Hari pertama masuk sekolah, Aswar yang datang pagi kelihatan lesu, tak bersemangat, dan tanpa inspirasi karena papan pengumuman yang ia lihat di hari sabtu kemarin menunjukkan namanya dan nama Dianya Aulia tak berada satu ruang kelas. Namun baiknya, kelas mereka berdempetan, yang memberi sedikit angin segar bagi Aswar karena masih bisa diberi kesempatan walau tak besar untuk dapat melihatnya. Aswar berfikir, apakah Anya punya pemikiran yang sama terhadap hal ini yah?
Dan sekarang, hari mulai dibuka, masuk kelas disekolah menengah atas untuk pertama kalinya bagi Anya. Ada sedikit bimbang antara malas dan semangat menuju tempat itu, semangat karena ingin merasakan euforia baru, dan malas bertemu orang baru! Yah, mungkin hidupnya disekolah nanti hanya akan menjadi bayangan saja. Tetapi, tiba-tiba ia teringat dengan orang baru, Anya punya sedikit sesal mengapa tak sekelas dengan Aswar, namun dia tak terlalu menghiraukan perasaannya itu.
Suatu pagi di hari senin, mereka bertemu di koridor, karena arah kelas mereka searah. Wajah Aswar yang merunduk lesu seketika memekarkan senyumnya kala melihat Anya yang juga masuk sekolah. Namun, ekspresi Anya saat malihat Aswar nampak malu, bahkan sedikit membuang muka seakan tak kenal, tak ada rasa apapun dalam jiwa Anya selain "aku harus dapat bangku dibelakang, sendiri!"
"Anya, baru datang?" Sapa Aswar basa basi.
"Bicara ama aku yah?" Tanya Anya setelah melihat kebelakang mengecek orang-orang.
"Ya ialah kamu, Anya mana lagi yang pakai kacamata lebar, pipi tembem dan mungil selain kamu yang kukenal disekolah ini?"
"Ohh. Udah liat aku baru datang, pake nanya lagi!"
"Hehehe, biar ada topik pembicaraan sih"
Mereka pun berjalan berdua menyusuri koridor menuju kelas mereka. Entah mengapa, Aswar merasa senang, seakan ada ribuan bunga bermekaran di musim panas didalam hatinya, tak terdefinisi. Seringkali, mata Aswar memandangi sudut wajah Anya, entah mengapa, tampak begitu indah, hingga tiba di kelas Anya. Aswar sedikit ragu, namun ia tetap masuk ke kelas itu. "Ngapain kamu ikut masuk?" Tanya Anya.
"Yah ntar aku keluar koq"
Anya yang melihat suasana kelas yang ramai, tak memperdulikan keberadaan Aswar dan memarahinya, ia takut jadi titik tatapan siswa-siswi di kelas itu.
Anya melihat bangku kelas bagian belakang, mencari apakah ada bangku yang masih kosong, benar saja, bangku disudut, tak ada tas yang bersandar, dan kelihatan masih kotor. Anya pun berjalan menuju bangku itu diikuti oleh Aswar. Mengikuti langkah Anya sampai Anya berhenti disebuah bangku panjang yang untuk 2 orang, kelihatan sangat kotor karena debu, Aswar berinisiatif mengambilkan kemoceng yang tergantung didekat papan tulis putih--untuk membersihkan bangku milik Anya. Anya yang melihat yang dilakukan Aswar pun tersenyum kecil.
Setelah bangku Anya sudah kelihatan bersih, di bangku itu hanya kelihatan hanya sebuah kursi yang diduduki oleh Anya. Aswar lagi lagi mencari sebuah kursi tak berpenghuni untuk dibawa ke dekat Anya dan duduk didekatnya. Para siswa dan siswi dikelas itu tak memandang aneh kepada Aswar karena belum saling mengenal, mungkin yang mereka kira bahwa Aswar juga siswa kelas ini.
Setelah mendapat bangku kosong dari gudang sekolah, Aswar membawanya dan meletakkan tepat disamping Anya. "Hah? Kamu ngapain? Kelas kamu kan disebelah!"
Tanya Anya dengan bingung.
"Aku cuman mau duduk koq"
Anya memaklumi kelakuan lelaki itu, Anya setelah itu mengecek laci bangkunya. Nyata saja, bangku itu masih penuh debu dan banyak nyamuk yang keluar dari laci tersebut. Dan sekali lagi, Aswar bergerak cepat mengambil kemoceng untuk yang kedua kalinya.
Reaksi siswa-siswi dikelas itu melihat kelakuan mereka seakan berasumsi bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, dan Aswar juga siswa kelas ini yang duduk sebangku dengan Anya, membuat tidak ada yang mau duduk disampimg Anya.
~°•°•°~
Bel berbunyi, semua siswa-siswi disekolah itu berhamburan keluar untuk melakukan upacara yang biasa dilakukan di hari senin. Aswar menyimpan tas miliknya di bangku Anya dan ikut upacara di rombongan kelas Anya. Entah apa yang ada dipikiran lelaki itu, Anya sudah menyerah meladeni lelaki yang tidak jelas itu. Bahkan, dia belum mencari bangku untuknya di kelasnya. Tetapi ia lebih memilih duduk bersantai dikelas Anya, dan duduk dengannya.
"Anya, ntar berdiri dibelakang aku yah!"
"Emangnya kita sekelas?"
"Aku numpang dikelas kamu deh!"
"Udah gila yah?"
"Siapa suruh sudah buat aku tergila-gila" ledek Aswar sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek Anya.
Anya memasang muka kesal dan berjalan cepat meninggalkan lelaku itu "bodo amat!"
Tanpa basa basi dan rasa malu, Aswar langsung berdiri paling depan dikelompok siswa siswi kelas Anya, lebih tepatnya didepan Anya. "Seperti biasa Anya, aku takut matahari melihat kamu lalu jatuh cinta, sainganku nanti bertambah!"
"Ish apaan sih?"
"Heheheh, daripada kamu kepanasan. Ini juga bagian dari mandat bunda kamu, yang harus ngelindungin kamu. Dari mentari yang agung saja kau masih kulindungi, apalagi cuma manusia"
"Ishh, bawel deh" ucap Anya sambil merunduk malu karena dipandangi oleh teman temannya yang tertawa kecil.
Dan, upacara bendera sekaligus penyambutan bagi siswa-siswi baru itupun usai, para peserta upacara pun bubar berhamburan, entah kembali ke kelas masing masing, ke kantin ataupun ke kelas temannya; seperti Aswar.
"Koq kesini lagi? Gak punya kelas?"
"Ya kan gurunya belum masuk!"
Mereka berdua menuju bangku yang mereka tempati tadi, kelas saat itu masih kelihatan sepi, mungkin karena siswa baru yang lain pergi mengunjungi teman sewaktu masih SMP, atau sekedar mencari teman baru.
Selang singkat waktu berlalu, seorang siswa yang kelihatannya sangat disiplin masuk ke kelas lalu memberitahukan bahwa seorang guru telah berjalan menuju kemari. Aswar pun mengerti waktunya dengan Anya telah habis. Ia pun berdiri dari tempat ia duduk sambil berkata; "guys, jagain tempat aku yah, kalo ada siswa yang baru datang dan duduk disini, tolong usir! Ini bangku aku! Aku mau keluar pipis dulu!"
"Pipis kok pake bawa tas segala?" Ucap salah satu siswi dikelas itu.
Aswar pun berlari ke kelasnya yang sebenarnya sangat dekat dengan kelas Anya yang hanya dihalangi selembar tembok. Namun, mungkin ia sadar, bahwa ia belum mem-booking satu bangku dab bergegas mengambil bangku dari gudang lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Namamu
Roman pour AdolescentsNamamu. Yah ini hanya sebuah kisah lama antara Anya dan seorang pria kecil dimasa silam yang yang tak direstui oleh semesta untuk saling beranjak dewasa. Nama lelaki kecil masa lalunya itu selalu terngiang dalam fikirnya, yang ia ketahui hanyala...
