0.6

50 11 2
                                    

Dua gadis itu tampak kelelahan setelah empat jam non-stop berada di Pondok Indah Mall. Beberapa barang hasil incaran mereka cukup sukses membuat mereka lelah dan lapar. Namun bagi Yesha, semuanya belum mampu membuat beban yang dirasakannya berkurang. Semua beban itu masih sama. Dan sepertinya akan selalu sama.

Kini mereka sudah berada di foodcourt mall itu. Sambil menunggu ramen pesanan Yesha dan sushi pesanan Zellya, mereka berbincang sekilas sambil melepas lelah.

"Lo habisin berapa buat belanja tadi?" tanya Zellya yang terlihat kaget dengan tujuh kantong belajaan temannya ini.

"Cuma sejuta seteng..."

"What?" Zellya terpekik kaget. Belum selesai Yesha mengucapkan, Zellya sudah kaget dibuatnya.

"Kenapa kaget, sih? Banyak, kok, yang belanjanya lebih parah dari gue," protes Yesha yang sebal dengan tatapan Zellya.

"Masalahnya, lo beli semua barang yang sama sekali nggak penting. Buat apa lo beli piring ginian? Buat pecahin kepala lo yang agak nggak waras, ya? Buat apa beli parfum, padahal di rumah lo masih ada tiga puluh botol?"

"Gue..."

Zellya menarik napas panjang. Sambil memandangi sahabatnya yang kini terdiam dan tertunduk, ia tahu bahwa Yesha menyimpan suatu kesedihan mendalam. Sesuatu yang membuat Yesha hari ini dalam kondisi yang tak semenyenangkan barang belanjaannya. Yang membuat gadis itu melupakan kesedihannya lewat semua barang yang ia beli.

"Lo kenapa, Sha? Cerita sama gue..." Zellya yang semula duduk berhadapan dengan Yesha, kini beralih ke sebelah kanan Yesha dan merangkul sahabatnya yang mati-matian menahan air mata.

"Nggak apa-apa..."

Zellya memutar bola matanya. Kesal.

"Sha, berapa tahun kita sahabatan? Berapa tahun kita saling tahu satu sama lain? Di saat kondisi begini, lo bilang kalau lo nggak apa-apa? Kalimat itu nggak sesuai dengan apa yang gue lihat sekarang," tegas Zellya.

"Gue... emang nggak baik-baik aja."

"Makanya, cerita ke gue, Sha..."

Yesha menarik napasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan apa yang ia dengar di rumahnya. Tadi siang, saat ia beranjak dari kamar dan melewati ruang kerja papa tirinya, Yesha mendengar percakapan antara mamanya dengan Om Andri, panggilannya pada papa tirinya yang selama ini tak bisa menerimanya dan tak sudi dipanggil 'Papa' oleh Yesha.

"Mas? Aku mau minta sesuatu."

"Apa? Katakanlah, pasti aku akan membelikannya."

"Ba-"

"Tapi kalau permintaanmu itu mengenai anak gadismu itu, maaf, aku nggak bisa mengabulkannya."

Bertha terdiam sejenak kemudian kembali menatap suaminya yang kini tengah menatapnya garang.

"Kenapa, Mas? Kamu bilang ini liburan keluarga, kan?"

"Ya. Keluarga. Aku, kamu, dan Lessa. Hanya kita saja!"
Andri menyeringai ganas ke arah istrinya.

"Tapi dia anakku, Mas. Seharusnya jika kamu menerimaku, kamu juga bisa menerimanya karena aku dan Yesha itu satu paket. Cobalah untuk menerimanya," pinta Bertha dengan mata berkaca-kaca.

"Hah? Sejak awal, aku hanya menerima kamu. Aku nggak menerima paket yang berisi anakmu itu. Sejak awal kamu pun setuju, kan? Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu dulu menerimaku hanya karena saat itu kamu miskin dan tertindas!"

Wanita itu menggeleng. Gelenggannya tampak tegas dan kuat.

"Aku menerima kamu, karena aku memang tulus mencintai kamu, Mas."

"Kalau kamu mencintaiku, jangan pernah seret nama anakmu itu ke kehidupan pribadiku! Aku menerima kamu. Tapi aku tak menerima paket yang menjadi satu dengan kamu. Karena jika aku menerima anak kamu, aku turut menyeret masa lalu kelammu dalam hidupku!" Andri membentak Bertha, seraya mengepalkan tangannya.

Air mata yang sedari tadi Yesha tahan, kini jatuh juga. Air mata yang membuatnya menjadi gadis terlemah. Air mata yang selalu jatuh karena tak ada keberuntungan dalam hidupnya.

Tak hanya Yesha, Zellya kini menangis sembari memeluk Yesha. Tak peduli pandangan orang-orang yang mungkin berpikir bahwa mereka lesbian. Zellya tak peduli.

"Apa gue begitu nggak berharga sampai papa tiri gue nolak gue? Endra juga punya papa tiri, tapi papa tirinya sayang banget sama dia. Kenapa papa tiri gue nggak bisa gitu?" Yesha menangis tersedu sembari berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

"Kenapa dia malah bikin gue jadi orang paling hina di dunia? Sampai nyokap gue sendiri pun rela jauhin gue demi dia..."

"Ssst... percaya atau nggak, nyokap lo tuh sayang banget sama lo. Dan jangan pernah bilang kalau hidup lo hina dan menjijikkan," Zellya mengusap pundak sahabatnya itu. Ia tak peduli pada lengan bajunya yang kini basah karena air mata Yesha. Yang ia pedulikan, hanya kelegaan yang dimiliki sahabatnya.

"Lo harus tau, jangan karena satu orang, lo merasa tersisih, tersisih di dalam rumah bukan berarti tersisih di luar rumah, kan?"

Yesha menengadahkan kepalanya, menatap Zellya yang matanya sembap, sama seperti dirinya.

"Seenggaknya lo masih punya orang di luar rumah yang bisa bikin lo ngerasa berharga. Ada gue, Adrian, ada teman-teman yang lain. Lo harus tunjukkin prestasi dan keceriaan lo, seperti biasanya."

Benar perkataan Zellya. Jangan hanya karena satu orang di dalam rumah, hidupnya stagnan di satu titik. Ia harus mencoba ke luar dari zona tersebut dan mencoba melangkah satu demi satu.

"Zell, makasih, ya... Gue beruntung punya sahabat sebaik lo. Gue nangis, lo ikut nangis," ucap Yesha tulus sambil menyerahkan selembar tisu dari tasnya kepada Zellya.

"Gue juga beruntung, punya sahabat sekuat lo."

Setidaknya, kalau gue bisa banggain orang-orang luar, masih ada yang anggap gue berarti. Mungkin setelah gue berhasil, gue bisa bikin orang-orang di dalam rumah lebih menghargai gue. Mungkin, Yesha menghibur dirinya sendiri dalam hati.

Karena gadis itu tahu, Tuhan memberi kepercayaan padanya untuk menanggung beban berat ini karena ia bisa, karena ia sanggup. Karena ia bukan seorang pengecut yang satu menit kemudian mengeluh mengharap belas kasihan.

***
hai! Gimana menurut kalian di part kali ini? Untuk saran dan pengalaman bisa kalian tulis di kolom comment.
Jangan lupa vote ya! Biar aku semangat update.
-ar

Beautiful goodbye-Chen EXO.

Happiness || ellestrwbrryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang