Tiga.

15 3 2
                                    

Hari senin adalah hari yang melelahkan bagi sebagian orang karena: banyak yang sibuk akan pekerjaan, sibuk bersekolah, bertugas dan sampai-sampai hanya tahu atau mendengar jika besok adalah hari senin badan akan langsung lemas dan lesuh. Separah itu kah hari senin bagi orang-orang? Tapi tampaknya itu tak berlaku untuk gadis bersurai ikal yang tengah duduk manis di kantin sekolah sambil menyeruput teh hangat yang baru ia beli. Ia menggoyangkan kakinya sambil terus melihat sekeliling yang tampak ramai namun sebenarnya sepi--hanya dia yang menganggap ini ramai.

Seketika matanya berhenti pada satu titik, dimana ada seorang anak kecil dengan gaun yang usang dan rambut pirang tengah berjongkok--menunduk sedih terlihat dari auranya yang redup--aura yang sama saat pertama kali ia bertemu seorang teman laki-laki mengenakan seragam sekolah yang penuh akan darah dan tanah. Waktu itu ia begitu polos saat menghadapi sosok yang terkadang tak punya hati--hanya jiwa hampa yang tengah bingung mencari jalan pulang. Hm! Membicarakan sosok yang kini telah menjadi sahabatnya sedari kecil, ia jadi teringat akan mimpinya yang mengerikan. Dan sudah dua hari ini ia masih ketakutan akan hadirnya Sean, dan anehnya lagi--Sean malah kebingungan akan sikap Keisha padanya.

"Ini neng bakso ekstra pedesnya." Pak Ali sang tukang bakso membuyarkan lamunan Keisha dengan sekejap untuk tersadar pada dunia nyata.
"Neng, teh hari ini gratis." Imbuhnya yang dapat jempolan dari Keisha. Beruntung ia bolos hari ini.

Harum kaldu dan daging yang menyeruak dari mangkuk putih bersimbolkan ayam ini sungguh menggugah selera makannya. Tanpa babibu lagi ia langsung menundukkan kepalanya untuk berdoa sejenak dan seketika melahap bakso kecil yang lembut nan gurih. Ehm! Sangat nikmat dengan rasa yang pas dilidah Keisha.

Drrrtt! Drrtt!

Suara itu berasal dari benda kotak hitam canggih yang bergetar dan bergesekan dengan meja. Mengartikan ada pesan yang masuk untuknya. Saat dilihat ternyata notifikasi dari Leo menanyakan ia sekarang ada dimana.

"Di kantin. Makan kuy!"

Sekarang bergantian ponsel Leo yang bergetar, tanda pesannya dengan cepat dibalas. Membaca balasan Keisha hanya membuat Leo menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis.

"Ajak gue! Selametin gue dari pak Sugeng :("

Saat tau ada balasan lain selain dari Keisha, senyumnya sedikit pudar. Ia baru sadar bahwa ini adalah grup chat mereka bertiga. Leo kira Keisha membalas chat pribadinya, namun ia malah membagikan foto dan memilih untuk membalasnya digrup chat.

"Ijin ke toilet buruan!" Balas Keisha dari sebrang dengan satu tangan--tangan lainnya memegang garpu menusuk bakso kecil utuh.

Leo menyimpan ponselnya di laci meja dan memilih untuk mendengarkan gurunya yang menjelaskan pelajaran fisika. Sedikit badmood, tapi ia segera menggelengkan kepalanya, sadar kita hanya sahabat. Oke. Fokus!

Drrtt! Drrtt!

Saat mencatat hal-hal penting yang dijelaskan gurunya, ia merasakan bahwa ponselnya bergetar kembali. Tetap ia abaikan.

Drrrtt! Drrrtt!

'Palingan juga mereka bales-balesan. Fokus Yo! Fokus!' -Batinnya menyemangati diri sendiri untuk fokus pada penjelasan didepan.

Drrtt! Drrtt!

Ah! Leo sudah tak tahan lagi! Ia buru-buru mengecek ponselnya, apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Jiwa penasarannya telah mengebu-ngebu saat ini. Sedikit terkejut karena ada banyak notif yang ternyata itu dari sang pujaan hati, chat yang tak berasal dari grup chat melaikan itu balasan Keisha di chat pribadinya. Reflek Leo menarik senyumnya lebar hal yang jarang ia lakukan namun, hanya satu perempuan yang dengan mudah membuatnya tersenyum dan bertingkah kikuk seperti orang bodoh.

TRAuMERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang