Chapter 8

15 0 0
                                        

Pertemuan itu, hal yang mustahil .

Kebetulan, atau Rencana lain dari Tuhan untuknya.

Menginjak usia pernikahan Dini ke 2 tahun, Dini mulai sering gelisah. Dini ingin menyudahi pernikahannya namun tak tahu caranya. Dini bagai bom waktu untuk rumah tangganya..

Sesekali ketika ia sedang bersedih, Dini masih sering teringat sosok Hisyam dalam benaknya. Hisyam yang selalu tersenyum dihadapannya, Hisyam yang selalu menemaninya disetiap musim, Hisyam yang selalu lebih mengerti dia dari pada dirinya sendiri. Dini selalu bertanya dalam hati "mengapa bayang-bayang Hisyam terus hadir dalam ingatan?"

Ia gusar tanpa sebab, sontak keinginan untuk bisa bertemu dengan Hisyam kembali muncul. Rasa rindu yang teramat sangat mulai perlahan hadir.

pikirnya "aku sudah bisa melupakannya, namun kenapa rindu ini masih ada?" Saat itu Dini merasa bahwa merindukan Hisyam adalah kesalahan yang harus ia hapuskan. Namun Dini tak bisa menghentikan itu, karena rindu itu tak pernah pergi sejak 9 tahun lalu.

Sedikit informasi mengenai seorang Hisyam, saat ini Hisyam juga sudah menikah, dan memiliki 2 orang putra. Dengan perempuan yang Dini pun mengenalnya.

Mungkin bisa kalian bayangkan , bagaimana jika kalian berada diposisi Dini sekarang ? Betapa sedih, dan sakitnya, menahan rindu yang teramat sangat sendirian.

Dini masih sangat ingin bertemu dengan Hisyam. Setidaknya Dini ingin membuat hatinya sedikit lega jika ia bisa menyampaikan apa isi hatinya sekarang. Bagaimana kerinduannya terhadap Hisyam sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang.

Dini sering berbelanja di minimarket dekat rumahnya. Dini biasa berjalan kaki untuk menuju ke minimarket tersebut. Namun, ketika Dini hendak masuk ke dalam minimarket tersebut ia mendengar seseorang memanggil namanya. "Dini"

Suara itu, Dini sangat mengenali suara tersebut. Suara itu, suara yang ia rindukan 9 tahun terakhir. suara itu suara yang selalu ingin ia dengar. Dan suara itu sekarang menyebut namanya "Dini".

Dini membalikkan badannya mencari sipemilik suara itu. Dini sedikit terkejut, namun Dini tidak pernah bisa menyembunyikan raut bahagia nya saat melihat siapa pemilik suara tersebut. "Hisyam" gumamnya pelan sembari tersenyum bahagia namun bercampur dengan banyak keraguan.

Tidak percaya penglihatannya melihat seseorang yang 9 tahun mengobrak abrik ruang hatinya. Tidak percaya penglihatannya akan seorang Hisyam yang masih sangat ia rindukan. Namun orang itu sekarang berada dihadapannya. Dini refleks mendekat dan ingin berhambur sembari memeluk Hisyam erat.

Namun akal sehat dan naluri nya berkata, bahwa Hisyam dihadapannya bukan lagi siapa-siapa. Bahwa Mungkin Dini yang dihadapan Hisyam bukan lagi siapa-siapa baginya.

Sambil mencoba menyembunyikan rona bahagia diwajahnya, menekan kerinduan yang teramat sangat dalam dadanya. Dini menjawab sapaan Hisyam. "Hai, Hisyam.. Apa kabar ?" Katanya dengan nada ditekan sebiasa mungkin.

Hisyam menjawab "Aku baik, kamu apa kabar?" Tanya Hisyam kembali .
"Aku juga baik, kamu ngapain disini?" Tanya Dini sedikit dengan kebingungan, bagaimana Bisa Hisyam yang tidak pernah ditemuinya bisa ada di minimarket dekat dengan rumahnya. Begitu pikirnya.

Saat mendapat pertanyaan itu, Hisyam sedikit terbata-bata menjawab sembari seperti mencoba mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Dini.

Rasa cinta , sayang, dan rindu yang Dini pendam seakan menyeruak berhamburan menuju permukaan. Hisyam dan Dini bertemu kembali, setelah 9 tahun lamanya. 9 tahun, bagi sebagian orang hanya sebatas angka tak berarti. Namun bagi Dini, 9 tahun adalah waktu yang cukup lama baginya menyimpan semua rasa itu untuk Hisyam.

After 9th dan rasa itu masih adaWhere stories live. Discover now