Ombak

17 1 0
                                    

Malam ini kutatap ombak,
Yang tak lelah menghantam batu.
Dan mungkin ombak seperti ku mencoba menghancurkan dinding hati kamu.

Haruskah aku begini?  Terus mematahkan beberapa hati demi kamu?  Mengapa aku bisa mencintai kamu yang tak nyata? 

Telah ku coba menerobos dinding rindu, meski aku terbalut darah.  Aku telah disakiti oleh harapan yang mengecewakan, dan aku begitu nyaman bersama perihnya membuat sajak.

Inikah?  Pelarian yang hampir menjadi kebutuhan dalam hidupku?  Melampiaskan semua rasa kedalam jurang kata manis nan perih. Mencoba mendalami menyiksa diri dalam hangat nya darah?.

Bohong, jika aku berkata tak menginginkan kamu.  Karna aku bisa saja dengan egoisnya hanya ingin kamu menjadi milik ku.

Namun perlahan aku sadar, 
Aku bukanlah anak kecil yang dulu begitu engkau perhatikan.
Anak kecil yang selalu kau ganggu.
Anak kecil yang hanya bisa tersenyum bodoh saat bertemu kamu.

Menatap langit saat melihat bulan, menunjukkan nya padamu kala mendung,  lalu bertanya "besar ya bulannya? " Terlalu bodoh nya aku berharap dulu adalah sekarang.

Anak kecil yang hanya tau berlari menaiki tangga tanpa takut terjatuh.  Mencoba terus berada disampingmu, beristirahat meskipun kamu begitu egois dalam emosi.

Aku ingat,  waktu menumbuhkan semua perbedaan. Dan mungkin kita selalu melangkah ke arah yang berbeda.

Ombak, juni 2019
Hsfa

KoranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang