1(SATU)

46 1 1
                                    

Ardi mengecek email masuk, membaca dan memahami pekerjaannya, dia mendesah mengeluh akan pekerjaan yang menumpuk di akhir bulan.

Pagi ini Ardi harus meeting dengan klien, hidup di Jakarta memang tidak seindah gambar Jakarta saat di ambil pada malam hari.

Jakarta penuh dengan persaingan, tak hanya jakarta sebenarnya jaman yang semakin maju dengan teknologi yang semakin canggih, mungkin suatu hari nanti manusia akan bersaing dengan robot robot buatan manusia sendiri.

Jika kamu butuh pekerjaan dengan cepat tinggal berikan bingkisan dollar tanpa melalui proses yang tak ada ujungnya kamu langsung di terima.

Hidup harus seimbang apalah artinya otak cerdas tanpa tau apa itu peluang, otakmu tak akan terlihat oleh para pemberi peluang, seperti saat ini Ardi yang berhasil memenangkan tender dalam meetingnya tadi, ya Ardi bukanlah seorang yang jenius, bukan dari kalangan orang kaya yang kayanya sudah sejak lahir, ia hanya pintar mengambil peluang.

Senyum yang tak pernah pudar, Ardi melajukan mobilnya pada perumahan elit, dimana kata orang hanya konglomerat saja yang dapat membeli rumah disini, saat mencocokan nomer rumah yang tertera dan tepat di sebrang jalan depan rumah yang dia incar.

Ardi menemukan dua perempuan keluar dari gerbang rumah, perbedaan mereka sangatlah kentara yang satu menggunakan kaos pink yang pas tidak ketat dan tidak longgar dengan dipadukan dengan rok selutut berwarna kream perpaduan baju yang cocok untuk jenis kulit putih pucat seperti dia, dengan rambut di kuncir kuda yang memamerkan jenjang lehernya yang putih dan mulur, Ardi hanya dapat meneguk lidahnya saja melihat sosok itu.

Lain halnya dengan perempuan yang satunya lagi tepat berada di sebelah jendela mobilnya mengaca pada kaca mobilnya yang hitam meles, terlihat dia sangat pede merapikan tatanan rambutnya yang bergelombang dan eitt dia memamerkan giginya yang lebih mengejutkan lagi ada sisa cabai di sela sela giginya, sialnya perempuan itu membersihkannya tepat di depan mata Ardi.

Ardi bergidik ngeri "anjir jorok banget ini cewek, mau aja cewek anggun itu temenan sama cewek jorok modelan kek gitu".

Beberapa detik kemudian perempuan anggun itu menyeret perempuan yang sedang membersihkan giginya tadi, terlihat perempuan yang membersihkan gigi tadi cemberut karena kegiatannya belum selesai.

Ardi hanya dapat geleng geleng melihat keduanya, sesaat kemudian dia keluar dari mobilnya menuju rumah didepannya tampak megah bak rumah para princess kerajaan.

Ardi yang melihat ada satpam yang ingin menutup gerbang segera berlari kecil dan mencegah untuk tidak menutup gerbangnya "tunggu pak!".

Sontak satpam tersebut berhenti dan segera berdiri menghadap Ardi "iya ada apa ya mas?"

"saya mau tanya tadi dua perempuan yang keluar dari rumah ini, apakah pemilik rumah ini?" Tanya Ardi pada satpam yang terlihat sudah bapak bapak.

"oh mbak Kinan sama mbak Nia, mbak Kinan yang punya rumah ini, kalo mbak Nia mah ya temennya mbak Kinan" jelas bapak satpam itu pada Ardi.

"Kinan yang rambutnya di kuncir?" Tanya Ardi untuk memperjelas.

"iya atuh mas mbak Kinan yang di kuncir yang cantik anggun itu, masak ya yang bersihin gigi di jendela mobilnya mas nya" jawab pak satpam sambil menahan tertawanya.

Ardi hanya tersenyum "saya sampai lupa memperkenalkan diri saya Ardi pak, terima kasih atas informasi yang bapak berikan" Ardi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang pak satpam dan langsung di sambut baik oleh sang bapak "saya Parto mas satpam yang nunggu rumahnya mbak Kinan, sama sama masnya"

Setelah itu Ardi pamit undur diri pada pada pak Parto.

°°°

Kinan perempuan yang cantik Ardi saja sampai tak berkedip melihatnya.

Beberapa hari ini Ardi mengikuti setiap aktivitas yang Kinan lakukan, simple hidupnya hanya berputar disitu situ saja, mungkin hidupnya yang nyaman sejak lahir menjadikan dia tetap pada zona nyamannya.

Kinan selalu berangkat kuliah, menghampiri si gigi cabai alias Nia, jalan bersama menghabiskan waktu hingga malam bersama Nia.

Beberapa hari Ardi mengikuti mereka, Ardi berniat menghampiri Kinan saat ini Kinan sedang berjalan seorang diri, saat ingin menyapa datanglah Nia dari samping.

Ardi hanya bisa menghembuskan napasnya dari mulutnya "dia lagi lagi dan lagi, gimana coba gua deketin si Kinannya".

Ardi mengadahkan kepalanya keatas berfikir mencari cara bagaimana caranya bisa dekat dengan Kinan. "Apa gua lakuin itu ya?, kalau enggak gitu gua bakalan stuck disini sini aja nih" Ardi bermonolog
"Ah bodolah"

Langsung saja saat Nia berjalan menjauh dari Kinan, mungkin dia ada kelas, Ardi membuntuti Nia saat jaraknya kira kira satu lengan milik Ardi, dia tepuk bahunya dan blam.

Bersambung...

Semoga harimu menyenangkan

With You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang