Ekstra Part 2

60.2K 3K 44
                                        

WARNING!

Cerita ini mengandung unsur semacam kekerasan, omongan kasar, dan beberapa hal buruk yang tidak pantas ditiru.

Semua tokoh, ras, agama, latar, hanya fiktif belakang.

Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.

Selamat membaca!!













Kansa dan Alfan sama-sama tersenyum saat melihat cookies kering buatan mereka telah selesai.

Hafsah dan Hasna juga ikut tersenyum, Kansa harusnya ada di tempat les namun dia justru memilih untuk belajar membuat cookies bersama Hafsah dan ditemani oleh Alfan serta Hasna.

"Adik cicipin boleh ya?" izin Hasna sambil menatap Alfan dan Kansa bergantian.

"Boleh dong," balas Kansa lalu diangguki oleh Alfan.

Hasna mengambil satu cookies kering itu dan menyantapnya. Kedua alis gadis itu terangkat sebelum akhirnya mengembangkan senyum.

"Enak banget," pujinya.

"Iya? Mamah juga mau coba deh." Hafsah ikut mencicipin cookiesnya dan memang enak.

"Misi kalian berhasil," ucap Hafsah membuat Kansa dan Alfan merasa bangga.

Bagi Kansa, berada di dalam keluarga Atlas, adalah hal yang membuatnya bahagia. Dia juga ingin memiliki orangtua yang mendukungnya namun apa daya, orangtua Kansa berbeda jauh dari Hafsah dan Atlas.

Meski demikian, Kansa selalu mencoba untuk tetap bersyukur karena bagaimanapun juga dia masih diberi orangtua yang utuh oleh Allah.

"Lho, sayang. Ternyata kamu disini, pantes gak ada di tempat les."

Semua yang ada di dapur menoleh, ternyata Althaf sudah pulang dan ikut bergabung.

Althaf menempatkan diri disamping Kansa. "Kamu lagi belajar masak sama Mamaku? Bilang dong sayang, jadi aku gak cariin kamu di tempat les."

"Denger, kan, tante Hafsah. Anaknya tuh suka halu." Adu Kansa.

Hafsah menjewer telinga Althaf. "Jangan genit, Bang!"

Alfan dan Hasna tertawa puas karena Althaf mendapat hukuman dari Mamah mereka.

"Aduh... Mamah, iya maaf." Althaf cemberut.

"Lo tuh pake bolos segala, gue nyariin babi!"

"Babi-babi!" marah Kansa.

"Abang, panggilnya yang bener," tegur Hafsah sembari membereskan barang-barang yang baru saja digunakan untuk membuat cookies dibantu oleh Hasna dan Alfan.

"Lagian dipanggil sayang gak mau, ya udah panggil babi aja."

Saking kesalnya, Kansa mencubit pinggang Althaf dengan keras membuat cowok itu kesakitan.

"Sakit bego!" Althaf menghindar namun Kansa terus mengejarnya. Memang mereka gak pernah akur sih.

"Mereka tuh kayak tikus sama kucing," ucap Alfan.

"Iya, gak pernah akur," balas Hasna.

Alfan jadi ingat masa-masa kecil mereka, terlebih saat Althaf dengan nakalnya menaruh cacing diatas kepala Kansa saat gadis itu menolak untuk main bersama. Lucu jika diingat-ingat.

Altan datang menghampiri Althaf yang telah tertangkap Kansa dan pasrah mendapat cubitan dipinggang dan tangan.

"Bang, ikut saya bentar," ucapnya sambil lalu.

TRIGONOMETRICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang