Negeri ini milik siapa?
Katanya ditangan jelata
Tapi nikmat malah petinggi penuh sandiwara
Sosok gila tak sepenuhnya salah
Yang merasa benar kadang musuh sebenarnya
Supreme Leader!Akashi x Killer!Reader
.
.
.
.
.
876 word
Entah kapan mulai terjadi.
Gerombolan-gerombolan manusia membentuk ideologi sendiri dan merusak jati diri asli, mereka yang tidak tahu akhirnya hanya mengekori.
Yang dibawah mudah disuap harta.
Yang diatas mengelu-elukan Genosida.
Bukan kekasih tapi menyumpah janji. Rasanya lebih gila dari menyantap kotoran babi.
Negeri memang milik bersama tapi tidak dijajah bersama.
Ambang kekacauan melambung pesat, kemanusiaan tak ditemukan. Semua hanya kepentingan perorangan dan golongan.
"Tak ada lagi basa-basi! Keadaan ini sudah tak terkontrol!" teriak seseorang.
"Sekarang apa?" seorang lagi menambahkan.
"Bunuh sang raja" seisi ruangan diam, diikuti anggukan ringan.
Tak ada tentangan
Mereka juga gila kepentingan
Tak berbeda dengan tikus penyantap kekuasaan
Akalnya bobrok tak karuan
Retakan pondasi dimulai dari raja terdahulu. Serangan jantung mengakhiri hidupnya. Seminggu lalu, penerusnya mendapat kewenangan bebas sebagai pemimpin. Bahkan, ia lebih gila dari raja sebelumnya.
Sejak itu, tak ada lagi demonstrasi.
para penyulut api mulai berargumen diam-diam.
Salah satu wakil rakyat membanting meja "Segera lancarkan rencana!" Teriaknya melepaskan amarah.
"[Name], bawa anak buahmu ke altar kematian sang raja" Perintah akhirnya diluncurkan.
Sekali lagi, tak ada bantahan dalam urusan pembunuh bayaran.
Pengoperasian rencana dilaksanakan malam hari. Penjaga-penjaga lemah digerbang dilumpuhkan begitu saja. Sirine berbunyi dipenjuru tempat, ledakan dari bagian timur mengacaukan suasana. [Name] menabrak serpihan kaca dan puing bangunan. Entah sudah berapa pasukannya tiada. Mereka terjun ke medan perang hanya untuk mendapatkan bayaran yang kecil.
Tentara bayaran sepertinya tak bisa lari. Gugur dan dimakamkan ditempat yang serupa.
Pasukan kerajaan melawan membabi-buta seakan berada dalam kuasa sihir.
"Menyerahlah atau mati!" geram seorang prajurit sebelum akhirnya ia binasa. Bau keringat terkalahkan amis darah, tidak tau berapa orang terbunuh maupun dibunuh.
Tersisa [Name] dan beberapa anak buahnya, ia sendiri menerobos altar raja. Bertaruh nyawa agar pasukannya tak mati sia-sia. Dengan bodohnya bertemu dua mata dengan sang raja.
"[Name], lama tak berjumpa" sambut halus raja.
"lama tak berjumpa, Akashi"
Gulungan waktu kembali bergulir tentang kita yang lama terlupa. Sebelum orang-orang menyatakan pisah dan membentuk barisan.
Aneh, tentang kita yang hampir tak ingin teringat kembali.
Tak tahu, apa kau masih mengingat memori itu Akashi. Sebelum senja lenyap, kau bercengkrama denganku didepan gereja tua milik pemilik panti asuhan.
"Aku tidak butuh temanㅡ tidak lagi selain dirimu" katamu menatap sinis sekitar.
"Kau tidak bosan hanya bermain bersamaku?" jawabku polos.
"Mereka dan orang-orang melihat kita dengan tatapan menjijikan, apa karena aku anak haram? mereka tak lebih baik dari penjajah masa itu" kau geram seperti biasanya.
Senja itu, kau berteriak lantang dada.
"ㅡAku akan menjadi orang hebatㅡaku akan mencapainya dan memandang rendah mereka semua, dan kau harus terus bersamaku, [Name]" Kata-katamu menjadi rasa takut terbesarku.
Tapi tak apa, aku selalu menyukaimu Akashi.
Dan kini kita berjumpa lagi, dalam bayangan yang berbeda.
Sejak kapan kau hidup seperti ini?
Rasa penyesalan tak ada dalam matamu, bahkan setelah membunuh banyak manusia.
"Tentara bayaran?huh?" Akashi menyunggingkan bibir.
[Name] tak enggan berkata
Sibuk mengacungkan bidikan ke arah kepala.
Agar saat Akashi menyerang, ia telah sedia.
Tapi, anehㅡtembakan selalu meleset jauh dari yang dikira.
"Mengapa kau membunuh para manusia itu?" celutuk [Name], tangannya sibuk mengisi kembali amunisi senapan.
Akashi tertawa hebat.
"Mereka gila harta dan kuasa, berbuat hal tak masuk akal serta hanya menimbulkan kerusuhanㅡ"
"ㅡaku hanya membunuh hama seperti mereka agar wilayah ini lebih tenang".
Benar adanya, nama-nama yang hilang merupakan tokoh penyulut perpecahan.
Orang yang merasakan nikmat dibalik rentetan emosi para jelata dijalan.
Membabat solidaritas dan merajut kebencian.
Akashi menghela napas, memperbaiki postur tubuhnya "Mengapa tentara bayaran membunuh?". Jarinya menunjuk senapan [Name], mengisyaratkan untuk melonggarkan bidikan.
Tak ada penolakan dari tubuh [Name]. Helaan dihempaskan "Demi uang" katanya datar.
Orang-orang yang berkerja sama dengan tentara bayaran memiliki tujuan berdasarkan prinsip dan pernyataan seperti menggulingkan atau mempertahankan pendirian demi agresi, pertahanan dan tanah air seseorang.
Demi keluarga, wanita, narkotika, dan banyak lagi lainnya.
Tidak tau apa itu, hanya saja percaya bahwa itu patut dipertahankan meski salah jalan.
"Aku juga berfikir untuk melakukan semua ini tanpa harus membunuh siapapun, Akashi. Apakah itu benar-benar alasan untuk menarik pelatuknya." lanjutnya.
Seharusnya, ia tidak meniti hidupnya menjadi pembunuh bayaran.
Seperti ayahnya yang mati di Kolombia demi membayari kelahiran.
"Tapi aku tetap akan membunuhmu".
Dor!
Bahu Akashi luluh, mengalirkam darah segar untuk pertama kalinya. Ia menggigit lidah; melenyapkan perih.
Saat itu juga [Name] menangis.
Oh, sudah berapa lama ia tak bersedih?
Bukankah membunuh seseorang adalah hal yang biasa bagi [Name]?
Akashi turun dari kursi tahtanyaㅡberjalan ke arah [Name] yang beku ditempat dan memeluk tubuhnya.
"Sudahilah permainanmu" bau darah menusuk hidung. Sial! kenapa tidak meleset?
Tiba-tiba, pisau menghiasi tengkuk Akashi. [Name] berada diambang batas kemampuannya.
"Bunuh aku" Akashi berucap menantang, kini rautnya kembali dingin.
Tapi, [Name] tetap tak bisa membunuhnya. "Kenapa?" tangisnya pecah.
"Kau akan binasa jika aku mati" Tiba-tiba, Akashi mengecup bibir wanitanya "Kau takkan bisa melawan, kau milikku sejak dulu".
"Orang yang hilangㅡkubunuhㅡmereka pantas mendapatkanya, percayalah negeri ini akan kembali sedia kala" ia kembali meyakinkan; merangkul [Name] lebih dalam.
Akashi tersenyum halus.
"Dan sekarang, kau hanya perlu mendengarkankuㅡ"
"ㅡhiduplah bersamaku selamanya"
***
Sama seperti prajuritnya
terbuai hipnotis raja
Entah sihir atau cinta
kini aku sama seperti mereka
menjadi boneka setia
Diriku, miliknya
hanya dia.
***
End.
Note : maapkan segala jenis typo :')
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall in Love with You [Akashi x Reader] OneShot!
Historia Corta"Akashi mencintai permaisurinya" "ㅡhanya itu" Tangis dan haru bercampur dalam paduan yang sempurna. Biarkan diri kalian hanyut di tiap potongan kisah. Silahkan mampir dan rasakan cinta darinya. Kuroko No Basket - Akashi Seijuro ⓒ Tadatoshi Fujumaki...
![Fall in Love with You [Akashi x Reader] OneShot!](https://img.wattpad.com/cover/155180600-64-k350700.jpg)