Ada yang nungguin Trigonometri update?
Absen dulu sini, CUNG! 🙋♂️🙋♀️
WARNING!
Cerita ini mengandung unsur semacam kekerasan, omongan kasar, dan beberapa hal buruk yang tidak pantas ditiru.
Semua tokoh, ras, agama, latar, hanya fiktif belakang.
Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.
Selamat membaca!!
-
-
-
“Bertemu dan kehilangan, bukannya itu konsep kehidupan?”
-Atlas-
Dalam novel ‘Trigonometri’
Atlas masuk ke dalam kamar, tepat saat Althaf pergi, dia menghampiri Hafsah yang terduduk di tepi kasur. Rasa kehilangan Alfan memang masih begitu dalam, tapi dia tidak mau kejadian buruk yang pernah menimpa Hafsah, kembali terulang, dia juga tidak mau jika nantinya, anak-anaknya yang lain, merasakan hal tidak adil. Dan dia juga tidak mau, Althaf semakin jauh darinya.
Atlas duduk di samping sang istri yang menangis tanpa suara, laki-laki itu meraih tangan kiri istrinya dan digenggam dengan hangat. “Aku, kamu, dan keluarga yang lain, sangat-sangat terpukul akan kepergian Alfan.” Atlas menjeda kalimatnya, menatap lembut wajah istrinya. “Hafsah, bertemu dan kehilangan, bukannya itu konsep kehidupan? Lalu, semua yang kita miliki di dunia ini, titipan Allah Ta’alla, baik itu harta benda ataupun anak. Saat ini, Allah ambil apa yang menjadi milik Dia, Alfan. Putra kita.”
Hafsah mendengarkan, sesekali perempuan itu menghapus air matanya.
“Harusnya saat ini kita bisa ikhlas, meski berat, tapi itu yang harus dilakukan. Jangan sampe nantinya kita kehilangan hal lain yang juga sama berharganya.” Atlas mengusap lembut punggung tangan istrinya. “Kehilangan boleh, tapi sewajarnya. Dan harusnya saat ini, kita sama-sama instropeksi diri, dari masalah yang lalu, sampe sekarang.”
Hafsah mengangguk pelan. “Maafin aku,” ucapnya. “Maaf belum bisa menjadi Ibu serta istri yang baik,” ucapnya lagi. Atlas menggeleng pelan.
“Kita harus saling sama-sama belajar dan memahami, aku juga minta maaf, belum bisa memberi kebahagiaan untuk kamu dan anak-anak. Saat ini, aku mohon sama kamu, turunkan emosi, jangan menyalahkan siapapun atas kepergian Alfan. Doakan Alfan agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah, itu tugas kita yang sebenarnya,” lanjut Atlas, Hafsah kembali mengangguk. Perempuan itu mencerna semua ucapan suaminya dan dia pahami sampai akirnya, memang seharusnya dia tidak berbicara kasar seperti tadi pada Althaf. Hafsah, nasi sudah menjadi bubur.
“Selama ini, aku sadar kalo sebenarnya, baik Althaf maupun Altan, sama-sama memiliki trauma, mungkin kamu gak liat secara langsung, tapi sejak mereka kecil, aku berusaha untuk membuat mereka sembuh dan terlepas dari traumanya masing-masing.”
Ingatan Atlas kembali pada masa kecil triplet, saat ketiganya masih berusia lima tahun. Tepat setelah Alfan kembali dan Althaf memilih untuk tinggal di Pesantren.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRIGONOMETRI
Romance📝 FIKSI REMAJA Dulu ada yang pernah bertanya padaku, ingin menjadi apa aku ini saat dewasa nanti. "Aku ingin menjadi sinar mentari yang dengan gembira menyinari dunia yang gelap ini. Lalu berubah menjadi bintang indah yang menyinari langit pada ma...
