flatnya sikap Geovano bahkan ketika berbicara dengannya.

"Oke saya mau" setelah beberapa menit terdiam akhirnya Geovano bersuara "Dan saya ingin di gaji 5 juta perbulan"

Rafa tersenyum senang mendengar jawaban Geovano "Baik kalo begitu, masalah gaji saya akan urus." Dengan begini Rafa pikir ia akan tenang melepas putrinya untuk sekolah umum setelah 6 bulan hanya menghabiskan waktu di rumah.

"Tapi saya tidak bisa melakukannya 24 jam karena saya masih sekolah"

Rafa kaget, ia pikir pemuda di hadapannya sudah kuliah tapi ternyata masih sekolah?

"Kamu sekolah SMA?"

"Iya saya masih SMA kelas sebelas"

Jadi laki-laki dihadapanya ini masih sekolah? Kelas sebelas SMA? Dan beberapa jam yang lalu laki-laki ini baru saja menyelamatkannya? Melawan sepuluh orang begal yang membawa senjata dalam waktu kurang sepuluh menit? Bagus Rafa terperangah untuk kesekian kalinya oleh laki-laki ini.

"Dimana kamu sekolah?"

"SMA Pelita"

Wajah Rafa semakin bersinar mendengar pernyataan Geovano "Anak saya juga sekolah disana"

Tepat setelah Rafa menyelesaikan ucapannya, ponsel di sakunya berbunyi. Ia melihat siapa yang menelponnya tengah malam ternyata asisten rumah tangganya

"Halo bi ada apa?"

"Maaf tuan, tuan dimana ya?" Bi Wati di seberang sana terdengar panik

"Saya mau pulang kok bi, ada apa? Kok bibi kayaknya panik?" Rafa menegakkan tubuhnya ia jadi ikut panik mendengar suara Bi Wati

"Anu tuan saya sedang di Rumah Sakit Harapan Kasih"

"Lho siapa yang sakit bi? Itu kan rumah sakit biasa Safira berobat?" Rafa semakin tegang menunggu jawaban Bi Wati

"Non Fira pingsan di ruang tamu setelah mengeluh sakit perut dan sakit dada tuan, non Fira juga mimisan. Sekarang non Fira masih di ICU"

"Tunggu, saya kesana bi" Rafa mematikan ponselnya, kemudian berdiri membuat Geovano yang sedari tadi diam memperhatikannya ikut berdiri

"Saya harus pergi, anak saya masuk rumah sakit. Kita bisa bicarakan ini nanti, kamu bisa menghubungi saya" Rafa mengeluarkan kartu nama miliknya kemudia melangkah meninggalkan Geovano sendiri

Geovano mengambil kartu nama tersebut, menyimpannya dan bergegas mengejar Rafa

"Om Rafa!" Geovano memanggil Rafa yang sudah berdiri dekat mobilnya, kemudian ia menghampiri Rafa

"Biar saya yang nyetir, saya antar om ke Rumah sakit itu"

"Oke" tanpa basa basi lagi Rafa masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku samping kemudi. Sedangkan Geovano ia duduk di balik stir kemudi dan melajukan mobil meninggalkan area klinik.

~~~

GC WA KE-2 DI BIO AKU YA

FOLLOW AKUN ROLEPLAYER

gegeo.brawijaya

melodyyysafiraa

alvianreindra

ren.ataac

baralanggana

keissha.a

anantarialena

reza.pramoedya


GEOVANO [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang