VI

148 12 1
                                        

Diawali dari beberapa botol alkohol dan juga curahan hati yang panjang lebar, kini Aji mendapati dirinya masih terjaga lewat tengah malam ini. Dia tidak keberatan, toh, besok ia tidak ada kelas pagi.

Menyengkram permukaan kasur yang kusut, siku dan lengannya terasa makin melemah dan pegal karena menumpu beban badannya sedaritadi. Gerak yang dilakukannya makin kencang.

Isi kepalanya tak fokus, kemana-mana tak beraturan. Saat itu lupa dia sedang tidur dengan siapa, bagaimana awalnya, yang ia ingat dan sadar hanya rasa yang terus menerus menguat. Suara rintih feminin yang meminta lebih bolak balik mengalun, Aji terus bergerak dan memejamkan matanya sejenak.

Rupanya dalam gelap macam-macam yang mampir di otaknya.

Memorinya beberapa hari yang lalu dengan rasa nikmat yang mirip.

Dan Rega.

Tanpa sadar Aji menggeram pelan, gerakannya yang makin tidak teratur. Makin kuat, terus menerus; lagi, lagi, lagi.

"Ah, bangsat—"

Membahana raung rendah Aji, dengan matanya yang memejam ia perlahan menghentikan gerakannya. Rasa yang memuncak itu berangsur-angsur menyurut kemudian, tubuhnya yang tadinya menegang keras merileks yang menyisakan deru nafas yang patah-patah sama dengan pola nafas wanita yang berada dibawahnya—

Yang jelasnya itu bukan Rega.

Setelah mengecup punggung perempuan di bawahnya dan berbagi cium dari bibir masing-masing terakhir kali, Aji mendengar Tiara mendesah lirih saat ia menarik dirinya keluar. Lalu terdengar tawa kecil perempuan itu kemudian saat lelaki itu membuang bekas pengaman ke tempat sampah.

"Capek?" tanya perempuan yang kini berbaring tengkurap itu.

"Lumayan." Kekeh canggung Aji terdengar pelan, sambil menyibakan rambutnya sendiri yang lepek terkena keringat. ia berusaha menutupi kebingungannya sendiri dengan mengatur ekspresinya di depan Tiara. Ia masih tidak percaya dengan kepalanya sendiri yang menghadirkan kekasih sahabatnya dalam imajinasinya saat sedang bersanggama dengan wanita lain.

That's a first.

Perempuan itu menatap kearah lelaki yang ikut duduk menyender tembok di sampingnya dengan senyum simpul.

"That was amazing."

Aji merespon dengan gumam kecil.

"Kamu jago juga."

"Masa sih?"

"Kalau dibanding si anjing itu, seruan sama kamu, bener deh."

Aji hanya bisa tertawa pelan, dia masih tidak terbiasa dengan pujian yang seperti ini. Terlebih lagi dari senior jurusannya, yang baru saja dicampakkan kekasihnya sehari lalu. Tentu saja Aji berfikir bahwa pendapat wanita yang kali ini menemaninya semalaman itu bias tertutup kekecewaan pada mantan kekasihnya itu.

"Terus bener juga kata Yasmin, you're good at eating girls out."

Well... He'll take that. Kalau yang ini mungkin benar.

"Haha, I'm flattered."

Lelaki itu lalu meraih ke jaketnya yang teronggok di ujung tempat tidur untuk mengambil pemantik dan kotak rokok di kantungnya. Ia melirik jam dinding sekilas, setengah 2 malam.

"Nginap aja, gimana? Udah malam, kontrakan kamu lumayan jauh juga." Ujar Aji kemudian.

"Nggak apa-apa nih?"

"Santai aja. Tapi besok kamu nggak ada bimbingan pagi, kan?"

"Nggak ada bimbingan, sih, untuk besok. Eh, kamu sendiri gimana? Ada kelas nggak besok?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 07, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UtervisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang