Tiga

10.9K 541 0
                                        

Aku duduk di balik meja kerjaku, resah. Sudah dua jam ini kulakukan, duduk tegak dengan tangan kanan terus bergerak mengetuk-ngetuk meja dan dalam hitungan menit kepalaku sudah terhempas di atas meja dengan mengeluarkan dentuman keras. Rafli bahkan sampai beberapa kali menjulurkan kepalanya dari balik kubikel yang membatasi mejanya dan mejaku, hanya sekedar untuk mengetahui keadaanku. "Apa lo baik-baik saja, Vi?" Aku tahu dia cukup mencemaskan keadaanku sekarang. Tapi aku tidak mau terlalu dicemaskan, jadi aku menjawabnya dengan gelengan kepala dan ucapan singkat, "I'm Ok!"

Aku tidak dapat berpikir jernih sekarang. Resah dan kacau. Aku mengutuki diriku sendiri, kebodohanku beberapa jam lalu. Rasanya aku ingin terjun saja dari lantai lima kantorku ini. Benar-benar bodoh! Bagaimana mungkin seorang Viona, sang manager perencanaan yang terkenal kalem dan ramah bisa melakukan hal seliar itu?? Aku ingin mati saja! Arrrgghh.

"Mending lo pulang saja deh, Vi. Gue rasa lo sedang nggak baik." Sebuah suara menyadarkan lamunanku tentang kejadian bodohku tadi siang. Rafli berdiri di pintu kubikelku. Dia memandangku penuh keprihatinan. Apa aku terlalu buruk sekarang ini? "Ada kejadian apa tadi siang? Lo belum cerita ke gue." Rafli menambahi sebelum aku sempat menjawab tawarannya tadi. Aku menarik napas dalam-dalam dan menyandarkan punggungku lemas pada kursi yang kududuki. Semenjak kembali ke kantor aku memang tidak bercerita apapun pada Rafli. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, masih cukup syok dengan apa yang kulakukan sebelumnya. Rafli pun seolah mengerti keadaanku dan tidak banyak berbicara. Tapi sekarang aku rasa dia sudah sangat penasaran. "Apa dia macam-macam?" tanya Rafli.

Aku mengangguk lemah dan menggeleng pelan. Bisa kulihat Rafli mengernyit heran. "Apa yang dia lakuin ke lo?" Bukan dia, tapi apa yang sudah gue lakuin ke dia? Aku tak punya cukup keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Rafli pasti akan menduga bahwa aku memang sudah cukup gila. Mungkin dia akan menyarankanku untuk mendatangi psikiater kenalannya.

Aku tidak mau menjawab pertanyaannya. Kusambar tas abu-abu yang kubeli di mall beberapa minggu lalu, dan mengucap lemah penolakanku untuk bercerita. "Gue pulang dulu."

Rafli memang teman yang baik. Dia sama sekali tidak memaksaku mengatakan yang sejujurnya. Dia membiarkanku berjalan lemah meninggalkannya.

***

Pulang di waktu sore, memang tidak terlalu menyenangkan. Sudah hampir lima belas menit aku menunggu di depan kantorku, tapi aku belum juga mendapatkan taksi. Harusnya tadi aku memesan taksi terlebih dahulu. Aku bisa saja pulang dengan naik bus atau angkutan lain, jika bukan karena ini jam pulang kantor mungkin aku akan melakukannya. Aku tidak terlalu suka naik bus di jam sibuk seperti sekarang ini. Bisa dibayangkan betapa sesak dan sumpeknya keadaan di dalam bus. Belum lagi bau-bau yang menyerbak dari berbagai sumber, mulai dari yang tersedap untuk dihirup sampai yang paling membuat eneg. Aku tidak akan cukup tahan. Aku terpaksa memilih menunggu taksi yang tak kunjung muncul.

Setelah lama berdiam diri mematung di depan kantorku, rasa bosan mulai menyergapku. Kubongkar isi tasku hingga akhirnya kutemukan HP-ku. Benda itu terkadang cukup ampuh menghilangkan kebosananku. Jari-jariku langsung saja dengan lincahnya menari-nari di atas keypad HP-ku. Aku membuka beberapa akunku di jejaring social, yang pertama kutuju adalah facebook. Sudah hampir seminggu aku tidak pernah menengok akunku itu.

Beberapa status dari teman-teman SMA-ku menyambutku. Rata-rata status tentang cinta dan kefrustasian mereka pada masalah yang sedang mereka hadapi. Aku tidak tertarik untuk menulis status yang sama. Aku hanya mengecek daftar teman yang meng-add akunku akhir-akhir ini. Tidak terlalu banyak, hanya berkisar lima orang. Tanpa pikir panjang aku mengonfirm akun mereka. Aku memang tak mau ambil pusing dalam memilih pertemanan di facebook. Alhasil, 60% temanku sama sekali aku tidak mengenalnya. Setelah itu, aku kembali ke bagian berada, mencoba mencari sesuatu yang menarik yang ditulis teman-temanku. Aku cukup dibuat  terkejut dengan sebuah status dari Wilbert the Ranbow.

