Perlahan lahan pun Dira meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa tertahan lagi sambil memegang sebuah bingkai yang terdapat foto kedua orangtuanya dan dengannya sedang tersenyum bahagia seolah olah merekalah keluarga yang paling bahagia. Demi meluapkan semua rasa sakitnya, marah, kecewa bercampur aduk menjadi satu. Ia membanting bingkai itu sampai kaca yang terdapat di bingkai tersebut pecah dan berceceran dilantai.
"Aku benci sama Mama Papa, AKU BENCI KALIAANNN!" dan akhirnya Dira mengeluarkan uneg unegnya selama ini.
Ia tidak peduli lagi serpihan kaca dari bingkai itu berserakan dilantai. Dira pun menangis sesegukan hanya karena sebuah bingkai. Tetapi jangan meremehkan dulu benda itu hanya sebuah bingkai tetapi terdapat sejuta kenangan didalamnya.
Memang, Dira belum menerima semua takdir seperti perceraian kedua orang tuanya. Ia sangat terpukul dengan keadaannya saat ini. Dira pun kadang menganggapnya hanya sebuah mimpi belaka. Tetapi ini memang kenyataannya, Dira seharusnya bersabar dan mengikuti alur yang telah ditentukan untuknya.
Lalu ia beranjak dari kasurnya untuk mengambil sebuah benda yang selalu menjadi teman curhatnya. Yaps, benda itu sebuah binder.
Ia tak peduli banyak serpihan kaca bingkai yang menancap di kakinya. Dengan langkah cepat Dira segera duduk dimeja belajarnya sambil menggeledah lacinya untuk menemukan benda tersebut. Dengan cepat ia menemukan sebuah binder yang didalamnya banyak kalimat curhat yang ia tumpahkan didalam binder tersebut.
Ia pun memulai untuk menulisnya:
Lukaku
Mama....Papa....
Aku rindu peluk hangat ragamu
Belaian kasih sayang yang kurasa dulu
Bak ditelan ombak kemesraan pun lenyap sudah
Tanpak jelas dalam memori
Keegoisan menggiringku dalam kehancuran
Perpecahan memaksaku untuk memihak
Caci maki dari hati yang penuh amarah
Ruangan yang gelap....
Aku takut....aku sendiri....
Luka tampak semakin nyata
Manakala ku terdiam di ujung kehancuran
Kehancuran pun datang perpisahan yang tak terelakan
Saat ku beranjak dewasa
Kulangkahkan kaki menatap langit
Mentari mengiringi langkah kakiku
Melintasi kerasnya dunia
Haus kasih sayang,lupa arti cinta
Terombang ambing lupa akan diri
Salah siapa?
Papa?
Mama?
Atau takdir?
Sampai saatnya tiba
Aku tersadar dalam kedewasaan
Keikhlasan dan ketabahan merasuki kalbu
Menguatkan diri hati dan pikiran
Dengarlah....
"Aku tak akan tinggal di masa lalu"
"Aku akan bahagia di masa yang akan datang"
Bisik kalbu tuk yakinkan diri
Seiring berjalannya waktu
Kerinduanku akan Papa dan Mama
Menyerbu kalbu
Ingin ku ucap maaf
Namun ku harus terus berjalan
Diiringi derasnya hujan dan kasarnya hembusan angin
Terimakasih telah menghadirkan diriku di dunia
Kini nikmati hidup kalian
Sebut namaku jika rindu menyeru kalian
Aku akan hadir di hati kalian
Aku akan hadir di hadapan kalian
Dengan hati yang kuat dan sosok yang bahagia
KAMU SEDANG MEMBACA
ADIRA
Fiksi RemajaAdira Michelle, dua kata nama itu membuat semua para lelaki jatuh cinta kepadanya. Ditambah juga dengan sikap dinginnya yang luar biasa. Disisi lain juga, Daffa Dirgantara adalah nama yang sudah terkenal dengan ketampanannya disekolahnya. Sikap din...
