Ekstra Part 1

55.4K 2.9K 21
                                        

WARNING!

Cerita ini mengandung unsur semacam kekerasan, omongan kasar, dan beberapa hal buruk yang tidak pantas ditiru.

Semua tokoh, ras, agama, latar, hanya fiktif belakang.

Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.

Selamat membaca!! 










Udara pagi yang sejuk ini membuat sepasang kaki pemuda jangkung itu melangkah menuju pintu belakang Rumahnya, menatap langit biru yang seakan menyapanya ramah.

Senyumnya mengembang membuat semut berpaling dari gula jika melihatnya. Dia melangkahkan kaki menuju pintu utama, hari ini libur Sekolah dan dia ingin menikmati waktu santainya.

"Pagi Abang," sapa Hasna pada Altan yang baru saja melewati ruang keluarga.

"Pagi Dik, Pagi Kakek Biksu," balasnya.

Ummar tersenyum. "Pagi cucuku."

Altan melirik Hasna dan Kakeknya yang tengah sibuk menyiapkan barang bawaan untuk menginap di rumah Kakek Atha.

Altan membuka pintu Rumahnya, tidak disangka jika pagi ini dia bukan hanya disambut hangat oleh langit biru namun juga oleh sosok yang telah dia kagumi lama. Zameena.

Zameena baru saja melepas sandalnya, menginjak lantai teras rumah keluarga Altan. Dia juga sama terkejutnya karena belum mengucap salam namun langsung disambut oleh Altan, gadis mendadak membeku jadinya.

Mereka saling menatap dalam diam beberapa saat sebelum akhirnya keheningan itu dibubarkan oleh suara Hafsah.

"Lho, kalian kenapa?"

Hafsah baru saja sampai rumah bersama Atlas, keduanya baru saja selesai jalan pagi bersama, disusul oleh Alfan dan Althaf yang juga datang dengan tangan yang penuh kantong kresek berisi nasi uduk dan jajanan pagi yang mereka temui di jalan.

Altan mengerjap beberapa kali, dia baru sadar jika Rumah sepi hanya ada Hasna dan Kakek Ummar.

"Eh ada calon mantu Bu Hafsah," sapa Althaf yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Zameena, memberikan senyum manisnya.

Atlas dan Hafsah menahan tawa setelah mendengar cara Althaf menyapa Zameena.

Zameena tidak menggubris Althaf, lantas dia menyalami Hafsah dan menyapa Atlas dengan sopan, lalu langsung mengutarakan sesuatu.

"Tante Hafsah, saya dateng pagi-pagi buat menyampaikan pesan Umi."

"Ada apa ya, Zameena?" tanya Hafsah.

"Itu, pengajian siang nanti di Rumah Bu Uswa. Hari ini harusnya Umi yang mengisi kajian, tapi beliau masih  perjalanan dari Bogor. Kalau berkenan, apa Tante Hafsah bisa menggantikan? Soalnya Umi udah coba telepon Tente tapi gak dijawab," tutur Zameena dengan tenang dan lembut.

Hafsah mengangguk. "Aduh, maaf ya sayang. Tante tadi pergi gak bawa HP. Sampaikan ke Umi kamu, nanti biar Tante yang gantikan beliau untuk isi kajian."

Zameena mengangguk. "Kalo gitu, saya pamit dulu—"

"Lah, gitu doang?" sela Althaf.

"Terus Abang maunya gimana?" tanya Alfan yang berjalan mendekati Altan yang masih mematung di depan pintu.

"Zameena gak mau nyapa calon suami?" tanya Althaf. Zameena melirik Althaf dengan lirikan mengerikan.

"Abang, jangan ledekin Zameena terus!" tegur Hafsah lembut.

TRIGONOMETRICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang