Dipertemukan oleh Tuhan ...
Untuk sesuatu hal yang telah Dini rindukan , sejak 9 tahun silam.
Tuhan menjawab itu sekarang. Ketika hatinya telah siap menerima kepastian, bahkan kepahitan.
Masih dihadapan Hisyam, Dini memandangnya dengan tatapan seakan ini waktu yang hanya ia miliki satu kali seumur hidupnya.
Dini dan Hisyam sedikit bergeser dari depan pintu minimarket untuk mencari tempat berbincang yang sedikit privat dan nyaman bagi mereka. Duduk saling berhadapan dan Hisyam membuka sebuah pembicaraan.
"Udah lama ya kita ga ketemu, sekarang kamu banyak berubah." Kata Hisyam.
Dini mengulas senyuman dibibirnya sembari berkata "Iya, udah lama kita ga ketemu. Eh iya, apa kabar istri? Anak berapa?"
Hatinya perih ketika kata itu terucap, berusaha mempertahankan senyuman lebar itu tak semudah yang terlihat. Dini berusaha untuk membuat obrolan saat itu menjadi seakrab, dan sebiasa mungkin.
"Din, aku akan bilang ini sama kamu.. aku ga mau bahas apa-apa soal itu. Maaf ya.." kata Hisyam dengan nada sedikit memohon.
"Oh.. maaf, oke aku ga akan tanya tanya soal itu." Jawab Dini dengan cepat.
Dini seraya merubah kecanggunan sesaat dengan sedikit candaan. "Diem-diem nyariin aku ya?" Sambil sedikit tertawa pelan. Berharap Hisyam tidak menyadari perih serta luka dihatinya.
Hisyam pun menjawab dengan tawa yang cukup keras. "Hahahahaha, sebenernya ga pernah lupa.." kata Hisyam.
"Bohong banget, tahun tuh udah kelewat berapa abad ?" Kata Dini sambil menampik pernyataan Hisyam, yang baginya. Itu hanya gurauan semata.
"Iya, tapi sakitnya masih kerasa." Kata Hisyam perlahan, dan senyuman diwajahnya pun perlahan menghilang.
"Aku minta maaf, kalau dulu aku salah mutusin kamu. Bikin kamu sakit, Dan memang aku salah. Maafin aku.." kata Dini sembari menundukkan kepala sambil menahan air mata yang hendak berlomba untuk menetes.
"Din, kamu itu dulu pertama dan terakhir buat aku. Jadi aku serius, pas kita selesai, aku ga pernah lagi percaya sama perempuan. Aku pacaran juga engga, suka perempuan selain kamu ngga bisa. Mati rasa aku." Jelas Hisyam panjang dengan penuh kesungguhan.
Dini kembali bertanya kepada Hisyam "Kenapa kamu ga nyariin aku dari dulu?"
"Udah, di awal kamu ga pernah mau ketemu aku. Aku minta tolong siapapun teman dekat kamu saat itu, untuk sampein aku nunggu kamu. Aku sering lewat depan rumah kamu, bahkan semua yang kamu bilang saat terakhir kita putus ngga ada yang aku lupa. Sedikit aja, ga ada yang pernah aku lupa tentang kamu. Dulu aku janji ajak kamu serius dan akan nikahin kamu, dan itu ngga pernah berubah."
Hisyam menjelaskan panjang lebar .
Sembari menatap Dini dalam dalam, Hisyam berkata. "Din, aku mau bilang ke kamu.. maaf banget kalau aku harus bilang ini sekarang. Tapi aku ngga pernah jatuh cinta sejatuh cintanya aku ke kamu Dini. Aku jatuh sejatuhnya sama kamu."
Dini bingung harus menjawab apa atas pernyataan itu. "Aku pikir masa-masa itu udah aku tinggal jauh sekali dibelakang. Tapi sekarang, kamu dihadapan aku. Aku cuma bisa bilang, terimakasih banyak udah mau nyari aku lagi." Sambil tersenyum kecut, merasakan perih pedih juga rasa senang yang sedikit dalam hatinya.
"Aku akan bilang sekarang, mungkin ini saatnya. Menyelesaikan apa yang dulu belum kita selesaikan. Hisyam, jujur sejak dulu aku juga ngga pernah bisa lupa sama kamu. Bahkan semua tentang kamu, ngga ada sedikitpun yang aku lupa. Aku selalu rindu kamu, merindukan kamu Hisyam ku 11 tahun lalu. Aku sempat mencari, tapi aku tidak pernah menemukan jalan. Jalanku selalu terhalang banyaknya rintangan. Aku tidak pernah sampai bahkan untuk melihatmu sebentar saja. Hanya melihat. Aku tidak memiliki kesempatan itu." Dini memberika penjelasan akan apa yang ia rasa dan ia pendam selama 9 tahun terakhir. Apa yang ia rasakan terhadap Hisyam, ternyata bukan hanya rasa cinta anak remaja pada masanya. Rasa itu jauh lebih dalam dari sebelumnya, jauh sangat dalam dari apa yang ia perkirakan.
Sesaat, Dini tersadar. Bahwa ia dan Hisyam sekarang. Tak ubahnya 2 orang asing yang dipertemukan kembali setelah 9 tahun berlalu. Mereka, adalah korban ketidakselarasan antara harapan dan kenyataan. Mereka, dipisahkan oleh waktu 9 tahun terakhir.
Namun rasa yang Hisyam dan Dini miliki satu sama lain, tak lekang oleh waktu.
Waktu boleh memisahkan raga mereka, namun tak bisa memisahkan rasa yang ada dalam hati mereka.
YOU ARE READING
After 9th dan rasa itu masih ada
Não FicçãoCerita satu ini masih kelanjutan cerita sebelumnya yang berjudul "perjuangan melepasmu" Seorang perempuan yang ternyata masih Berharap bisa berbincang, bercerita banyak hal dengan mantan kekasih terindahnya. Setelah 5 tahun putus dan hatinya hancu...
