WARNING!
Cerita ini mengandung unsur semacam kekerasan, omongan kasar, dan beberapa hal buruk yang tidak pantas ditiru.
Semua tokoh, ras, agama, latar, hanya fiktif belakang.
Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.
Selamat membaca!!
Hasna berlari ke arah tiga Abangnya bersama sang Kakek, mereka semua tengah duduk bersama di depan kamar inap Hafsah. Sebelum pergi ke rumah sakit, Randi dan Alif menceritakan kondisi Hafsah yang memang sedang sakit, itu mengapa Atlas hari ini berada di rumah bukannya di kantor.
Mendengar penuturan dua Omnya itu, baik Altan maupun Althaf sama-sama merasa bersalah. Mereka juga merasa bersalah pada Alfan karena ulah mereka, Alfan sempat mengalami syok, untungnya dia sudah baik-baik saja.
“Mamah gimana?” tanya Hasna dengan wajah khawatir, setelah pulang sekolah, gadis itu diberi kabar oleh Sang Kakek bahwa Mamahnya di rawat di rumah sakit. Padahal sebelum kejadian, Hasna baru saja menghubungi Mamahnya bahwa dia pulang terlambat karena akan belajar kelompok bersama teman-teman kelasnya.
“Hasna yang tenang, insya Allah Mamah kamu baik-baik aja,” balas Randi dengan diakhiri senyum, mencoba menenangkan gadis kecil itu.
Hasna menggeleng. “Kalo baik-baik aja, kenapa harus sampe ke rumah sakit?” kemudian gadis itu menatap satu persatu Abangnya yang diam merunduk. Ingin sekali bertanya tapi belum sempat melontarkan pertanyaan, pintu ruang rawat inap Mamahnya terbuka.
Atlas keluar dari ruang inap istrinya, dan langsung diserbu pertanyaan oleh Hasna.
"Mamah gak apa-apa, kan, Pah? Mamah sakit apa? Kenapa harus sampe dirawat?"
Dengan lembut, Atlas mengusap puncak kepala putrinya. "Mamah kecapean aja, Insya Allah Mamah cepat pulih."
"Adek mau lihat Mamah," ucap Hasna pelan dengan mata yang berkaca-kaca dan dingguki oleh Atlas.
"Ayah juga pengen liat Hafsah."
"Iya Yah," balas Atlas dan mempersilakan Ayah serta putrinya masuk.
Triplet menatap nanar ke arah Papahnya, mereka juga ingin masuk melihat kondisi Mamahnya, tapi sebelum itu, mereka harus menyelesaikan urusan mereka bersama Papahnya.
"Tlas, kita balik dulu ya, mau ngabarin orang rumah. Nanti kita ke sini lagi," ucap Randi sembari menepuk bahu Atlas.
Atlas mengangguk. "Iya, makasih ya, Ran, Lif."
"Iya gak apa-apa, udah lo fokus sama kesehatan Hafsah dulu," balas Alif sebelum pergi bersama Randi.
Kini tinggallah Atlas dan tiga putranya, situasi terasa tegang. Atlas memang selalu bisa bersikap tegas dan lembut, untuk mendidik putra serta putrinya dengan sangat baik.
Dia berdiri di depan tiga putranya yang merundukan kepala, siap untuk mendapat hukuman dari Papahnya.
"Papah selalu ngajarin kalian untuk rukun, sekecil apapun masalahnya, selesaikan dengan kepala dingin."
Triplet masih diam mendengarkan sang Papah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRIGONOMETRI
Romance📝 FIKSI REMAJA Dulu ada yang pernah bertanya padaku, ingin menjadi apa aku ini saat dewasa nanti. "Aku ingin menjadi sinar mentari yang dengan gembira menyinari dunia yang gelap ini. Lalu berubah menjadi bintang indah yang menyinari langit pada ma...