Liar, but hot. Membuatku semakin tergila-gila.

Aku tidak tahu bagaimana caranya kata-kata orang di facebook dapat menarikku hingga aku akhirnya mengobrak-abrik profil orang itu. Namun, tak ada info yang pasti yang menunjukkan bahwa aku benar-benar mengenalnya. Foto profil tidak cukup meyakinkan karena hanya berupa foto Tasmania devil yang sedang mengamuk. Yang terlihat jelas dia teman Febi dan aku akan mencari informasi soal ini setibanya di kos nanti. Aku penasaran.

Pada menit berikutnya aku sudah beralih pada akun twitterku. Tapi sayangnya tidak berlangsung lama karena HP-ku berbunyi. Sebuah nomor yang tidak ada dalam phonebook-ku. Aku mengerutkan kening mengingat-ingat nomor yang baru muncul itu. Tak ada yang kuketahui pasti. Akhirnya aku menekan tombol Ok dan menempelkan HP-ku di telinga. "Hallo," sapaku agak ragu. Aku mencoba memekakan telingaku. Tak ada jawaban apapun dari seberang. Aku pun mengulang sapaanku. "Hallo, ini siapa ya?" bukan sapaan yang ramah seperti yang biasa aku lontarkan. Hening dalam beberapa detik membuatku jenuh dan memilih akan memutus sambungan telepon ini. Tiba-tiba sebuah keanehan terjadi. Terdengar suara pekikan cukup keras dari HP-ku yang memintaku untuk tidak memutus teleponnya.

"Jangan ditutup! Ini gue." Aku seperti sangat familiar dengan suara berat itu. Suara yang baru beberapa jam lalu aku dengar. Ya, aku yakin itu. Ini seperti suara... suara Oscar. Benar dia. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan supaya mendapat ketenangan berbicara dengan si kunyuk.

"Lo... lo gimana caranya bisa dapat nope gue?" Satu-satunya pertanyaan yang spontan muncul di otakku dan langsung aku utarakan.

Terdengar cekikikan ringan dari arah seberang. Sial, dia menertawakanku. "Apa ada yang lucu?" lanjutku sarkastis.

"You are, beb, lo lucu banget." Aku mendengus kesal dan mengomeli pemakaian kata 'beb' yang digunakannya. Tawa riangnya semakin menjadi-jadi mendengar omelanku. "Dasar cowok sarap!" Klik. Satu umpatan memutus sambungan teleponku. Sesaat rasa maluku hilang tergantikan oleh amarah. Oscar menelpon kembali pada menit berikutnya, tapi tak kuhiraukan. Bersamaan dengan itu sebuah taksi biru meluncur di depanku. Aku melambaikan tangan dan taksi itu berhenti. Akhirnya aku bisa pulang juga.

***

Sesampainya di kosku, aku sempat melirik sekilas kamar Febi yang tepat berada di sebelah kamar kosku. Kamarnya masih sunyi dan gelap. Rupanya gadis itu belum pulang. Aku pun bergegas masuk ke kamarku. Hari ini cukup melelahkan. Begitu masuk dalam kamarku, bau segar jeruk dari pengharum ruanganku langsung tercium. Aku melempar tasku ke atas tempat tidur. Beberapa barangku mencuat keluar dan berserakan di atas tempat tidur. Aku tidak terlalu peduli, mandi yang kubutuhkan sekarang untuk menghilangkan rasa lelahku.

***

Tiga puluh menit kemudian tubuhku sudah terasa segar sehabis mandi. Aku melihat HP-ku yang tergeletak di atas tempat tidur berkedip. Sebuah nomor tak bernama yang tadi sempat kujawab, Oscar. Ternyata dia masih sibuk menghubungiku. Aku membiarkannya sampai teleponnya terputus. Kulihat ada lima panggilan tak terjawab yang berasal dari nomor Oscar. Sebenarnya apa sih maunya cowok itu? Apa dia tidak bisa berhenti mengangguku? Aku mengabaikan semua panggilan tak terjawab itu dan beralih ke kotak pesan. Enam pesan masuk, empat dari Oscar, satu dari Rafli dan satu dari ibuku. Aku mulai membuka satu per satu pesan.

Dari Oscar

Lo gk mw angkat telpon gw?

 

Ada yg mw gw bicarain. Penting!

 

Lo ingat, barang lo ada di gw!

 

Kalo lo gk mw angkat paling gk bales sms gw!

Apa sih maunya ni anak? Sms nggak penting! Aku mengabaikan semua smsnya. Nanti saja membalasnya jika aku sedang ingin, toh tidak terlalu penting. Aku melanjutkan membuka sisa sms lainnya. Rafli hanya mengirim sms menanyakan bagaimana keadaanku sekarang. Dia sangat mengkhawatikanku. Aku segera membalas dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Sedangkan sms dari ibuku meminta agar minggu depan aku pulang ke rumah. Aku tidak tahu pasti alasan ibuku meminta aku pulang, mungkin mereka sedang kangen padaku. Setelah selesai dengan HP-ku, aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur dan mencoba untuk tidur beberapa saat.

***


I Want YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang