"Nggak boleh begitu. Emm, Mama sama Tante Bertha kan sahabatan, jadi Mama pengen kalian sahabatan juga."
"Mama nggak jodohin kita kayak di serial drama gitu kan?"
"Mama nggak segitunya juga, Rian. Jaga dia, ya."
"Tapi, kan, Ma. A..."
"Ssst. Intinya, Mama nggak mau kalau dia sakit hati. Kalau dia suka sama kamu, ya udah kamu pacarin aja supaya kamu bisa menjaganya lebih dekat."
"Iih. Ogah deh, mending nikah sama pohon!"
"Minimal, kamu jaga perasaan dia. Kalau dia suka kamu, ya paling nggak kamu jangan punya pacar dulu."
"Wah. Pahit banget masa SMA Rian!"
Ia tahu, pasti ada sesuatu yang membuat mama nya menitipkan Yesha padanya. Entah perjodohan atau sesuatu yang lain. Tetapi sepertinya bukan perjodohan, karena mamanya sudah menegaskannya. Andai kata iya, Adrian pun lebih memilih kabur dan mengejar cinta nya pada Jian.
"Kok diam? Mikirin aku, ya? Hayo," Yesha kini tersenyum lebar. Berharap ekspektasinya benar.
"Ih."
"Rian, pokoknya gue akan bikin lo suka sama gue. Gue nggak akan ngebiarin lo jatuh ke tangan orang lain," ujar Yesha dengan tatapan mantap sembari meraih pergelangan tangan Adrian.
Adrian tahu, menyimpan rahasianya dengan Jian rapat-rapat akan jauh lebih baik daripada membuka hubungannya, dan membiarkan beberapa orang yang berarti di hidup nya menjadi terluka.
Setelah hampir setiap hari dekat dengan gadis ini, Adrian jadi paham bahwa sebenarnya Yesha adalah gadis baik dan semua orang ia anggap teman. Sejauh mata memandang dan hati bicara, menurut Adrian, Yesha adalah gadis yang sempurna.
Biarlah masa SMA-ku sedikit suram karena tak mengenal pacaran. Karena perasaan bukan remote control yang bisa di arahkan sesuka hati. Perasaan berhak memilih ke mana ia akan berlabuh, pikir Adrian.
"Pulang aja, yuk," ajak Adrian.
Yesha pun mengangguk senang. "Mau pulang atau ke mana pun, asalkan sama lo, gue mau, deh."
"Ke kuburan mau?"
"Mau, deh!"
Yesha terdiam sejenak, kemudian menatap Adrian dengan serius. "Yang gua nggak mau, lo pergi sendiri tanpa gue. Keberadaan lo di samping gue bikin jiwa gue terasa utuh."
Adrian tersenyum, tanpa mengindahkan perkataan Yesha yang sebenarnya menyimpan sejuta makna tersembunyi. Yang ia inginkan hanya mengantarkan gadis ini ke rumah, dan dengan begitu ia bisa lebih cepat menemui Jian.
.
.
.
.
.
Aku tau kamu lelaki baik, jadi aku memilih mu.
- Adeeva Afsheen Myesha

KAMU SEDANG MEMBACA
Happiness || ellestrwbrry
Lãng mạnParas cantik Yesha selalu tersenyum ceria. Keriangan dan prestasinya semakin membuatnya memesona. Ia sempurna. Dengan segala yang ia punya, hidup nya pasti bahagia bukan? Keluarga dan rumah hanya replika belaka. Sang kekasih hati pun tak kunjung me...