Senja telah tiba,suasana di kamar besar ini masih sama. Seokjin termenung,ia berdiri menatap jendela besar yang menampilkan suasana senja bernuansa oranye. Ia merindukan Taehyung,bagaimana keadaan lelaki itu sekarang apakah dia baik-baik saja. Seokjin dapat membayangkan bahwa Taehyung tengah khawatir sementara Seokjin, sosok yang Taehyung khawatirkan telah bercumbu dengan orang lain.Sesuatu menganggu dirinya,entah berapa hari semua ini terjadi. Namun seokjin selalu mengalami rasa khawatir dan gelisah yang berlebihan hingga ia tak dapat menggunakan akal sehatnya dengan baik. Ia juga tak dapat menolak Namjoon,seakan-akan Namjoon adalah salah satu kepingan memori terindah dalam hidupnya. Semuanya terasa sulit,jantungnya berdetak untuk dua hati,Namjoon dan Taehyung.
Ini belum genap satu hari dan Seokjin telah berada disisi nyaman seseorang yang pernah mengisi hidupnya dimasa lalu. Cinta pertama tak dapat dilupakan,setidaknya itulah yang orang-orang katakan dan semua itu benar bagi beberapa orang termasuk untuk Seokjin.
Seokjin menunduk,ia menepuk-nepuk dadanya sendiri. Penglihatannya berkabut akibat genangan air mata yang membentuk anak sungai dimata bulatnya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya,Seokjin begitu sensitif akan sentuhan. Ia merasa melayang saat seseorang menyentuhnya dengan lembut,seperti yang Namjoon lakukan tadi siang. Ia kembali merenungi nasibnya,ia benci menjadi omega lemah.
Beruntung Namjoon tak ada disini,ada sesuatu yang penting hingga ia terlihat tergesa-gesa,ia berjanji akan pulang cepat. Sebenarnya Namjoon tidak usah memberikan pernyataan yangs seolah-olah mengatakan bahwa Seokjin akan menunggunya.
Seseorang membuka pintu kamar yang membuat Seokjin seketika menoleh dan menghapus jejak air matanya. Itu Lee Yoobin,wanita itu tak tahu sopan santun setidaknya mengetuk pintu terlebih dahulu tidak akan membuat tangan kurusnya sakit. Namun ternyata wanita itu membawa sebuah nampan berisikan makanan. Yang Seokjin lihat menunya begitu sehat.
Yoobin meletakkan nampan itu dimeja kecil berwarna coklat tepat disamping Seokjin, "makan malam untukmu,makanlah" ucapnya.
Tanpa terasa,ini telah memasuki malam.
Seokjin mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya "terima kasih Noona". Yoobin hanya mengangguk,wanita itu tak banyak bicara.
"Aku seorang beta.." ucap Yoobin begitu saja "__tak banyak orang yang kutemui selama hidupku. Karna aku tak pandai bergaul.__kau omega yang menarik,aku tak mengerti apa yang ada dalam dirimu—seperti ada sesuatu yang tak dapat kulihat namun,aku mengerti mengapa Namjoon begitu tergila-gila padamu"
Seokjin menatap wanita itu seksama,ini pertama kalinya ia mendengar Yoonbi berbicara dengan kalimat yang panjang dan suara wanita itu halus,sangat keibuan. Dia wanita yang elegan terlihat bagaimana ia berpakaian. Ternyata Yoobin tak seburuk yang Seokjin bayangkan.
"aku—aku tak mengerti Noona"
Wanita itu tersenyum begitu tipis "kau tak harus mengerti.." kemudian Yoobin berlalu meninggalkan kamar,namun sebelum itu Yoobin berhenti sejenak tanpa menoleh kebelakang"kulitmu terlihat berkilauan ,itu sangat cantik" lantas ia keluar.
***
Taehyung terlihat begitu frustasi dan berantakan. Ia masih setia menyetir mengelilingi semua tempat yang memungkinkan untuk Namjoon datangi,namun semuanya nihil. Rumah Namjoon yang ia tahu telah diisi oleh orang lain,orang itu berkata bahwa Namjoon menjualnya beberapa minggu yang lalu. Taehyung tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan . kendaraan beroda empatnya telah puas berputar mengelilingi Seoul.
Ia berhenti disebuah jalan yang begitu lenggang,Taehyung keluar.Ia berteriak dan berlari begitu cepat hingga Chanyeol yang sedari tadi menemani taehyung tak dapat melihat kemana lelaki itu pergi. Chanyeol mengerti apa yang Taehyung rasakan,ia berharap Taehyung tak akan melukai dirinya sendiri.
