Dejavu, apa ini dejavu?! Aku bahkan tidak mengerti tentang dejavu. Sesuatu yang terasa seperti pernah kulewati sebelumnya, padahal hal itu belum pernah terjadi. Begitu aneh dan membingungkan. Aku rasa tidak. Ini lebih seperti mimpi buruk Aku terbangun dari tidur panjangku. Kukerjapkan mata berkali-kali. Kesadaranku belum pulih. Butuh waktu lima belas menit untuk membuatku tersadar sepenuhnya. Dan saat itu terjadi, mataku melebar. Aku menatap langit-langit kamar yang kutempati sembari mengingat apa yang terjadi padaku sebelumnya. Tunggu! Apa langit-langit kamarku berasbes putih? Aku mencoba memutar memoriku tentang kamar kos berukuran 10 x 8 meter yang kutempati. Ruangan kecil dengan langit-langit dari kayu triplek yang dipasang seadanya hanya untuk mencegah terjadinya kebocoran jika musim hujan datang. Kontras sekali dengan yang sekarang ada di hadapanku. Sadar akan hal itu aku bangkit terduduk. Mataku mengedar menelusuri ruangan yang menjadi tempat bermalamku kali ini. Sebuah kamar yang tergolong wah. Rapi dan mewah. Satu hal yang paling ketara adalah ruangan ini benar-benar berdesain cowok banget. Dindingnya berwarna coklat gelap yang dipadu warna cream di bagian yang lain. Tak ada meja rias. Hanya sebuah meja kerja dengan laptop dan beberapa peralatan kantor lainnya. Sebuah almari pakaian di sebelah kiri tempat tidur yang bagian pintunya terpasang cermin setinggi almari itu. Sebuah jas hitam yang tergantung di dekat almari. Aku tidak tahu itu milik siapa. Apa aku pulang bersama seorang pria tadi malam? Pertanyaan itu tiba-tiba bercokol dalam benakkku.
Aku mencoba mengingat apa yang kulakukan tadi malam. Ada perayaan besar-besaran yang kulakukan bersama sahabat dan teman kantorku. Sebenarnya tidak terlalu besar, hanya merayakan pelepasan status single Melani karena dia akan menikah minggu depan. Kami pergi ke sebuah kelab malam di pusat kota. Aku memang minum beberapa gelas wine. Tapi aku lupa semabuk apa diriku saat itu.
Aku memekik dalam hati saat kemudian menujukan pandangan ke arah selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Kulihat apa yang aku kenakan saat ini. Sebuah kemeja biru panjang yang terlihat seperti dress pendek di tubuhku yang mungil ini. Pasti pemilik sebenarnya kemeja ini berukuran besar. Dugaan itu terlewatkan begitu saja saat aku mulai menyadari bahwa ini bukan baju yang kukenakan tadi malam. Lalu dimana bajuku itu? Siapa yang menggantinya? Apa aku melakukan sesuatu yang 'ekstrim' tadi malam? Ingatanku saat mabuk cukup payah dan membuat aku gemas. Kuremas rambutku dengan kesal karena aku tak mendapatkan apapun yang mampu aku ingat secara pasti tentang kejadian setelah aku mabuk tadi malam.
Akhirnya aku memilih hengkang dari tempat tidur yang aku duduki saat ini. Aku mencoba mengitari kamar mewah ini. Namun, nihil. Tak kutemukan sepotong baju.
Saat memandangi meja kerja di sudut ruangan, mataku menyipit menangkap sebuah foto yang tergeletak di meja itu. Foto beberapa orang remaja. Tidak, lebih tepatnya foto lima orang pemuda berbaju SMA. Di belakang mereka berdiri beberapa motor sport mewah yang tidak bisa dikatakan murah. Tampang mereka bak model. Dan aku rasa mereka termasuk dalam golongan popular boys di sekolahnya. Aku bisa membayangkan bagaimana para gadis berteriak histeris ketika kelima pemuda itu lewat di depan mereka. Tiba-tiba aku merasa sangat mengenal wajah seorang pemuda yang berada paling ujung. Dengan rambut spike ala David Beckam, wajah campuran bule, dan badan yang tergolong 'wow', tinggi kekar. Aku mengenalnya, meski sekarang penampilannya lebih rapi. Ya, aku mengenalnya. Sebelah tanganku terangkat menutup mulut. Ini sulit dipercaya. Sangat tidak mungkin. Apa aku berada di kamarnya sekarang?
"Lo udah bangun?" Pertanyaanku terjawab saat sebuah suara menyapaku dari ambang pintu. Sejak kapan dia berada di situ? Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya. Aku meletakkan foto di tanganku dan meletakkan di tempat semulanya. Kuputar badanku untuk menghadap pria yang sedang berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum mengejek kepadaku dan mulai berjalan mendekat. Tau apa yang kulakukan berikutnya. Sesuatu yang biasa aku lakukan saat gugup bercampur terkejut. Berteriak sekencang-kencangnya. "Aaaaaaa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want You
RomanceCerita ini telah Selesai. Beberapa bagian cerita ada yang saya private. Untuk dapat membaca cerita secara menyeluruh silahakan follow akun saya. Terima kasih. ### Aku mencoba mengingat apa yang kulakukan tadi malam. Ada perayaan besar-besaran yang k...
