Takdir

101 21 2
                                        


"Jadi kau akan menggantikan Yeri di bagian pemasaran?" Mendudukkan pantatnya pada salah satu kursi di warung Makan Mr.lee sembari menatap wanita di depannya
Yang juga menikmati jam istirahat.

"Hmmm. Yeri sedang cuti hamil." Wanita itu menjawab dengan senyum tipis sedikit di bungkus, sepertinya ia terlihat senang.

"Itu berarti kau akan ikut event di 5 provinsi?"

" Kau ini kemana aja Jimin.. bahkan aku yang menjadi sampul iklan nya.."

"Benarkah??" Memastikan ucapan wanita itu,.

"Hmmm.. aku sangat berterima kasih atas kehamilan Yeri.. berkat dia cuti, ada kesempatan untuk saya bisa di banggakan oleh Presdir..."

Ia tersenyum mengutarakan betapa senangnya dia.
Senyum itu senyum yang sudah lama tak ia tampakkan sejak kecelakaan yang merenggut suaminya. Terlalu larut dalam kesedihan.

"Selamat Wendy.." pria itu memberi selamat, dia sangat tau wanita itu sejak dulu sangat menginginkan hal ini.

"Terimakasih 😊"

"Sepertinya Wendy yang dulu kembali..." Godanya melihat raut wajah wanita itu Auh lebih ceria di banding hari hari kemarin.

"Apa maksudmu?"

"Kau tau senyum ini yang orang - orang rindukan " ia mencubit pipi wanita itu Sakin gemesnya. Sungguh ia prihatin dengan wanita itu.

"Auchh sakit..." Wendy merajuk. Senyumnya sedikit menipis. Baekhyun benar tidak seharusnya ia larut dalam kesedihan. Banyak yang merindukan dirinya yang dulu.

"Bagaimana hubungan mu dengan Baekhyun?"

"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" Cibirnya mengunyah buah di depannya. Apa Jimin pandai membaca pikiran? .  Pikirnya

"Apa kau tidak bisa membuka ruang untuk Baekhyun?"

"Jimin kau mengubah mood ku" sedikit merajuk karena kesal, Jimin mengalihkan topik

"Masa lalu itu hanya di kenang Wendy, kita ini bukan makhluk yang abadi .. "

"Jam istirahat sebentar lagi. Aku duluan.." yah dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan Jimin

Jimin hanya menatap kepergian Wendy yang berjalan menuju kantor nya yang ada di didepan warung . Dia tak habis pikir Dengan Wendy yang menyiksa dirinya sendiri.

"Bagaimana aku akan menceritakan padamu tentang pembunuhan yang dilakukan direktur Jung pada Hyuk Chan.."

.

.

***** Desa *****

19:00

Angin malam itu menari mengelilingi seluruh desa di kabupaten itu, orang-orang yang biasanya nongkrong di depan rumah maupun di kedai kopi kini bersembunyi di balik hunian masing-masing.

"Sepertinya akan turun hujan" Chanyeol dari balik pintu, yang berjalan menuju ruang keluarga.

"Iya malam ini sangat dingin.." itu jiyeon.
Mereka menikmati tayangan televisi Kecil dengan segelas teh hangat beserta biskuit nya.

"Oh iya bagaimana kepalamu? Apa kata dokter ?"

Chanyeol memelankan gerakan duduknya menatap nenek park sekilas sebelum menjawab pertanyaan istrinya.

"Katanya hanya kelelahan. Kau taukan bagaimana panasnya siang tadi, tapi kenapa malam ini begitu dingin brrrrr" tutur Chanyeol menggosokkan kedua telapak tangannya, sedikit mencari suasana agar tidak terlihat kaku.

MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang