Chapter 08-Will you be my girlfriends?

9 0 0
                                        

DON'T PLAGIAT❎
MOHON HARGAI KARYA SAYA.

'Maaf jika ada kesamaan dalam cerita atau nama tokoh karena manusia tak luput dari kesalahan. Ini real imajinasi penulis.'

Happy reading.

-

Arum baru saja menutup pintu apartemennya namun ketika dia berbalik dia terkejut melihat pria semalam yang di curigainya pencuri itu kini tengah berdiri di depan lift.

Jadi pria itu se-lantai apartemen denganku?

Melangkahkan kakinya, Arum menghampiri pria itu dan berdiri di belakangnya. Pria itu menoleh ke arah belakang dan bisa Arum lihat jika pria itu juga terkejut dengan kehadirannya.

"Kau gadis gila..." Pria itu menunjuk Arum "Bagaimana bisa kau...?"

"Apartemenku di lantai ini" jawab Arum malas

Ting! Pintu lift terbuka. Arum mendahului pria itu memasuki lift baru setelahnya pria itu mengikuti Arum masuk. Sambil menekan tombol lift ke lantai bawah. Pria itu berdecak kesal lalu melirik Arum dari dinding lift yang memantulkan diri mereka.

"Aku tahu aku salah sudah memukulmu tanpa sebab" Ujar Arum memulai pembicaraan "Maka dari itu aku ingin meminta maaf" Arum menundukkan dirinya dan melemahkan perkataan terakhirnya

Menunggu jawaban dari pria itu yang  di dengarnya hanyalah sebuah tawa, Arum langsung mengangkat kepalanya menatap heran pria itu.

"Aku ingin kau mentraktirku sebagai bentuk permintaan maafmu" Pria itu menoleh ke arah Arum "Dan aku akan menagihnya nanti tapi bukan sekarang"

Traktir?

"Aku tidak akan mentraktirmu. Aku tidak punya uang" kata Arum

"Hey tadi kau meminta maaf padaku  tapi sekarang kau sudah marah-marah lagi. fille folle" gumam pria itu "Kalau begitu aku juga tidak akan memaafkanmu" bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, pria itu langsung berjalan keluar.

"Tunggu" Arum mengejar pria asing itu. Jika bukan untuk meminta maaf Arum tidak akan repot-repot untuk mengejar pria sombong dan aneh. pria itu menghentikan langkahnya dan meoleh ke arah Arum sambil mengangkat satu alisnya.

Ya ampun, cobalah lihat gaya sombongnya itu rasanya Arum muak melihatnya. Menarik napas dalam-dalam barulah Arum mengeluarkan suaranya "Baiklah aku akan mentraktirmu. Dimana?"

"Sepertinya kau kurang tidur fille folle, aku sudah bilang bahwa bukan sekarang nanti ketika kita bertemu lagi" 

"Baiklah, hmmm..." Arum berpikir harus menyebut pria ini dengan nama apa, pria aneh? Pria sombong? Pria...

"Revansyah...Revan panggil aku dengan itu dan jangan mengarang namaku dengan otak gilamu itu" kata Revan sambil mengetuk-ngetuk kepala Arum yang di lihat sedang berpikir tentang siapa namanya dan dia tahu gadis itu sedang memikirkan memanggilnya dengan sebutan apa.

Mendengar perkataan Revan yang betul adanya membuat Arum menggerutu kesal lalu berjalan keluar menuju ke halte bus.

-

Arum menghela napas kasar, gadis itu terus kepikiran kejadian kemarin antara dia dan Zen. Astaga, pertanyaan apa yang sudah dia tanyakan kepada Zen? Siapa Zen? Memang benar pertanyaan Arum tidaklah salah tapi jawaban Zen yang membuatnya frustrasi dan pipinya menjadi bersemu merah jika mengingatnya. Tidak-tidak Zen pasti bercanda.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 03, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cunning Bastard ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang