WARNING!
Cerita ini mengandung unsur semacam kekerasan, omongan kasar, dan beberapa hal buruk yang tidak pantas ditiru.
Semua tokoh, ras, agama, latar, hanya fiktif belakang.
Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.
Selamat membaca!!
-
-
-
-
-
"Biasanya orang yang dianggap istimewa, adalah orang yang berpotensi mendatangkan kecewa."
-Trigonometri-
Alfan kembali keluar kamar, dia ingin menghibur Mamanya agar tidak larut dalam kesedihan akibat Althaf yang tidak kunjung pulang ke rumah. Tapi dia mengurungkan niatnya saat mendengar obrolan orangtua dan Altan. Alfan bersembunyi di balik tembok, dan mendengarkan obrolan mereka.
"Maaf, semua ini salah Papah." Atlas menggenggam gelas miliknya dengan erat. "Kalo aja Papah gak main tangan sama Althaf, dia gak akan pergi dari rumah," lanjutnya dengan raut penuh penyesalan.
"Harusnya Papah bisa kendaliin emosi Papah, kita udah janji buat gak main tangan ke anak-anak, dampaknya buruk, Pah," balas Hafsah yang sampai sekarang masih sangat khawatir tentang kondisi dan keberadaan Althaf.
Altan menghela napas pelan, cowok itu menatap orangtuanya secara bergantian. "Altan udah cari ke rumah sahabat Althaf, tapi gak ada, di rumah Kakek Atha, juga gak ada."
"Di rumah Randi, Bagus, Alif, juga gak ada. Papah udah tanya sore tadi," sambung Atlas.
Hafsah memejamkan matanya sejenak, kepalanya benar-benar pening saat ini. "Mamah takut kalo Althaf kenapa-napa." Air mata perempuan itu kembali mengalir. Altan menggeser kursi yang dia duduki, agar lebih dekat dengan Mamanya.
"Mah, Altan tau, Mamah khawatir, tapi Altan mohon, jangan dibawa beban ya? Altan takut Mamah sakit." Cowok itu mengusap air mata sang Mamah dengan ibu jarinya. "Altan bakal cari Althaf, besok. Mamah istirahat aja ya?"
Hafsah mengangguk pelan. "Makasih Bang Altan." Altan tersenyum dan memeluk Mamanya dari samping.
Alfan mengurungkan niatnya untuk bergabung bersama orangtuanya dan Altan, cowok itu memilih kembali ke kamar untuk mengambil jaket dan kunci motor miliknya. Jika Althaf tidak berada di tempat yang Papah dan kembarannya sebutkan, berarti kemungkinan dia berada di dekat lingkungan sekolah. Tebaknya seorang diri.
Diam-diam, Alfan mengeluarkan motornya, sudah lama cowok itu tidak pergi sendiri, biasanya selalu bonceng Altan, tapi kali ini harus menemukan Althaf, meski hujan belum berhenti.
Alfan menyalakan mesin motornya saat berada jauh dari rumah, dia melaju menuju arah sekolahnya, berharap menemukan kembarannya, dia memang marah pada Althaf, tapi, egonya diturunkan demi Mamanya, agar sang Mama tidak lagi menangis dan khawatir atas kondisi Althaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRIGONOMETRI
Romance📝 FIKSI REMAJA Dulu ada yang pernah bertanya padaku, ingin menjadi apa aku ini saat dewasa nanti. "Aku ingin menjadi sinar mentari yang dengan gembira menyinari dunia yang gelap ini. Lalu berubah menjadi bintang indah yang menyinari langit pada ma...
