DON'T PLAGIAT❎
MOHON HARGAI KARYA SAYA.
'Maaf jika ada kesamaan dalam cerita atau nama tokoh karena manusia tak luput dari kesalahan. Ini real imajinasi penulis.'
Happy reading.
-
Arum mendengus kesal menatap setiap pegawai restoran yang berjalan kesana-kemari. Arum terus menggerutu dan menyumpah serapahi Ruby. Ternyata dugaannya salah jika Ruby mengalah padanya, nyatanya gadis itu tak membiarkannya menang. Ruby memang tak memaksanya untuk pulang dan membiarkannya di restoran tapi apa yang dia lakukan sekarang hanya duduk dan menatap semua pegawai yang sibuk kesana-kemari melayani pelanggan. Sekalipun membantah atau melawan Ruby semua akan sia-sia dengan semua ancaman gadis itu.
Ruby benar-benar menyebalkan
"Paman Denny satu minuman Americano untuk pesanan meja nomor 9" seru Ruby
Arum yang melihatnya mencembikkan bibirnya. "Ck, biarkan aku bekerja Ruby"
Ruby yang berdiri di depannya berbalik menatap Arum. "Bekerja dengan kondisi seperti itu? Arum kau akan merugikan restoran ini jika kau melakukan pekerjaan dengan tangan terluka dan Jessica akan sangat marah nantinya-"
"Iya iya" potong Arum sambil memutar bola matanya malas. Entah sudah berapa kali Ruby mengatakan itu padanya.
Dasar sahabat durhaka
"Aku ingin ke toilet dulu"
Setelah peninggalan Ruby paman Denny datang dengan sebuah minuman yang sepertinya pesanan minuman dari pelanggan.
"Dimana Ruby?" Tanya paman Denny
"Apa ini pesanan minuman untuk pelanggan?" Bukannya menjawab pertanyaan paman Denny Arum malah memberikan pertanyaan lain dan mendapat anggukkan kepala dari paman Denny atas pertanyaannya. "Biarkan aku yang mengantarnya" Arum merampas nampan minuman dari tangan paman Denny
"Tapi..."
"Ruby sedang di toilet paman jadi biarkan aku yang mengantarnya. Apa paman ingin pelanggan kita marah karena pesanannya lama?" Kata Arum dengan senyun jahilnya berusaha menakuti paman Denny
"Baiklah kau antarkan saja minuman itu"
Dengan senyum merekahnya Arum mengangguk dan berjalan pergi.
Pesanan untuk meja nomor sembilan batinnya mengingat perkataan Ruby
Arum segera menghampiri meja nomor sembilan yang pelanggannya seorang pria.
"Silakan tuan" Arum meletakkan minumannya dan sedikit melirik ke arah pria berjas kerja formal itu yang mengalihkan tatapannya dari ponsel ke arah Arum
"Selamat menikmati" kata Arum dengan gugup. Bagaimana tidak, pria itu menatap Arum dengan tatapan tajam. Arum yang merasa risih dengan tatapan pria itu segera pergi dari sana dan kembali ke dapur.
-
Setelah tadi dia mengantarkan pesanan minuman itu kepada pria yang menurut Arum 'aneh', dia mendapatkan omelan abis-abisan dari Ruby. Astaga, gadis itu sudah seperti ibu baginya. Padahal hanya luka di bagian sikut saja sudah berlebihan seperti itu. Bagaimana jadinya jika Ruby menikah nanti apa suaminya akan tahan dengan mulut pedas gadis itu.
Seharusnya hari ini menjadi hari yang bahagia untuk Arum tapi malah berubah menjadi hari buruk untuknya.
"Arum..." Arum mendongak menatap seorang pria -bernama Edward- yang berseragam Chef sedang berdiri di depannya dengan sebuah nampan berisi makanan.
Edward duduk di hadapan Arum "Cobalah" pria itu meletakkan nampan yang berisi makanan di atas meja
Arum yang memang sedang lapar pun segera mencoba makanan buatan Edward. Jam 09.00 pm dan dia belum makan sejak siang karena restoran sangat ramai. Jadi siapa yang akan menolak makanan buatan Edward. Edwars adalah seorang Chef di restoran ini dan masakannya selalu enak.
"Bagaiamana?" Tanya Edward yang melihat bagaiaman lahapnya Arum memakan makanan buatannya
"Hmm, sangat enak" Arum mengangkat dua jempolnya menyatakan betapa enaknya masakan buatan Edward.
"Baguslah, aku ingin mengajukan makanan ini pada Jessica untuk di tambahkan menjadi menu dalam restoran ini"
Arum mengangguk dan meminum air lalu setelahnya menjawab perkataan Edward. "Benar kau harus mengatakan ini pada Jessica setelah pulang dari Itali. Ini benar-benar enak"
Edward tertawa mendengar perkataan Arum yang berlebihan. "Teruskan makananmu dan makan dengan pelan jangan terburu-buru" Edward memberikan senyumnya sambil mengacak rambut Arum lalu beranjak pergi.
Sedangkan Arum terdiam dan menatap kepergian Edward
-
Halo-halo semoga suka yaa chaptwr ini...
Jangan lupa
Vote and comment
Next chapter...
KAMU SEDANG MEMBACA
Cunning Bastard Man
RomansaDON'T PLAGIAT❎ MOHON HARGAI KARYA SAYA. "Aku ingin tidak mempercayai semua ini tapi saat aku melihat dan mendengar semuanya sangat sulit untukku tak percaya. Sekarang aku tahu semua yang terlihat baik ternyata begitu menyakitkan."
