Rana terus menarik tangan Seyna, membawa gadis -yang masih mencoba menghentikan tangisan memalukannya- itu menuju motornya.
Menghapus jejak air mata yang masih tersisa, memakaikan helm bergambar hellokitty yang menerbitkan senyum kecil dibibirnya.
"Naik, Sey! Mau sampai kapan kamu bengong aja?"
Seyna hanya bisa menurut seperti tersihir, bahkan dirinya berubah canggung saat Rana menarik tangannya dan melingkarkan pada pinggang cowok itu.
"Kamu jadi bisu gini? Marah?" Suara merdu menggoda iman Rana hanya dibalas gelengan oleh Seyna. Rana terkekeh dan mulai menjalankan motornya.
Lima belas menit mereka menempuh perjalanan.
Dua menit Rana mengajak Seyna untuk menjelajahi wahana permainan yang hanya dijawab anggukan oleh gadis itu.
Dua jam mereka mencoba segala permainan. Rana membantu Seyna memakai peralatan keamanan, menalikan sepatunya saat terlepas sampai mengajaknya makan direstoran favorit cowok itu.
Dan selama itu pula Seyna tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya memandangi Rana bingung. Semuanya terlalu tiba-tiba.
Bahkan gulali favoritnya hanya masuk kedalam mulut saat Rana menyuapinya.
EEH? RANA NYUAPIN GUE GULALI?
"Kamu kenapa berubah begini?" Dan setelah habis keterkejutannya atas sikap manis Rana, barulah gadis itu bisa membuka suara.
"Menurutmu kenapa?"
Seyna hanya menggelang, tidak mengerti. Tapi tak luput senyuman lebar terbit saat dia mengingat apa saja yang mereka lalui hari ini. Hal yang hanya berada di imajinasinya. Semua menjadi kenyataan.
"Malem ini jadi ke Jerman kan?"
Ah jadi karna itu. Dia baik karna bentar lagi hidupnya gak akan gue ganggu?
Senyuman itupun lenyap, "Iya, enak ya gak ada yang resein kamu lagi buat 6 bulan kedepan." Seyna mati-matian menahan tangisnya. Namun gagal saat tawa Rana terdengar begitu bahagia. "Jahat kamu ngetawainnya ikhlas banget."
Memalingkan wajahnya. Tangisan Seyna baru berhenti setelah sepuluh menit karena kelelahan.
"Cengeng banget." Rana memberikannya tisu. "Sey, aku gak pinter berkata-kata. Jadi dengerin aku ngomong sekali ini, gak pake motong."
"Tapi kamu mau jadi pengacara, Rana. Berbicara itu senjata utamamu, intinya kamu cuma males ngomong sama aku."
Rana menggeleng, "Yang benar itu berargumentasi bukannya berbicara- lagi pula untuk apa kita bahas itu?" Menghela napas lelah. "Menghadapi kamu emang butuh kesabaran besar dan rasa sebesar itu. Kalau gak, udah gak tahan sama tingkah ajaib kamu!" Saat Seyna hendak menyampaikan protesnya, Rana lebih dulu memasukan gulali dalam jumlah banyak kemulutnya.
"Aku udah khawatir setengah mati karna kamu terus-terusan diem. Ternyata kekhawatiran aku gak berdasar, kamu ya tetep kamu." Rana menggeleng heran, dan kembali melanjutkan.
"Aku takut apa yang Danisha bilang itu bener. Kamu cuma penasaran sama aku, terobsesi sama responku dan cuma aku yang jatuh sedalam ini sama kamu." Suaranya melemah, "Sebenernya apa yang kamu tau soal aku, Sey? Selama kamu ngikutin aku, fakta tentang apa yang lagi kamu cari? Apa mengganggu aku semenyenangkan itu buat kamu?"
Seyna menggeleng, Terobsesi? Mengorek informasi? Apa-apaan itu? Namun tidak pernah terpikirkan olehnya kalau kelakuannya ternyata berdampak juga untuk cowok itu.
"Maaf.." Hanya itu yang mampu Seyna katakan.
"Aku kira kamu bakalan lari menjauh setelah aku tolak kamu waktu sekolah dulu, bahkan sampe kata-kata yang ku titipkan ke Baginda waktu itu tetep gak bisa bikin kamu berhenti?"
Jadi omongan bangsat Baginda itu curhatan hatinya Rana? Seyna termenung, menyesal. Harusnya dia berhenti. Karna nyatanya dia menyiksa mental Rana karna kelakuannya.
"Rana, aku-"
Kata-katanya berhenti saat sebuah kecupan jatuh tepat dibibirnya. Dan hanya seorang Rana yang ada disana. Rana yang pernah mengatakan seberapa menjijikannya jika harus menyentuh gadis yang dengan kurang ajarnya melap ingus pada baju olahraga cowok itu saat sekolah dulu.
"Aku capek, Sey. Saat aku mau perjuangin perasaanku dengan cara yang paling istimewa justru kamu lempar semuanya kedasar dengan segala tingkah ajaib kamu. Seyna gendut, jelek, cengeng dan tukang meper ingus di bajuku, kamu udah dapetin seluruh hidupku didetik kamu peluk dan menunjukkan keindahan matamu pada bocah yang punya mulut tajam ini."
Seyna mematung, sedangkan senyuman terbit dibibir Rana.
"Kamu bisa berhenti sekarang. Karna kamu gak tau segila apa aku menahan diri untuk gak peluk kamu saat berhasil bikin kamu nangis, seberapa banyak tenaga yang aku habiskan untuk menutup semua mulut yang berani mencaci kamu, seberapa besar kegilaan aku menghalau semua cowok yang bisa ngasih perhatian lebih baik ke kamu sejak SMP-"
Sepertinya sebentar lagi jantung Seyna meledak akan rasa antisipasi yang begitu besar.
"-Dan seberapa brengseknya aku yang maksa kamu berubah jadi Seyna yang secantik, sepintar dan sekeras kepala sekarang. Aku udah jatuh, Sey. Jatuh jauh sebelum kamu sadar sama seberapa pentingnya keberadaanmu untukku. Dan sekarang aku takut terlambat untuk bilang sayang dan cinta ke kamu. Mulai detik ini, Rana yang kamu kenal udah gak ada lagi. Cuma ada Rananda yang tergila-gila pada Seyna Saraswati."
Usapan lembut pada rambut Seyna membuatnya merasakan bahwa apa yang dia lakukan selama ini tidak pernah sia-sia.
Dia tidak merasa seorang diri.
€€€€€
Saat ini Rana dan Seyna sudah berada diruang tamu rumah gadis itu, bunda menyambut kedatangan tamu spesialnya. Dan Seyna memutuskan untuk berlalu ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Rana memanggilnya sebelum kembali berlari ke kamarnya dengan pipi yang bersemu merah.
"Ganti baju, siap-siap sore ini dinner perpisahan sama keluarga aku. Danisha gak berhenti minta aku buat bawa kamu buru-buru kerumah. Sepupuku itu jadi berubah super cerewet kalau menyangkut kamu."
Cemburu buta sialan.
END
KAMU SEDANG MEMBACA
[SONG FICTION] LIMERENCE
Fanfiction; Sebuah kondisi saat kita sedang tergila-gila dengan seseorang. [Songs from Lune] 2nd Story EXO CBX_Would You Be My Love
![[SONG FICTION] LIMERENCE](https://img.wattpad.com/cover/196506963-64-k532718.jpg)