Membuka dan Bergerak

24 8 10
                                        

    Anya pun diantar hingga kerumahnya setelah sengaja diajak jalan-jalan oleh Aswar di bukit memandang senja dan pantai. Sesampai didepan rumah Anya, ibunda Anya sudah duduk didepan teras rumahnya mengenakan sweather dan syal karena udara sudah mulai dingin dengan wajah sedikit cemas. Ibunda menyambut mereka dengan berlari kehalaman dan membuka gerbang, "darimana saja kamu?"
    "Maaf tante, saya Aswar. Tadi saya ngajak Anya jalan sebentar"
    "Dia teman Anya, bunda"
    "Oh ia, ayu masuk dulu nak, diluar dingin. Dan hal tadi jangan dibiasakan yah?"
    "Baik tante, diusahakan"
Stelah berada didalam rumah Anya, Aswar disuguhkan segelas teh dan setoples cemilan sebagai tamu.
    "Kamu teman lama Anya?"
    "Temen baru aku, bunda. Dia yang sok kenal dan sok akrab aja"
    "Hehehe ia tante."
    "Hmm?" Kaget Sasmitha--ibunda Anya mendengar bahwa mereka berdua baru saja kenal, dia sangat kenal anaknya itu sangat sukar bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang asing. "Tumben-tumbenan loh Anya diantar ama temannya. Biasanya diantar angkot loh! Gak pernah bawa temennya kerumah walaupun sesama cewe, gak pernah ia bawa"
    "Ah bunda, males ahh" Anya kesal tapi manja berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua ke kamarnya dengan menghentakkan kakinya di lantai.
    "Waduhh tante, aku langsung merasa
spesial nih, hehehe"
    "Barusan liat gak? Dia itu orangnya manja, itu yang buat tante sayang sama dia"

     Dia belum manja aja, aku sudah sayang, tante. apalagi udah manja sama aku, aku pasti sangat sayang sekali bahkan berkali-kali sama dia! Gumam hati Aswar. "Oh dia anak manja? Tapi disekolah jutek banget"
    "Begitulah anak kurang pergaulan"
    "Heheh ia tante, eh maaf udah malam tante, Aswar mau pulang dulu" Aswar mulai berdiri dari tempat duduknya dan menawarkan tangannya untuk bersalaman dingan ibunda Anya.
     "Oh ia. Maaf cuma segini adanya nak"
     "Ia gapapa tante!"
     "Eh nak, tolong jaga Anya disekolah yah, tante udah gak bisa awasin dia seperti masa dia SD, tante percayakan sama kamu, kamu juga jangan nakal yah sama dia"

    Aswar terpaku, terdiam mendengar perkataan Sasmitha barusan. Maksudnya, hati lelaki mana yang tak akan meledak karena senang mendengar perkataan semacam barusan langsung dari orang tua dari orang yang kita sukai, walau ini berupa tanggung jawab, tapi inilah tanggung jawab terindah bagi seorang laki-laki. "Shiyap tante, tanpa disuruh pun udah ada niat koq tante, hehe"
 

  "Syukurlah"

    Setelah Aswar beranjak dari rumahnya, Sasmitha habis itu menutup gerbang pastinya dan langsung masuk kedalam rumah, bukannya menuju ke kamar sendiri, tetapi Sasmitha malah menuju kekamar anak semata wayangnya dan membuka pintu tanpa permisi, dan mendapati anaknya bersandar didekat pintu, mungkin sedang menguping. Seketika Anya tersentak melihat kedatangan sang ibunda.

     "Bundaa!"
 

   "Anak bunda sudah besar rupanya" Sasmitha berjalan melewati Anya dan duduk dikasur dan mengambil foto lama mereka berdua yang bertengger diatas meja belajar.

     Anya pun menghampiri sang bunda dan duduk disampingnya sambil menyenderkan kepala dibahu ibunya itu dan melingkarkan tangannya dipinggang ibunya. "Aku nggak suka sama dia loh Bunda."
     "Siapa juga yang bilang kamu suka sama dia?"
     "Aaah bundaa" kesal Anya kepada Sasmitha dengan manja.
     "Dulu bunda masih ingat kamu masih kecil, lugu, cantik, sangat takut untuk bergaul dengan anak lain, tapi sekarang anak bunda sudah besar!"
     "Anya masih yang dulu, dia aja yang ngotot mau kenal ama Anya"
     "Anya, kamu terlalu tertutup, kamu takut kepahitan masuk kedalam hidupmu lagi, tetapi bukan berarti kamu juga tak mengizinkan bahagia masuk kedalam hidupmu!"
     "Tapi Bun, kan nggak ada yang tau orang yang masuk kedalam hidup Anya membawa hal baik atau buruk!"
     "Setiap pertemuan, ada perpisahan, setiap hal yang manis, pasti ada yang pahit dan dan yang memisahkannya adalah waktu. Begini, semakin keras  engkau meninju tembok, maka semakin sakit yang akan kau rasakan!"
     "Hmm, maksudnya Bunda?"
     "Semakin manis sebuah pertemuan maka pada waktunya berpisah, akan terasa makin pedih yang dirasa!"

      Mendengar perkataan Bundanya tadi, Anya sekarang paham dengan mengapa ia sangat sakit dengan apa yang terjadi waktu ia kecil, waktu lelaku kecil itu pergi dari komplek perumahan bersama keluarganya, yah mungkin untuk selamanya.
     "Trus Bunda, aku nggak bisa buka begitunsaja diriku untuk semua orang. Anya sudah terlanjur nyaman dengan diriku sekarang, Bunda!"
      "Coba buka dirimu dulu, dan sambut orang yang ingin masuk kedalam hidupmu. Setelah itu, coba bandingkan dengan dirimu yang sekarang!"
     "Tapi Bunda, berubah kan tak semudah itu!"
     "Coba deh cari di kamus, apa arti kata dari belajar" ucap Sasmitha sebelum beranjak dari kamar putrinya itu.

     Anya terdiam melihat ibunya berjalan keluar dari kamarnya. Anya sedikit ragu bagaimana dan apakah dia bisa membuka dirinya kepada orang-orang? Terkhusus bagi Aswar, orang yang terlalu menggebrak masuk kedalam hidupnya, mencoba menyimpan pernik rasa nyaman dan aman, dan kembali lagi, Anya terlalu takut hal pahit kembali terjadi pada dirinya.

     Terkadang manusia enggan untuk berpindah dari zona nyamannya, dengan berbagai pertimbangan yang pastinya mengandung berbagai keraguan yang membuatnya takut untuk mencoba hal baru. Adaptasi memang perlu, kita hanya mencoba, dan beradaptasi, mengenali situasi di medan baru. Mungkin beberapa dari kalian tak tahu betapa asik dan menantangnya euforia hidup di lapangan baru, mengenalinya dan mengais sedikit pengalaman didalamnya. Aku sering dengar kata "tak kenal maka tak sayang" tetapi aku sangat jarang melihat pengaplikasiannya kepada situasi. Orang orang lebih memilih terpaku pada satu tempat, mereka tak akan bergerak tanpa ada hal yang sangat kuat yang memaksanya harus bergerak, entah itu keadaan, ataupun waktu, tetapi bergerak pada saat yang sudah sangat genting itu sangat sukar, kita hanya bertahan hidup, tanpa adanya rasa senang, mencari rasa aman, bukan pengalaman, karena pada keadaan ini, anda tak bergerak dengan hati.

~°•°•°~

    Sesampainya Aswar dirumahnya, menaruh helm di spion kanan motornya yang diparkirkan di halaman rumahnya. "Dari mana?" Sambut wanita paruh baya di teras rumahnya.

    "Dari rumah temen mah"

     Aswar pun berjalan masuk kedalam rumah menuju kamar, mengganti baju SMA barunya dengan kaos oblong biasa, beribadah, menyiapkan peralatan besok dan santai sambil memainkan android pemberian kakaknya yang sebenarnya sudah tak layak pakai. Entah teringat sesuatu, Aswar yang tengah santai langsung mengutuk dirinya sendiri "bodoh, aku kok tolol gak minta nomor hp Anya"

     Namun, disela mengutuk dirinya, ia teringat denga perkataan Ibunda Anya, bahwa ia telah menitipkan anaknya untuk kujaga disekolah, dan bahkan diluar sekolah sekalipun. Dengan seketika seisi dada Aswar langsung memanas karena senang dan tak sabar untuk memulai pekerjaan yang diamanatkan Ibunda Anya itu.

NamamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang