Namjoon's Payment

462 60 18
                                        

"Eh?"

"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya...?"

"Jungkook-ssi tidak ingat padaku?"

Manik hitam terpatri pada Namjoon dengan wajah yang termangu tidak percaya. Bahkan dia bisa melihat seksama, wajah manis itu mulai memucat. Apakah dia berkata sesuatu yang salah barusan?

"Maaf?" Sekali lagi, pertanyaan Jungkook membuat Namjoon sadar tentang ketidak percayaanya.

Pemuda yang dia tolong itu, tidak mengenalnya.

Secepat mungkin, Namjoon menggelengkan kepalanya. "A-ah itu...!" Apa yang harus dia katakan pada pemuda yang baru sadar dari kematiannya ini? "A-aku Namjoon! Ta-tadi aku melihatmu tenggelam saat sedang berselancar. Aku kebetulan ada di dekat situ, jadi —"

"Begitu ya?" Si kepala hitam mengadahkan kepalanya. Setelah mendengar penjelasan singkat Namjoon tadi, dia kembali memperhatikan langit-langit putih yang berada di atas. "Kupikir aku sudah mati..."

Begitu mendengar kata mati dari seseorang yang diam-diam membuatnya jatuh hati, Namjoon merespon Jungkook dengan sedikit nada panik. "Ja-jangan bicara seperti itu, Jungkook-ssi!"

Jungkook menoleh pada Namjoon lagi.

Kepala karamel menunduk menjatuhkan pandangannya. "Jungkook-ssi tidak mati... Kumohon, jangan berkata kejam seperti itu..." Suara Namjoon terdengar mulai kecil dan memelas.

"Aku tidak mati bukan? Bekat dirimu..." Tangan Jungkook berusaha meraih kepala Namjoon. Dia lalu menepuk-nepuknya dengan perlahan. "Terima kasih."

Namjoon bisa merasakan sentuhan tangan Jungkook untuk pertama kalinya. Walaupun dia menginginkannya, entah kenapa dia tidak mengharapkannya. Perasaan ini tidak membuatnya senang. Dia merasa telah kehilangan sesuatu. Meski orang yang berada di hadapannya, masih berada di depan mata.

Sangat sakit rasanya, dilupakan oleh seseorang yang sangat dia cintai tersebut. Apalagi, kata-kata terakhir pertemuan mereka berdua adalah berharap untuk bertemu lagi. Tapi bukan seperti ini yang Pangeran Ryugu itu harapkan.

Meninggalkan Jungkook seorang diri sebentar di ruang rawat, Namjoon pergi keluar.

Beralasan ingin mencari angin.

Padahal bukan itu sebenarnya alasan utamanya.

Tertatih-tatih berusaha berjalan seperti manusia normal kebanyakan, ternyata menguras tenaga merman itu. tapi kerja kerasnya terbayarkan, karena beruntungnya dia bisa menemukan tempat di mana dia bisa menjernihkan pikirannya.

Dia memilih duduk melipat kaki seorang diri di bibir pantai di dekat klinik di mana Jungkook masih dirawat. Air mata yang sedari tadi dia berusaha bendung, akhirnya kini mulai pecah. Satu per satu bulir-bulir air mata keluar dari sudut mata.

Setelah menolong Jungkook dari kematiannya, dia tidak menyangka bahwa dia akan dilupakan begitu saja. Kepala coklat mudanya tertunduk menempel ke atas dua kakinya yang terkunci dengan tengannya.

"Jungkook-ssi melupakanku... Apa yang harus aku lakukan?" Namjoon menggigit pelan bibir bawahnya menahan getir kenyataan yang harus dia hadapi.

Deburan-deburan ombak menjawab kosong pertanyaan Pangeran Ryugu. Tapi itu membuatnya kembali mengangkat kepala. "Apakah aku harus kembali ke Ryugu? Tapi kalau aku kembali ke Ryugu —" Dia berusaha memikirkan jawaban yang paling memungkinkan.

Dia akan mencobanya.

Pemuda manis itu mengangkat tubuhnya dari pasir halus yang dia duduki tadi. Dengan kedua kakinya, dia berusaha menyeimbangkan langkah. Satu per satu langkah dia ambil, menuju ke tepian pasir yang basah karena pecahan ombak. Saat telapak kakinya menginjak bagian yang basah tersebut, dia tidak mendapatkan lagi tubuhnya yang lama.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 18, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Sand of MemoryStories to obsess over. Discover now