2(DUA)

17 1 0
                                    

Kita tidak dapat memilih ingin dilahirkan dari rahim seorang ibu dan keluarga yang seperti apa, yang kita tahu kita terlahir karena adanya proses yang dilakukan sepasang manusia laki laki dan perempuan atas dasar cinta, keterpaksaan, atau hanya main main, dulu hanyalah bayi yang terlahir suci bersih tanpa noda.

Layaknya kertas putih bersih dengan tangan tangan manusia yang mewarnai kertas tersebut terciptalah hasilnya entah buruk atau baik, layaknya penghapus yang menghapus coretan itu, pastilah memiliki bekas walau tak terlihat dengan sekali pandang.

Kinanti Yuranaya sosok perempuan cantik nan anggun tengah duduk merenung menunggu datangnya senja sore ini.

Kinan tidak pernah ingin hidup dalam kesendirian seperti saat ini, banyak orang mengira hidupnya bahagia dengan kekayaannya yang melimpah, apapun yang dia inginkan akan dia dapatkan dalam sekejap mata, hanya satu yang tak pernah dia dapatkan, dua puluh lima tahun hidupnya selama ini hanya ia habiskan untuk berusaha mendapatkan kenyamanan, kehangatan, dan ketentraman dalam keluarga.

Kinan yang terlahir menjadi anak pertama dari penerus perusahaan Hei Group sejak lahir sang ayah tidak pernah menganggap akan kehadiran sosok Kinan dalam hidupnya.

Setiap kali Kinan berlibur ke Korea hanya ibunya yang menyambutnya dengan hangat dan senang hati, Kinan si kaya yang tak punya teman dan keluarga itulah yang selalu tertanam dalam otaknya.

Renungan Kinan akan berhenti setelah senja menghilang ditelan kegelapan.

Layaknya hidupnya indah bak senja akan semakin gelap dimata sang ayahnya.

°°°

Kegelapan malam ini mengantarkan Nia tengah tidur lelap dengan nyaman di atas ranjang yang beruntungnya seprei dan selimut sangat lembut dan halus.

"Keenakan nih cewek, berapa jam sudah harusnya dia udah bangun" gerutu Ardi tengah duduk bersandar dengan satu kaki dinaikkan ke atas kaki satunya mengawasi Nia tengah tidur pulas di atas ranjangnya.

Nia menggeliat merentangkan tinggi tinggi tangannya ke atas dan membuka matanya sontak melebar melihat penampakan seorang pria di depannya sedang mengawasinya.

"Siapa anda?, ngapain disini?, ngeliatin saya kek gitu?" Sederet pertanyaan diutarakan olehnya.

"Saya?" Ardi menanggapi dengan malas, menperhatikan rambut singa Nia dan wajah melongonya membuatnya ingin tertawa tapi urung ia keluarkan.

Ardi keluar dari kamarnya biarlah perempuan itu mengira ngira sendiri.

Sebelum Nia mengangguk, Ardi telah meninggalkannya.

"Gua dimana?, kok bisa disini, tadikan gua mau masuk kelas, kok bisa disini" Nia bergumam setelahnya ia sadar jika ia bolos jam mata kuliahnya yang tepatnya dosennya killer.

"KULIAH GUE!" Sontak Nia berteriak dan berlari keluar kamar menemukan Ardi berada tepat di depannya tengah menutup kedua telinganya.

"Siapa kamu?, kok bisa saya ada disini?" Tanya Nia pada Ardi, yang hanya dijawab angkatan alis dari Ardi.

"Kamu nyulik saya? Iya!?" Tuding Nia pada Ardi, Nia maju selangkah, Ardi sontak mundur selangkah setelahnya Ardi menyodorkan segelas air putih pada Nia, disambar dan diteguk habis tanpa sisa oleh Nia dan dikembalikan gelasnya pada Ardi.

"Saya Ardi, saya memang menculik kamu" jawab atas apa yang di tanyakan oleh Nia, kurang puas akan jawaban dari Ardi.

Nia menimpali pertanyaan lagi "terus ngapain culik saya?, kamu enggak tau saya tadi harus kuliah dengan dosen killer saya, kalau sampe saya enggak lulus mata kuliah ini kamu harus tanggung jawab titik, saya mau pulang." Sederet kalimat yang keluar dari mulut Nia hanyalah angin lalu bagi Ardi.

Toh Nia enggak akan bisa keluar dari apartemennya.

Nia seenaknya berjalan melewatinya berniat ingin membuka pintu dan dia baru ingat ini bukan kos kos an murahan yang ia tempati saat ini, ini apartemen.

"Bukain pintunya saya mau keluar nih!" Suruh Nia pada Ardi.

"Saya akan memulangkanmu asal kita membuat kesepakatan, sia sia dong saya nyulik kamu kalau endingnya kamu hanya numpang tidur di ranjang saya tanpa kesepakatan apapun" cercar Ardi sambil berjalan menuju sofa panjang yang berada di depan Televisi lebarnya

"Kesepakatan apapun saya tidak akan mau, cepat bukakan pintunya!" Ngotot Nia pada Ardi.

Ardi hanya memandangi kegigihannya "saya tidak akan membukakan pintu itu, sebelum kamu mendengarkan saya, terserah kamu mau berdiri disitu sampai pagi pun saya tidak peduli" timpal Ardi pada Nia.

Nia yang tetap pada pendiriannya tetap berdiri, Ardi hanya menatapnya sekilas lalu fokus pada ponselnya yang berkedip menandakan ada sesuatu yang masuk.

Nia tidak akan seperti ini jika dia tidak terjebak dengan lelaki yang bernama Ardi Ardi ini.

Apakah dia harus mendengarkan apa maunya?, jika dia tetap gigih dengan pendiriannya ia akan jadi patung beneran disini liat saja saat ini Ardi malah asik dengan ponselnya.

Kalau di menyepakati kemauan laki laki itu, nanti maunya aneh aneh.

"Harus gimana nih gua?" Tanya Nia dalam hati.

Nia menimbang nimbang dan akhirnya "apa kesepakatannya?"

Ardi menoleh pada Nia "gitu daritadi, tidak akan memperlama kamu didalam apartemen saya, atau memang itu maumu?"

"Enak saja, cepat katakan apa kesepakatannya" timpali Nia

"Duduklah seben---" belum selesai Ardi mengutarakan apa maunya Nia telah menimpalinya "tidak, cepat katakan jangan membelit belit"

"Oke, jadi begini saya ingin tau lebih dalam tentang Kinan, tau kan Kinan?"

"Untuk apa?, apa kau mata mata?" Sergah Nia pada Ardi.

Senyum Ardi mengembang "bukan, saya hanya ingin tau, mungkin saya tertarik dengan dia" pikir Ardi.

"Jadi itu kesepakatannya, jika kamu mengatakan iya kamu akan keluar dan pulang dengan selamat dan nyaman, bagaimana?" Lanjut Ardi

"Tidak, tidak akan saya memberi tahumu." Tolak Nia, biarlah dia berdiri disini, asalkan Kinan tidak apa apa.

"Baiklah, kau akan tetap disini sampai kamu mengatakan iya" putus Ardi, selanjutnya Ardi menggerakkan jemari pada ponselnya yang menyala.

Nia yang bosan memandangi sekeliling dari apartemen ini hanya menunduk dan memandangi kedua kakinya yang tanpa alas kaki.

Hingga terdengar bunyi tombol dipencet dari luar dan terbukalah pintu apartemen ini, dalam hati Nia berkata "kesempatan gua", dan muncullah sosok perempuan cantik dengan sedikit kerutan di sekitar matanya.

"Ardi mama bawa makan malam untukmu" sumringah dari sang wanita paruh baya itu luntur saat melihat sosok Nia di depannya. "Siapa kamu?" Dan langsung menoleh pada Ardi.

"Mama ngapain kesini?" Ardi bertanya balik pada sang mama.

Sedangkan sang mama kaget saat tangannya diraih oleh Nia dan diciumnya punggung tangan sang mama selanjutnya Nia hanya nyengir dan berkata "anaknya di kasih tau tante jangan main mata mata an, nanti masuk penjara, saya pamit dulu".

Nia langsung berlari tanpa menghiraukan tas, ponsel, dan sepatunya tertinggal.

Sang mama dan Ardi hanya saling pandang.

Bersambung...

With You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang