Tujuh - End

16K 757 43
                                        

Pukul delapan malam bel pintu rumahku berbunyi. Saat itu semua sedang berkumpul di ruang keluarga, semuanya tanpa terkecuali termasuk Oscar. Aku lihat dia akan menginap di rumahku malam ini.

Aku membukakan pintu. Seorang pria bermata sipit berdiri di depan pintu rumahku. Raut wajahnya lesu. Sangat berbeda ketika mereka bertemu beberapa hari yang lalu. "Edwin, lo kok bisa sampai sini?" tanyaku.

"Aku mencarimu tadi siang. Kata teman kosmu kamu pulang ke Tanggerang. Jadi, aku menyusulmu," jelasnya.

Alis kananku terangkat. Apa aku tidak salah dengar? Dia mencariku? "Ada apa? Kalau lo mau ngasih undangan kan bisa dikirim ke kantor aja." Satu hal yang terbesit dalam pikiranku adalah itu. Aku tidak dapat memikirkan dugaan lain. Tidak mungkin kan dia mencariku sampai menyusul ke rumah orang tuaku hanya untuk memintaku kembali padanya. Itu mustahil!

"Bukan...bukan itu." Edwin menggeleng cepat. Ia menyambar kedua tanganku dan menggenggamnya. "Aku tahu aku pernah mengecewakanmu. Aku pernah membuat kesalahan besar. Tapi aku berharap kamu masih mau memberiku kesempatan lagi," ucapnya penuh arti.

Pikiranku masih belum dapat menangkap maksud dari ucapan anehnya itu. "Apa maksud lo?"

"Vi, aku harap kita bisa seperti dulu lagi. Aku masih mencintaimu, aku baru menyadarinya itu. Aku harap kita bisa balikan lagi."

Aku tertegun dalam diam. Mataku melotot tak percaya. Apa yang dia katakan tadi? Dia masih mencintaiku?

"Vi... kamu mau kan?" tanyanya kembali.

Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi pada diriku. Kepalaku menggeleng menandakan penolakanku untuknya. Ini gila jika aku menerimanya. "Nggak, Win. Nggak.... Gue nggak bisa. Lebih baik lo balik ke tunangan lo. Beberapa hari lalu gue emang masih cinta sama lo. Tapi gue rasa sekarang cinta itu udah nggak ada. Ya, gue udah nggak cinta sama lo," jawabku penuh keyakinan.

"Tapi, Vi... itu pasti salah. Kamu masih cinta sama aku. Aku yakin itu." Edwin masih bersikukuh.

Aku menghentakkan kedua tanganku, melepaskan genggaman tangannya. "Gue nggak tahu apa masalah lo sama Luna. Tapi, please... jangan bawa-bawa gue. Mending lo pulang dan selesaikan masalah lo itu. Gue tahu lo cinta sama dia, bukan gue. Mending lo pulang!"

Edwin tertunduk lemah. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya seperti itu. Hanya saja aku tidak mau terlibat dalam hubungan yang rumit. Edwin akan menikah bulan depan, tidak mungkin ia tiba-tiba ingin kembali padaku kalau tidak ada alasan yang membuatnya naik darah. Dan pasti alasan itu bukan karena dia mencintaiku. Ini hanya emosi sesaat. Aku hanya jadi pelampiasan emosinya. Ya, pasti begitu.

"Beberapa hari terakhir ini aku memang merasa tidak cocok dengan Luna. Dia terlalu mengontrolku. Aku tidak tahan dengannya."

Tangan kananku terangkat menutup mulut. Rasanya aku ingin mencekik orang yang ada di depanku ini. Benar ternyata dugaanku. Tega sekali dia memperlakukanku seperti itu. aku hanya jadi pelampiasan emosinya saja? Edwin kembali membuka mulut tanpa melihatku. "Kurasa kamu benar, aku mencintainya tapi aku tidak tahan kalau diperlakukan seenaknya seperti itu."

Aku menghela napas panjang untuk mengurangi keterkejutanku. "Sebaiknya lo bicara sama Luna baik-baik. Lo harus jujur sama dia. Dan... lo pertahanin dia kalau memang benar lo cinta sama dia." Aku dapat berpikir dengan kepala dingin sekarang. Aku tidak tahan melihatnya berlama-lama di sini. Jadi, aku harus segera membuatnya menyinkir dari hadapanku atau aku akan mencekiknya.

Edwin mendongak. Wajahnya tak terlihat kusut lagi. Dia mendekatiku dan tiba-tiba memelukku. "Thanks, Vi," bisiknya. Aku mengurai pelukannya, merasa tak nyaman. Kulihat senyum mengembang di wajahnya. "Aku pulang dulu," pamitnya. Aku hanya mengangguk. Masih terasa sakit untuk berbicara. Wanita mana yang tak sakit diperlakukan seperti ini. Meski sudah tak ada rasa di hatiku tetap saja sakit.

I Want YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang