RAFA langsung berlari menuju ICU tanpa memperdulikan tubuhnya yang masih sakit. Sesampainya depan ICU ia melihat bi Wati yang sedang duduk disana.
"Gimana bi keadaan Safira?" raut cemas begitu tercetak jelas di wajah Rafa
"Dokter belum keluar Tuan" Bi Wati menatap takut ke arah Rafa, karena ia tahu bahwa Rafa begitu menyayangi Safira
Rafa mengusap kepalanya gusar "Bibi pulang aja sama pak Dadang biar saya yang nungguin Safira"
"Baik Tuan, kalo begitu saya permisi" Bi Wati pun berlalu dari hadapan Rafa
Rafa duduk di bangku yang tersedia, perasaanya sangat gelisah mengenai kedaan Safira. Rafa mendengar suara langkah kaki, ia melihat Geovano yang berjalan cepat kearahnya, bertepatan dengan pintu ICU yang terbuka.
Rafa menghampiri Dokter yang baru saja keluar dan langsung menodong dokter dengan berbagai macam pertanyaan.
"Anak saya gapapa kan dok? Dia baik-baik aja kan dok? Gak ada yang harus di khawatirin kan dok?"
"Tenang pa, sekarang lebih baik bapak masuk dulu dan lihat keadaan anak bapak, setelah itu saya tunggu di ruangan saya" Dokter berlalu begitu saja, bukan ia tidak ingin menyampaikan keadaan Safira tapi ia ingin agar Rafa tenang dan melihat keadaan Safira langsung.
***
Gadis itu terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Matanya terpejam dan wajahnya pucat. Layar monitor EKG di sampingnya menyala, menampilkan garis hijau bergelombang menandakan bahwa masih ada kehidupan dalam tubuh gadis itu.
Rafa menatap nanar gadis di hadapannya, matanya berkaca-kaca. Dia belum sanggup untuk merasa kehilangan lagi.
"Bangun sayang, tolong jangan tinggalkan papah. Cuma kamu yang papah punya" Rafa menggenggam tangan Safira yang tidak di infus. Menggenggam nya seakan memberi kekuatan untuk Safira, berharap genggamannya dapat membuat mata itu terbuka.
Rafa menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya. Laki-laki yang beberapa menit lalu menyelamatkan nyawanya. Laki-laki yang entah kenapa bisa ia percayai untuk menjaga putri kesayangannya.
"Saya pergi dulu untuk menemui dokter, saya titip anak saya ke kamu" Geovano menatap balik Rafa yang masih menggenggam tangan seorang gadis yang terbaring lemah diatas brankar
"Iya om saya pasti jaga anak om" ucap Geovano yakin
Rafa tersenyum hangat, melepaskan genggaman tangannya kemudian pergi meninggalkan anaknya bersama seorang Geovano, lelaki asing yang bahkan belum ia kenal lebih dari 3 jam.
Geovano berjalan ketempat dimana Rafa berdiri. Menggenggam tangan mungil yang terlihat begitu kurus dan lemah.
Walaupun dengan mata yang masih terpejam Geovano tau bahwa gadis yang kini sedang terbaring lemah di atas brankar adalah gadis yang cantik. Kulit putih mulus, hidung mancung, bibir kecil yang berwarna pink sekalipun pucat tapi tak menutupi warna alami bibir tersebut.
Dan Geovano bertekad dengan seluruh hatinya, ia akan selalu melindungi gadis ini. Safira.
Gadis yang pertama kali mampu menyihirnya padahal tak ada yang gadis ini lakukan. Ia akan melindungi gadisnya sekalipun nyawa taruhannya.
Geovano membungkuk membisikkan sesuatu di telinga Safira.
"Bangun, aku siap melindungimu. Aku akan menunggu kamu. Bangunlah untukku sekalipun bukan untukku, bangunlah untuk papahmu"
Dan setelah itu mesin EKG berbunyi nyaring, layar monitor menampilkan garis lurus berwarna hijau. Dan saat itu, kehidupan dalam tubuh Safira telah tiada.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEOVANO [SUDAH TERBIT]
Fiksi Remaja[TELAH TERBIT DAN TERSEDIA DI GRAMEDIA] The Marvel Series 1 Dia Geovano si ketua geng Marvel Dia Geovano sang penguasa jalanan Dia Geovano si petarung jalanan yang tak tertandingi Dia Geovano si penguasa sekolah Dia Geovano yang kehadirannya selalu...
![GEOVANO [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/189037420-64-k253034.jpg)