Pagi - pagi sekali, Dimas telah menginjakkan kakinya di gedung sekolah. Keadaan yang begitu sepi membuatnya leluasa berjalan di koridor kelasnya.
Dimas sejujurnya juga tidak tahu, apa tujuannya datang pagi - pagi buta begini. Pak satpam sekolah saja terheran, baru pertama kalinya ada siswa yang datang jam 5.30 pagi. Menurutnya, catatan waktu siswa paling awal tiba di sini adalah pukul 6.05. Namun, Dimas dengan mudah mematahkan rekor tersebut.
Dimas tiba di kelasnya. Hening. Hanya ada sebuah lampu penerangan yang tidak terlalu terang.
Dimas menarik bangku tempatnya duduk. Lalu, ia mengeluarkan sebuah buku catatan. Ia akan mulai menulis berbagai bentuk soal matematika yang pada umumnya dibenci semua umat, tapi pengecualian untuk dirinya.
Bukan perihal kecil bagi Dimas agar bisa menyukai pelajaran memusingkan ini. Ia sudah melatih diri sejak SD, berlanjut hingga sekarang. Dengan bimbingan sang ayah, bantuan belajar tambahan atau kursus, juga kemauan keras membuatnya terbiasa mengerjakan soal - soal rumit tersebut. Meskipun terkadang terdapat beberapa bagian yang tak ia mengerti, Dimas akan bertanya pada yang lebih paham, meminta orang tersebut menjabarkannya dengan jelas, hingga ia bisa mendapat jawaban yang memuaskan.
Sudah berlalu 15 menit dari jam kedatangannya. Dimas mengaktifkan ponselnya, hanya untuk sekedar memeriksa jam berapa sekarang.
"05.47. Hmmm," gumam cowok itu.
Namun, ketenangannya buyar ketika manusia berbadan tambun bergelar 'sahabatnya' memekik nyaring, hingga menggema ke sekeliling ruangan.
"ASSALA'MUALAIKUM!"
Dimas menggeram kesal. Kenapa harus ada makhluk seperti Jaco menghampirinya sepagi ini? Padahal, ia telah bersusah payah mengumpulkan konsennya. Kini, semua itu terpecah dikarenakan sahabatnya itu.
"Wa'alaikumussalam! Lo ngapain sih di sini?" tanya Dimas sinis.
"Eh, Dimas," Jaco hanya menyengir, kemudian duduk di samping Dimas dan menaruh tasnya di meja, "gue di sini pengin sekolah."
"Nggak pake toa masuk ke kelasnya bisa kan?" balas Dimas.
"Nggak."
Dimas menghela napas sebal. Kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. Tapi, lagi - lagi diinterupsi oleh kebisingan Jaco.
"Wah, sudah belajar aja nih, Bosku. Ajarin dong," ujar Jaco melihat buku catatan Dimas berisi banyak rumus. Sekejap, pikirannya berputar, "gak jadi, deh."
Dimas berdecak, "lemah."
Jaco tak menghiraukan cibiran Dimas. Ia kembali bertanya, "kok lo nggak nungguin gue tadi? Kan gue mau numpang lagi."
"Emang lo siapa gue?"
"Gue?" Jaco menunjuk dirinya sendiri. "Gue sahabat lo yang selalu bersama - sama dengan lo susah maupun senang," terang Jaco.
"Ya, ya. Gua tau itu. Ada julukan lain?" tanya Dimas.
"Hmmm..." Jaco mengelus tengkuknya, "Ada! Manusia tertampan sejagat bumi."
"Jaco," ucap Dimas.
"Iya, Dim, kenapa?"
"Jangan memutar balikkan fakta ya, nak. Dosa. Sadar muka sana, ngaca,"
"Sementang cakep, songong bener dah lu!" ujar Jaco tak terima.
Dimas terbahak, "ampun om!"
Mood belajarnya hilang setelah Jaco datang. Bukan berarti Dimas tak bisa berkonsentrasi lagi, tapi ia hanya malas. Akhirnya, kedua cowok tersebut bersama - sama mengasyikkan diri. Bercanda bersama sangat tepat untuk mendeskripsikan kegiatan apa yang tengah mereka perbuat saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOLLANDAYA
Novela Juvenil[KALO BENERAN CINTA, BUKTIIN SEKARANG JUGA!] "Aku bahagia kok, liat kamu senyum. Walau bukan aku penyebabnya." Kalimat terkeramat yang tidak akan pernah Dimas ucapkan seumur hidupnya! Selamanya! Siapa yang bahagia melihat orang yang disayang, tapi...
