Chapter 04-Thief

10 6 2
                                        

DON'T PLAGIAT❎
MOHON HARGAI KARYA SAYA.

'Maaf jika ada kesamaan dalam cerita atau nama tokoh karena manusia tak luput dari kesalahan. Ini real imajinasi penulis.'

Happy reading.

-

Arum mengacak-acak seluruh isi tasnya mencari tugas kuliahnya. Jangan-jangan benar-benar ketinggalan.

Kerena terburu-buru pergi ke kampus Arum sampai melupakan tugas kuliahnya. Ini semua gara-gara Ruby yang terus merecokinya sampai tengah malam hingga membuatnya harus bangun kesiangan lalu ketika Arum sudah sampai di kampusnya dan berhadapan langsung dengan Dosennya yang meminta tugasnya. Arum memberikan tugas yang sudah di kerjakannya beberapa hari yang lalu harus mendapatkan omelan dan usiran dari sang dosen karena merasa Arum mempermainkannya karena yang dia berikan bukanlah tugas yang di kerjakannya malah bukan catatannya sendiri.

Masih serius dengan aktivitasnya mengacak-acak tas, Arum sampai tidak memperhatikan jalan sehingga hampir membuatnya jatuh jika sebuah tangan kekar tidak menangkap tubuh rampingnya. Arum yang terkejut reflex mengalungkan tangannya ke leher pria itu.

Dengan ekspresi kagetnya Arum menatap pria yang menahan tubuhnya itu dengan mata berkedip-kedip.

Dia!

"Maaf nona" suara bariton itu membuyarkan ke kagetan Arum dan segera menjauhkan dirinya dari pria itu.

"Maaf" gumam Arum menatap pria itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Terima kasih sudah menolongku" ucap Arun dan di balas anggukkan kepala oleh pria itu

Bukannya dia pria itu? Tapi penampilannya sangat berbeda

"Sama-sama. Lain kali hati-hati dan perhatikan jalanmu" kata pria itu

"I..iya" karena melamun Arum menjawab dengan gugup

"Sedang apa kau disini nona?" Tanya pria itu

Tentu saja kuliah. Nggak lihat ini kampus gerutu Arum dalam hati

"Aku...aku kuliah disini" jawab Arum

"Maaf, aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Bukankah kau pelanggan di restoran waktu itu?" Arum akhirnya memberikan pertanyaan yang ingin di tanyakan sejak tadi. Pria itu terlihat berbeda hari ini, baju t-shirt abu-abu yang di lapisi dengan jaket dan celana jeans yang robek di bagian lutut Terlihat lebih santai dari pada kemarin yang menggunakan jas formal.

Aku tidak salah mengenalinya tapi apa benar itu pria di restoran waktu itu?

Pria itu mengerutkan keningnya tapi akhirnya dia tersenyum. "Benar itu aku dan kau adalah pelayan itu, kan?"

"Senang bertemu denganmu nona.." pria itu mengulurkan tangannya berniat berkenalan dengan Arum sedangkan Arum hanya menatap tangan pria itu dengan ragu.

Padahal di restoran itu tidak terjadi apa-apa antara Arum dan pria ini. Hanya saja Arum merasa risih dengan tatapan pria itu padanya, di tambah pula begitu banyak pelayan di restoran dan bagaimana pria itu mengingatnya.

Seakan tahu apa yang Arum pikirkan pria itu berujar "Tentu aku mengingatmu nona..." pria itu melirik ke siku Arum yang terluka. Ahh, bagaimana bisa dia lupa dengan lukanya. Arum mendongak dan memberikan senyum maafnya karena sempat mencurigai pria itu.

"Aku Arum Arensa, kau bisa memanggilku Arum" balas Arum dengan menerima uluran tangan pria itu "Dan aku Zen Albert panggil saja Zen" jawab pria itu

Arum segera melepaskan tangannya. "Maaf aku harus pergi sekali lagi terima kasih" setelah mengatakan itu Arum pun pergi meninggalkan pria bernana Zen itu

-

"Kau, kenapa di sini dan bukannya kuliah? Kau bilang akan mengambil shif malam?" Tanya Ruby saat melihat Arum yang sudah duduk santai di kursi restoran

Arum memutar bola matanya mendengar pertanyaan Ruby. "Aku disini juga karena gara-gara kau"

Ruby yang mendengar dia adalah penyebab Arum disini berbalik dan menatap gadis itu dengan kening berkerut. "Mengapa aku? Kau yang kuliah dan mengapa aku yang disalahkan?"

Arum rasanya ingin berteriak kepada Ruby tapi karena ia malas berdebat dengan Ruby lebih baik ia diam saja dan mengalihkan pembicaraan "Aku datang ingin bertemu paman Denny"

"Paman Denny sedang pergi mengantar pesanan makanan" jawab Ruby

Ya, dari semenjak Arum kecelakaan beberapa hari yang lalu paman Denny merasa bersalah dan mengambil alih sebagai pengantar pesanan makanan dan di tambah juga dengan Arum yang harus fokus pada kuliahnya membuat dia harus mengambil shif malam pekerjaannya membuat pekerjaan yang dulu harus Arum kerjakan menjadi tanggung jawab paman Denni

"Biarkan aku bertemu Edward?"

Ruby beralih menatap Arum dengan tatapan selidik. Mendapatkan tatapan seperti itu Arum segera menjawab maksudnya. "Aku lapar dan belum sarapan pagi biarkan Edward memasakkanku makanan" Setelah itu Arum bergegas ke dapur restoran. Perutnya sudah berdemo sejak tadi dan perlu di isi. Masakan Edward adalah pilihan yang tepat saat ini.

-

Oh ya ampun. Seharian bekerja membuat semua tulang di tubuh Arum terasa remuk, gadis itu sedikit merenggangkan otot-otot tangannya. Mata hitamnya melirik ke arah luar restoran yang sudah menggelap, hari sudah larut malam semua pegawai restoran telah pulang begitu juga dengan Ruby yang katanya mempunyai urusan mendadak dan pergi lebih dulu lalu Paman Denny pria paruh baya itu pulang saat sore hari karena shif kerjanya hanya sampai sore hari, sedangkan Edward pria itu juga pergi tanpa memberitahukan kemana ia akan pergi, sehingga menyisakan Arum sendirian.

Gadis itu menutup pintu restoran dan bergegas ke halte sebelum dia ketinggalan bus. Tepat setelah dia sampai bus sudah ada di sana membuatnya tak perlu lagi menunggu. Sambil menunggu bus berhenti di tempat tujuannya Arum memejamkan matanya sejenak untuk mengistirahatkan dirinya. Tak berselang lama akhirnya bus berhenti di halte yang menuju ke apartemennya.

Gadis itu segera turun dan berjalan kaki ke arah apartemennya inilah yang di lakukannya setiap hari berjalan hingga ke apartemen, namanya juga nasib anak kuliahan. Beberapa jam berjalan akhirnya Arum sampai di  apartemennya di sambut oleh sang security, Arum memberikan senyumnya lalu memasuki area lobi.

Menekan tombol lift Arum berdiri menunggu. Pintu lift terbuka dan seorang pria berpakaian tertutup keluar dari sana. Arum mengernyit menatap orang itu yang wajahnya tertutup dan berjalan melewati Arum. Sejenak arum menatap orang itu dengan aneh, mengabaikan itu Arum segera memasuki lift dan menekan lantai tempat apartemennya.

Dia sangat ingin segera merasakan empuknya ranjang untuk tubuh letihnya ini. Ting! Pintu lift terbuka dan Arum segera keluar dari sana lalu berjalan kearah dimana apartemennya. Di saat dia sedang memasukkan beberapa angka untuk kode password apartemennya Arum di kejutkan dengan teriakan suara dari seseorang bersamaan dengan pintu apartemen yang berada di sebelahnya yang terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya.

"Ada apa Nyonya?" Tanya Arum menghampiri wanita paruh baya itu

Wanita itu memegang lengan Arum dan menatapnya. "Pencuri..."

-

Hay guys di chapter ini kayaknya ke panjangan dari pada chapter sebelumnya. Tapi semoga aja kalian nggak bosan ya bacanya.

Penasaran sama chapter selanjutnya? Jangan lupa ya di Vote and Comment. Supaya akunya semangat

Next chapter..

Cunning Bastard ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang