Matanya menatap sekeliling, sedikit menghirup Udara baru yang sangat berbeda dari tempat kelahirannya, inilah perjuangan sesungguhnya.
"Jiyeon,, ayo .. Jangan sampai kita ketinggalan bis"
"Kau yakin tidak salah naik bis?"
"Dari alamat poster mereka yang beredar, aku yakin ini bis yang akan mengantar kita ke Kota itu"
Ia bahkan masih tidak percaya dengan dirinya, yang melangkah sejauh ini. Sungguh manusia pendendam yang amatiran. Seharusnya ia ikut kelas belajar balas dendam sebelum melangkah.
****###****
Rumah sekecil itu membuatnya memijit pelipis, satu kamar dapur mini ruang tamu dan kamar kecil dengan teras 2x1 mobil pun tak ada tempat jika ia punya.
"Apa yang punya rumah begitu matre!!"
"Jiyeon ini kota..."
"Aku tau!"
Tapi bukan kah lucu kontrak nya begitu mahal dengan fasilitas dan luas rumah hanya seperti ini. Sungguh menggelikan. Ingin sekali ia megatakan itu pada sooji tapi untuk berdebat ia tidak mampu untuk sekarang tenaganya habis terkuras menggendong bayinya.
Sooji hanya menatap nya kilas. Temannya itu selama ditinggal suaminya jadi sangat sensitif. Apa benar mitos yang mengatakan setelah punya anak wanita akan terlihat lebih bruntal * 🤔
22:12 KST
Mereka berbaring asal, melepas letih, seharian tenaga mereka ia gunakan membersihkan rumah kontrakan mereka, tepatnya kontrakan jiyeon.
"Aku sangat lapar"
"Aku sudah tidak sanggup memasak sebaiknya, kita cari makan diluar"
Sooji mematung dengan pernyataan jiyeon.
"Kita tidak tau dimana warung terdekat jiyeon, sadarlah kau ini orang baru 😑 " Sungguh sooji tak habis pikir dengan pemikiran jiyeon. Apa ia tak seharusnya berbaur dengan jiyeon yang notabene nya sorang Ibu-ibu. Bukan kah pemikiran ibu-ibu dan gadis itu sangat bertolak belakang.
"Lalu jika kau berdiam di rumah kau akan tau?"
Sooji bedecik kecil. "Jangan bilang kau tidak membawa bayimu??"
"Biarkan saja. Lagi pula diakan tertidur,. Pulang nanti juga dia belum bangun."
"Bodoh bagaimana jika ada yang mecurinya"
"Ini perumahan sooji kau lihat ada satpam yang menjaga di gerbang"
"Kau benar, kalau begitu cepatlah aku sangat lapar"
Sepertinya sooji sama bodohnya dengan jiyeon. Dimana otak mereka, seperti anak Tk yang memikirkan diri sendiri.
*****####*****
Malam itu sungguh indah untuk mereka yang pertama kali melihat kota yang begitu rame padahal malam sudah Larut, biasanya jika di desa seluruh pemilik rumah sedang bermanja di kamar masing-masing. Karena besoknya harus bekerja di Kebun.
"Sepertinya aku jadi tidak ingin kembali ke desa"
Jiyeon memutar bola matanya mendengar kalimat sooji. Kemarin ia setengah mati meminta wanita itu untuk mau menemani nya dan sekarang malah mengatakan tidak ingin kembali.
"Kurasa tempat itu menyajika makanan yang lezat,"
"Bagaimana kau tau?"
